Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Jumat, 19 Juni 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Gugatan Ambang Batas Kandas : Filosofi Mahkamah Konstitusi Jauh Panggang Dari Api

Rhomi
Selasa, 12 Juli 2022 | 18:47 WIB
SHARE

Tangerangupdate.com (12/07/2022) —  Semenjak ketentuan Pasal 222 Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum diundangkan, Pasal ini memang penuh akan intrik-intrik politik dan tendensius bermasalah. Ketentuan yang mengatur tentang ambang batas (presidential treasolt) 20 persen sebagai syarat pengusungan calon presiden dan wakil presiden bertubi-tubi digugat di Mahkamah Konstitusi.

Hingga hari ini diakumulasikan kurang lebih 19 kali gugatan judicial review di Mahkamah Konstitusi yang berujung kandas dan mengecewakan. Sebab selalu saja ditolak oleh Mahkamah, mulai dari alasan kedudukan hukum (legal standing) maupun sisi materilnya yang dinilai tak beralasan secara hukum.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Padahal secara teorik dan kontekstual ilmu hukum, Ketentuan ambang batas atau presidential threshold adalah instrumen hukum yang menyalahi akal sehat. Bagaimana tidak,  dengan adanya ketentuan ini jelas menciptakan diskriminasi hukum bagi partai-partai politik lainnya. Selain itu, ketentuan a quo secara nyata meruntuhkan sendi-sendi kehidupan demokratis, mencekal anak bangsa untuk berkontribusi membangun bangsa dan negara melalui kesempatan menjadi capres/cawapres dan yang paling parahnya ketentuan ambang batas ini sebagaimana sudah kita saksikan sebelumnya menyebabkan polarisasi dan pembelahan di antara anak bangsa pada setiap momentum pemilu yang sangat mencengangkan dan miris.

Kita kemudian mempertanyakan apa yang menjadi rasio residendi Mahkamah Kontitusi untuk menolak gugatan ambang batas ini. Padahal sudah jelas-jelas rakyat berkali-bekali mengajukan keberatan terhadap adanya ambang batas 20 persen pencalonan presiden dan atau wakil presiden. Disamping itu,  menurut penulis bahwasanya ketika menelaah dengan seksama tentang Filosofis Hakim Mahkamah maupun keberadaan institusi Mahkamah konstitusi,  sedikitnya ada dua hal mendasar yang harus diresapi.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Pertama, hakim yang menduduki jabatan sebagai hakim konstitusi adalah sebagai pengawal konstitusi (the guardient of the constitution), arti mendasar sebagai seorang pengawal konstitusi. Maka layaknya sebagai pengawal,  Mahkamah Konstitusi harus betul-betul mengawal agar Undang-Undang yang dibuat oleh institusi DPR tidak menyalahi ketentuan yang lebih tinggi atau konstitusi bernegara.  Kalau kita melihat berkali-kali ambang batas digugat oleh warga negara dari berbagai latar belakang, yang hari ini juga diajukan oleh PBB maupun institusi negara DPD dan hasilnya kandas ditolak Mahkamah Konstitusi, tentu mengindikasikan bahwa ketentuan a quo memiliki persoalan yang serius yang bukan hanya sekadar dimaknai bertentangan atau tidak bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi. Bahwa apa yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi yang oleh kajian politis kita dapat menyebutnya sebagai behind the scene, ada yang tersembunyi dibalik sikap dan putusan Mahkamah Konstitusi ini yang selalu saja kaku dan jumud hingga menolak gugatan ambang batas. Sehingga menukil pendapat Yusril Ihza Mahendra perihal dewasa ini Mahkamah Konstitusi bukan lagi the guardian of constitution, melainkan menjadi the guardian of oligarchy.

Sesuatu yang tersembunyi atau  behind the scene yang selama ini menghantui benak rakyat indonesia,  tentang keputusan Mahkamah ini hanya untuk mengawal kepentingan segelintir orang yakni oligark-oligark. Dan keadaan ini sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab tidak ada harapan bagi para pencari keadilan (justice seekers) untuk menaruh harapan tegaknya hukum dan keadilan melalui Mahkamah Konstitusi.

Kedua, hal yang tidak luput pula, ada hal fundamental yang melekat pada jabatan hakim Mahkamah Konstitusi yaitu seorang negarawan. Ini adalah pra syarat mutlak untuk menjadi seorang hakim konstitusi yang ditegaskan di dalam Pasal 24C ayat (5) UUD 1945 “bahwa Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak merangkap sebagai pejabat negara”.

BACA JUGA:  Tantangan Partai Politik Atas Putusan MK NO. 135/PUU-XXII/2024

Konsepsi kenegarawan ini menurut salah satu karya Plato adalah The Statesman atau Politikos. Karya tersebut berisi dialog antara Socrates dan muridnya yang bernama Theodorus yang bermaksud menyajikan pemikiran bahwa untuk memerintah diperlukan kemampuan khusus (gnosis) yang hanya dimiliki oleh negarawan, yaitu kemampuan mengatur dengan adil dan baik serta mengutamakan kepentingan warga negara.

Kiranya konsepsi plato ini perlu dibaca oleh hakim Mahkamah Konstitusi, agar tidak kaku dan jumud dalam melihat hukum yang ada. Hakim Mahkamah Konstitusi harus melepaskan ikatan yang mengikatnya dari semua kepentingan terselubung di belakangnya. Mahkamah harus adil dalam memutus dengan orientasi untuk kepentingan segenap warga negara.

Atau juga hakim Mahkamah perlu mengilhami ucapan filsuf Taverne yang pernah mengatakan “Berikanlah aku seorang jaksa yang jujur ​​dan cerdas, berikanlah aku seorang hakim yang jujur ​​dan cerdas, berikanlah aku polisi jujur ​​dan cerdas maka dengan undang-undang paling buruk pun, penegakkan hukum akan menghasilkan putusan yang adil. Agar putusan-putusan Mahkamah Konstitusi tidaklah kaku yang hanya bersembunyi dengan alasan open legal policy. Padahal dalam banyak kesempatan putusan-putusan Mahkamah Konstitusi banyak membentuk norma baru atau bertindak sebagai positive legislator.

Gugatan demi gugatan yang dilayangkan terhadap ketentuan Pasal 222 UU Pemilu tentang ambang batas dari 20  persen menjadi nol Persen ini seharusnya disadari bahwa melukai rasa keadilan warga negara. Dalam kajian sosiologis hukum dengan besarnya kuantitas gugatan terhadap Pasal a quo seharusnya dapat menjadi pijakan bagi Mahkamah Konstitusi agar tidak mempertahankan pendiriannya yang statis tetapi lebih mengedepankan nilai-nilai yang hidup dalam perkembangan dinamika ketatanegaraan.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Sedikit kiranya juga yang tidak luput dalam benak penulis,  bahwasanya salah satu alasan Mahkamah Konstitusi menolak gugatan judicial review yang diajukan oleh ketum PBB. Bahwa adanya ambang batas atau presidential threshold 20 persen adalah sejalan untuk memperkuat sistem presidensial. Alasan ini menurut hemat penulis merupakan sebuah kesesatan (misleading) logika yang dibangun Mahkamah.  Memperkuat konsep presidensial dalam ilmu ketatanegaraan bukan terletak pada adanya ambang batas. Dengan mekanisme trias politika atau pembagian kekuasaan yang diadopsi dalam konstitusi kita itulah cukup menjelaskan dan mengafirmasi kekuatan sistem presidensial di Indonesia begitu juga dengan adanya ketentuan di dalam UUD 1945 yang menyatakan Presiden sebagai kepala pemerintahan. Itu sudah jelas menunjukan bahwa semua landasan tersebut susah cukup menjadi pijakan konstitusional dalam memperkuat sistem presidensial. Sehingga dalam hal ini tidak ada relevansi antara keberadaan pranata hukum Ambang batas/presidential threshold untuk memperkuat sistem presidensial. Dan terakhir  dapat dilihat, yang ada hanyalah kesesatan (misleading) Mahkamah Konstitusi melalui dalil alasan memperkuat sistem presidensial menunjukkan sikap Mahkamah Konstitusi yang mencampur adukan logika hukum dan Logika politik.

Penulis: La Ode Nofal (Sekertaris Umum Pemerhati Hukum Indonesia)

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

Terpopuler

Foto: proses relokasi salah satu pedagang di Cisoka | Dok. Tangerangupdate.com

Pemkab Tangerang Relokasi Puluhan Pedagang eks TPPS ke Pasar Tradisional Cisoka

Foto: ketenggangan antara pedagang dan Satpol PP Kabupaten Tangerang sesaat sebelum proses penertiban Pasar Cisoka | Dok. Tangerangupdate.com

Pedagang Pasar Cisoka Tolak Penertiban, Situasi Sempat Memanas

Foto tangkapan layar dari Instagram Pengacara Firdaus Oiwobo saat melaporkan Tiyo Ardianto ke Polres Tangsel atas tuduhan penghinaan Presiden dan Wakil Presiden serta Program MBG / Dok. Tu

Firdaus Oiwobo Ungkap Alasan Laporkan Tiyo Ardianto ke Polres Tangsel, Singgung Dugaan Penghinaan Prabowo dan Program MBG

Foto: Dok. Tangerangupdate.com

Tidak Memiliki Organisasi BEM, Universitas Pamulang Larang Penggunaan Nama BEM UNPAM

Foto: Ilustrasi/Freepik

Bocah 5 Tahun Diduga Jadi Korban Pelecehan Seksual Pria Lansia di Balaraja

Foto: Istimewa

Masih Berstatus Pelajar, Pemuda Ini Diduga Terlibat 20 Aksi Pencurian di Tangerang

Berita Terkait

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Foto : ilustrasi/freepik
Opini

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Iduladha Sebagai Jalan Refleksi Sosial dan Spiritual

Foto : Kopi arabika (kiri) & Kopi Robusta (kanan) | Dok. TU
Opini

Jangan Salah Pilih! Kenali Beda Kandungan Arabika dan Robusta Serta Takaran Pas Agar Kopi Jadi Obat, Bukan Racun

Ahmad Priatna, Pemuda Asli Cipondoh | Dok. Pribadi
Opini

Cipondoh Tenggelam Lagi: Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?

Foto: Irtiakhul Afifah, Mahasiswi Universitas Pamulang | Dok. Pribadi
Opini

Dilema Kelas Menengah: Menjadi Tulang Punggung atau Sapi Perah Pajak?

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Tiga Pemikir Revolusi Iran dan Jejaknya dalam Konflik Global

Jangan Lewatkan

Foto tangkapan layar dari Instagram Pengacara Firdaus Oiwobo saat melaporkan Tiyo Ardianto ke Polres Tangsel atas tuduhan penghinaan Presiden dan Wakil Presiden serta Program MBG / Dok. Tu

Firdaus Oiwobo Ungkap Alasan Laporkan Tiyo Ardianto ke Polres Tangsel, Singgung Dugaan Penghinaan Prabowo dan Program MBG

Kamis, 18 Juni 2026
Foto: Ilustrasi/Freepik

Bocah 5 Tahun Diduga Jadi Korban Pelecehan Seksual Pria Lansia di Balaraja

Kamis, 18 Juni 2026
Ket. Gambar : Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto yang dilaporkan oleh Firdaus oiwobo ke Polres Tangsel / Foto : Tangkapan Layar Instagram @tiyoardianto

Mantan Presma UGM Tiyo Ardianto Dilaporkan ke Polres Tangsel, Polisi Belum Ungkap Materi Aduan

Rabu, 17 Juni 2026
Foto: Satlantas Polresta Tangerang

Sopir Truk Tabrak Lari Kak Herman Ngaku Kabur Karena Takut Diamuk Massa

Sabtu, 13 Juni 2026
Foto : Dok. Tangerangupdate.com

Orang Tua Murid Laporkan Rektor UIN Jakarta ke Ombudsman dan BKN, Soroti Kericuhan di SD Islam Pembangunan

Rabu, 17 Juni 2026
Foto: Istimewa

Masih Berstatus Pelajar, Pemuda Ini Diduga Terlibat 20 Aksi Pencurian di Tangerang

Senin, 15 Juni 2026
Foto: Dok. Tangerangupdate.com

Tidak Memiliki Organisasi BEM, Universitas Pamulang Larang Penggunaan Nama BEM UNPAM

Kamis, 18 Juni 2026
Foto: poster promosi Pasar Laris Seiman Sentiong yang dipermasalahkan kalangan buruh | Dok. Istimewa

Buruh Kecam Spanduk Promosi Pasar Laris Saiman Sentiong, Dinilai Rendahkan Pekerja

Senin, 15 Juni 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp