Tangerangupdate.com – Generasi Z kini tidak lagi hanya dikenal sebagai generasi yang akrab dengan media sosial, tren digital, dan gaya hidup cepat. Di balik kebiasaan nongkrong, mengikuti tren, dan aktif di dunia digital, muncul wajah baru yang menarik untuk diperhatikan: Gen Z mulai melirik dunia investasi. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara berpikir anak muda, dari sekadar menikmati uang untuk kebutuhan hari ini menjadi lebih sadar akan pentingnya menyiapkan masa depan.
Kesadaran ini bukan muncul tanpa alasan. Biaya hidup yang semakin meningkat, keinginan untuk mandiri secara finansial, serta mudahnya akses informasi membuat banyak anak muda mulai mencari cara agar uang mereka tidak hanya habis untuk konsumsi. Jika dulu uang saku atau gaji pertama lebih sering diarahkan untuk hiburan, belanja, dan nongkrong, kini sebagian Gen Z mulai menyisihkan dana untuk menabung, membeli reksa dana, emas digital, hingga saham.
Secara jumlah, Gen Z memiliki posisi penting dalam struktur penduduk Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Generasi Z adalah penduduk yang lahir pada 1997–2012, dan dalam data Sensus Penduduk 2020 jumlahnya mencapai sekitar 71,5 juta jiwa dari total penduduk Indonesia sekitar 270,2 juta jiwa. Artinya, ketika Gen Z mulai sadar investasi, pengaruhnya bukan hanya terasa pada individu, tetapi juga dapat memengaruhi arah budaya finansial masyarakat Indonesia ke depan.
Minat anak muda terhadap investasi juga terlihat dari data pasar modal. Statistik KSEI per akhir Maret 2026 mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 24,74 juta SID, investor reksa dana 23,49 juta SID, dan investor saham serta surat berharga lainnya 9,36 juta SID. Data yang sama menunjukkan investor individu berusia 30 tahun ke bawah menjadi kelompok terbesar, yaitu 54,71 persen. Kelompok ini memang tidak seluruhnya Gen Z, tetapi angka tersebut menunjukkan kuatnya dominasi investor muda, termasuk Gen Z dewasa, dalam pasar modal Indonesia.
Fenomena ini patut diapresiasi. Jika dulu investasi sering dianggap sebagai aktivitas orang dewasa, orang kaya, atau mereka yang sudah mapan, kini pandangan itu mulai berubah. Banyak anak muda mulai memahami bahwa mengatur keuangan tidak cukup hanya dengan menabung. Uang juga perlu dikelola agar bisa bertumbuh. Dari sinilah muncul semangat baru, dari sekadar menghabiskan uang untuk gaya hidup, menjadi lebih sadar untuk menyisihkan sebagian penghasilan atau uang saku demi masa depan.
Namun, semangat Gen Z untuk terjun ke dunia investasi tidak boleh hanya didorong oleh keinginan cepat kaya. Banyak anak muda tertarik berinvestasi karena melihat konten media sosial yang menampilkan keuntungan besar, testimoni sukses, atau ajakan membeli saham tertentu. Padahal, investasi bukan permainan keberuntungan. Investasi membutuhkan pengetahuan, kesabaran, dan kemampuan memahami risiko.
Di sinilah tantangan besar muncul. Akses investasi semakin mudah, tetapi pemahaman belum selalu sejalan. Data SNLIK 2025 yang merujuk pada OJK dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan nasional berada di angka 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Pada kelompok usia 18–25 tahun, inklusi keuangan bahkan mencapai 89,96 persen, sementara literasinya berada di angka 73,22 persen. Artinya, banyak anak muda sudah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum semuanya benar-benar memahami risiko, strategi, dan tanggung jawab di balik keputusan finansial tersebut.
Karena itu, sebelum benar-benar terjun ke investasi, Gen Z perlu belajar terlebih dahulu. Belajar investasi bukan berarti harus langsung menjadi ahli ekonomi atau pakar pasar modal. Belajar bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memahami perbedaan menabung dan berinvestasi, mengenal jenis-jenis instrumen investasi, mengetahui profil risiko diri sendiri, serta memahami bahwa setiap keuntungan selalu memiliki kemungkinan kerugian.
Investasi juga tidak seharusnya dilakukan hanya karena ikut-ikutan. Dalam dunia digital, Gen Z sangat mudah terpapar konten finansial yang terlihat meyakinkan. Seseorang bisa saja membagikan keuntungan besar dari saham tertentu, kripto tertentu, atau aset tertentu, lalu membuat orang lain merasa takut tertinggal. Inilah yang sering disebut sebagai FOMO atau fear of missing out. Jika tidak hati-hati, Gen Z bisa masuk ke dunia investasi bukan karena paham, melainkan karena panik melihat orang lain tampak lebih cepat “cuan”.
Menariknya, proses pembelajaran investasi di kalangan Gen Z kini tidak hanya berlangsung secara mandiri melalui internet atau media sosial. Kehadiran komunitas pasar modal, Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia, komunitas investor muda, hingga komunitas belajar seperti Inversity ikut mendorong anak muda untuk memahami investasi secara lebih terarah. Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa Galeri Investasi BEI menjadi sarana untuk memperkenalkan pasar modal sejak dini kepada dunia akademisi, bukan hanya dari sisi teori, tetapi juga praktiknya. BEI juga mencatat adanya ratusan Komunitas Pasar Modal Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah.
Dalam konteks ini, Inversity atau investment university dapat dilihat sebagai salah satu ruang belajar investasi yang dekat dengan karakter Gen Z. Komunitas seperti ini menjadi tempat anak muda untuk berdiskusi, bertanya, berbagi pengalaman, dan memahami investasi secara bertahap. Gen Z tidak hanya diajak mengenal istilah saham, reksa dana, pasar modal, atau portofolio, tetapi juga belajar tentang risiko, cara berpikir rasional, pentingnya analisis, serta kesabaran dalam mengambil keputusan finansial.
Keberadaan komunitas investasi menjadi penting karena belajar investasi tidak cukup hanya membaca teori. Di dalam komunitas, anak muda bisa melihat pengalaman orang lain, memahami kesalahan yang sering dilakukan investor pemula, dan belajar bahwa kerugian adalah bagian dari proses. Komunitas juga dapat menjadi pengingat agar Gen Z tidak mudah tergoda janji keuntungan instan. Dengan adanya ruang belajar seperti Inversity, investasi tidak lagi terasa menakutkan atau terlalu rumit, karena proses belajarnya dapat dilakukan bersama-sama.
Selain itu, Bursa Efek Indonesia juga memiliki program Sekolah Pasar Modal sebagai bentuk edukasi dan sosialisasi pasar modal secara berkala. Program ini mencakup Sekolah Pasar Modal Reguler, Syariah, Online, serta Institusi dan Komunitas. Kehadiran program seperti ini menunjukkan bahwa investasi memang perlu diawali dengan edukasi, bukan sekadar keberanian membeli saham.
Di sinilah pentingnya proses belajar, bertumbuh, dan berkembang. Belajar membuat Gen Z tidak mudah tertipu oleh janji keuntungan instan. Bertumbuh membuat mereka lebih disiplin dalam mengelola uang. Berkembang membuat mereka mampu mengambil keputusan finansial dengan lebih matang. Dengan proses ini, investasi tidak lagi sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi bagian dari perjalanan membangun masa depan.
Gen Z sebenarnya memiliki keunggulan besar dalam dunia investasi. Mereka akrab dengan teknologi, cepat mencari informasi, dan terbuka terhadap hal baru. Aplikasi investasi yang mudah diakses juga memberi peluang bagi mereka untuk mulai dari nominal kecil. Namun, kemudahan ini harus diimbangi dengan kehati-hatian. Jangan sampai investasi berubah menjadi ajang coba-coba tanpa ilmu, apalagi hanya karena takut ketinggalan tren.
Nongkrong, membeli kopi, menonton konser, atau mengikuti tren gaya hidup tentu bukan hal yang salah. Anak muda tetap berhak menikmati masa mudanya. Namun, akan lebih bijak jika kesenangan hari ini juga diimbangi dengan persiapan untuk masa depan. Menyisihkan sebagian uang untuk investasi adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan agar terlihat keren.
Wajah baru investasi Gen Z bukan hanya tentang anak muda yang mulai membeli saham, reksa dana, emas, atau aset digital. Lebih dari itu, ini adalah tentang perubahan cara berpikir. Gen Z mulai menyadari bahwa masa depan tidak cukup hanya direncanakan, tetapi juga harus dipersiapkan sejak dini.
Investasi yang baik bukan dimulai dari modal besar, melainkan dari pengetahuan yang benar. Kehadiran komunitas pasar modal, Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia, dan komunitas belajar seperti Inversity menjadi jalan bagi Gen Z untuk belajar lebih serius, bertumbuh lebih bijak, dan berkembang menjadi investor yang bertanggung jawab. Dari nongkrong ke nabung saham, dari ikut tren ke memahami risiko, dari sekadar ingin cuan ke membangun masa depan—itulah wajah baru Gen Z yang sedang belajar, bertumbuh, dan berkembang.
Penulis:
Denies Susanto
Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang
Reporter: Admin
