Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Senin, 10 Agustus 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Admin
Admin
Senin, 1 Juni 2026 | 18:16 WIB
Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
SHARE

Tangerangupdate.com – Generasi Z kini tidak lagi hanya dikenal sebagai generasi yang akrab dengan media sosial, tren digital, dan gaya hidup cepat. Di balik kebiasaan nongkrong, mengikuti tren, dan aktif di dunia digital, muncul wajah baru yang menarik untuk diperhatikan: Gen Z mulai melirik dunia investasi. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara berpikir anak muda, dari sekadar menikmati uang untuk kebutuhan hari ini menjadi lebih sadar akan pentingnya menyiapkan masa depan.

Kesadaran ini bukan muncul tanpa alasan. Biaya hidup yang semakin meningkat, keinginan untuk mandiri secara finansial, serta mudahnya akses informasi membuat banyak anak muda mulai mencari cara agar uang mereka tidak hanya habis untuk konsumsi. Jika dulu uang saku atau gaji pertama lebih sering diarahkan untuk hiburan, belanja, dan nongkrong, kini sebagian Gen Z mulai menyisihkan dana untuk menabung, membeli reksa dana, emas digital, hingga saham.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Secara jumlah, Gen Z memiliki posisi penting dalam struktur penduduk Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Generasi Z adalah penduduk yang lahir pada 1997–2012, dan dalam data Sensus Penduduk 2020 jumlahnya mencapai sekitar 71,5 juta jiwa dari total penduduk Indonesia sekitar 270,2 juta jiwa. Artinya, ketika Gen Z mulai sadar investasi, pengaruhnya bukan hanya terasa pada individu, tetapi juga dapat memengaruhi arah budaya finansial masyarakat Indonesia ke depan.

Minat anak muda terhadap investasi juga terlihat dari data pasar modal. Statistik KSEI per akhir Maret 2026 mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 24,74 juta SID, investor reksa dana 23,49 juta SID, dan investor saham serta surat berharga lainnya 9,36 juta SID. Data yang sama menunjukkan investor individu berusia 30 tahun ke bawah menjadi kelompok terbesar, yaitu 54,71 persen. Kelompok ini memang tidak seluruhnya Gen Z, tetapi angka tersebut menunjukkan kuatnya dominasi investor muda, termasuk Gen Z dewasa, dalam pasar modal Indonesia.

Fenomena ini patut diapresiasi. Jika dulu investasi sering dianggap sebagai aktivitas orang dewasa, orang kaya, atau mereka yang sudah mapan, kini pandangan itu mulai berubah. Banyak anak muda mulai memahami bahwa mengatur keuangan tidak cukup hanya dengan menabung. Uang juga perlu dikelola agar bisa bertumbuh. Dari sinilah muncul semangat baru, dari sekadar menghabiskan uang untuk gaya hidup, menjadi lebih sadar untuk menyisihkan sebagian penghasilan atau uang saku demi masa depan.

BACA JUGA:  Jangan Salah Pilih! Kenali Beda Kandungan Arabika dan Robusta Serta Takaran Pas Agar Kopi Jadi Obat, Bukan Racun

Namun, semangat Gen Z untuk terjun ke dunia investasi tidak boleh hanya didorong oleh keinginan cepat kaya. Banyak anak muda tertarik berinvestasi karena melihat konten media sosial yang menampilkan keuntungan besar, testimoni sukses, atau ajakan membeli saham tertentu. Padahal, investasi bukan permainan keberuntungan. Investasi membutuhkan pengetahuan, kesabaran, dan kemampuan memahami risiko.

Di sinilah tantangan besar muncul. Akses investasi semakin mudah, tetapi pemahaman belum selalu sejalan. Data SNLIK 2025 yang merujuk pada OJK dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan nasional berada di angka 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Pada kelompok usia 18–25 tahun, inklusi keuangan bahkan mencapai 89,96 persen, sementara literasinya berada di angka 73,22 persen. Artinya, banyak anak muda sudah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum semuanya benar-benar memahami risiko, strategi, dan tanggung jawab di balik keputusan finansial tersebut.

Karena itu, sebelum benar-benar terjun ke investasi, Gen Z perlu belajar terlebih dahulu. Belajar investasi bukan berarti harus langsung menjadi ahli ekonomi atau pakar pasar modal. Belajar bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memahami perbedaan menabung dan berinvestasi, mengenal jenis-jenis instrumen investasi, mengetahui profil risiko diri sendiri, serta memahami bahwa setiap keuntungan selalu memiliki kemungkinan kerugian.

Investasi juga tidak seharusnya dilakukan hanya karena ikut-ikutan. Dalam dunia digital, Gen Z sangat mudah terpapar konten finansial yang terlihat meyakinkan. Seseorang bisa saja membagikan keuntungan besar dari saham tertentu, kripto tertentu, atau aset tertentu, lalu membuat orang lain merasa takut tertinggal. Inilah yang sering disebut sebagai FOMO atau fear of missing out. Jika tidak hati-hati, Gen Z bisa masuk ke dunia investasi bukan karena paham, melainkan karena panik melihat orang lain tampak lebih cepat “cuan”.

BACA JUGA:  Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Menariknya, proses pembelajaran investasi di kalangan Gen Z kini tidak hanya berlangsung secara mandiri melalui internet atau media sosial. Kehadiran komunitas pasar modal, Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia, komunitas investor muda, hingga komunitas belajar seperti Inversity ikut mendorong anak muda untuk memahami investasi secara lebih terarah. Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa Galeri Investasi BEI menjadi sarana untuk memperkenalkan pasar modal sejak dini kepada dunia akademisi, bukan hanya dari sisi teori, tetapi juga praktiknya. BEI juga mencatat adanya ratusan Komunitas Pasar Modal Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah.

Dalam konteks ini, Inversity atau investment university dapat dilihat sebagai salah satu ruang belajar investasi yang dekat dengan karakter Gen Z. Komunitas seperti ini menjadi tempat anak muda untuk berdiskusi, bertanya, berbagi pengalaman, dan memahami investasi secara bertahap. Gen Z tidak hanya diajak mengenal istilah saham, reksa dana, pasar modal, atau portofolio, tetapi juga belajar tentang risiko, cara berpikir rasional, pentingnya analisis, serta kesabaran dalam mengambil keputusan finansial.

Keberadaan komunitas investasi menjadi penting karena belajar investasi tidak cukup hanya membaca teori. Di dalam komunitas, anak muda bisa melihat pengalaman orang lain, memahami kesalahan yang sering dilakukan investor pemula, dan belajar bahwa kerugian adalah bagian dari proses. Komunitas juga dapat menjadi pengingat agar Gen Z tidak mudah tergoda janji keuntungan instan. Dengan adanya ruang belajar seperti Inversity, investasi tidak lagi terasa menakutkan atau terlalu rumit, karena proses belajarnya dapat dilakukan bersama-sama.

Selain itu, Bursa Efek Indonesia juga memiliki program Sekolah Pasar Modal sebagai bentuk edukasi dan sosialisasi pasar modal secara berkala. Program ini mencakup Sekolah Pasar Modal Reguler, Syariah, Online, serta Institusi dan Komunitas. Kehadiran program seperti ini menunjukkan bahwa investasi memang perlu diawali dengan edukasi, bukan sekadar keberanian membeli saham.

BACA JUGA:  Iduladha Sebagai Jalan Refleksi Sosial dan Spiritual

Di sinilah pentingnya proses belajar, bertumbuh, dan berkembang. Belajar membuat Gen Z tidak mudah tertipu oleh janji keuntungan instan. Bertumbuh membuat mereka lebih disiplin dalam mengelola uang. Berkembang membuat mereka mampu mengambil keputusan finansial dengan lebih matang. Dengan proses ini, investasi tidak lagi sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi bagian dari perjalanan membangun masa depan.

Gen Z sebenarnya memiliki keunggulan besar dalam dunia investasi. Mereka akrab dengan teknologi, cepat mencari informasi, dan terbuka terhadap hal baru. Aplikasi investasi yang mudah diakses juga memberi peluang bagi mereka untuk mulai dari nominal kecil. Namun, kemudahan ini harus diimbangi dengan kehati-hatian. Jangan sampai investasi berubah menjadi ajang coba-coba tanpa ilmu, apalagi hanya karena takut ketinggalan tren.

Nongkrong, membeli kopi, menonton konser, atau mengikuti tren gaya hidup tentu bukan hal yang salah. Anak muda tetap berhak menikmati masa mudanya. Namun, akan lebih bijak jika kesenangan hari ini juga diimbangi dengan persiapan untuk masa depan. Menyisihkan sebagian uang untuk investasi adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan agar terlihat keren.

Wajah baru investasi Gen Z bukan hanya tentang anak muda yang mulai membeli saham, reksa dana, emas, atau aset digital. Lebih dari itu, ini adalah tentang perubahan cara berpikir. Gen Z mulai menyadari bahwa masa depan tidak cukup hanya direncanakan, tetapi juga harus dipersiapkan sejak dini.

Investasi yang baik bukan dimulai dari modal besar, melainkan dari pengetahuan yang benar. Kehadiran komunitas pasar modal, Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia, dan komunitas belajar seperti Inversity menjadi jalan bagi Gen Z untuk belajar lebih serius, bertumbuh lebih bijak, dan berkembang menjadi investor yang bertanggung jawab. Dari nongkrong ke nabung saham, dari ikut tren ke memahami risiko, dari sekadar ingin cuan ke membangun masa depan—itulah wajah baru Gen Z yang sedang belajar, bertumbuh, dan berkembang.

Penulis:
Denies Susanto
Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang

Editor & Reporter
Reporter: Admin
TAGGED:Dosen unpamInvestasiSahamserang
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

Terpopuler

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Kepala BGN Sudaryono (tiga dari kanan) dalam konferensi pers mengenai refocusing penerima MBG di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). | Dok. Antara

BGN Kebut Program MBG, Wilayah 3T Tuntas Lebih Cepat

Foto: istimewa

Dua Terduga Pelaku Curanmor Dibekuk Saat Patroli Satlantas di Cikupa

Foto: Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja | Dok. Tangerangupdate.com

Sekda Persilakan Dugaan Kredit Fiktif BPR Kerta Raharja Diusut Tuntas

Berita Terkait

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto : ilustrasi/freepik
Opini

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Iduladha Sebagai Jalan Refleksi Sosial dan Spiritual

Foto : Kopi arabika (kiri) & Kopi Robusta (kanan) | Dok. TU
Opini

Jangan Salah Pilih! Kenali Beda Kandungan Arabika dan Robusta Serta Takaran Pas Agar Kopi Jadi Obat, Bukan Racun

Ahmad Priatna, Pemuda Asli Cipondoh | Dok. Pribadi
Opini

Cipondoh Tenggelam Lagi: Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?

Foto: Irtiakhul Afifah, Mahasiswi Universitas Pamulang | Dok. Pribadi
Opini

Dilema Kelas Menengah: Menjadi Tulang Punggung atau Sapi Perah Pajak?

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Tiga Pemikir Revolusi Iran dan Jejaknya dalam Konflik Global

Jangan Lewatkan

Kepala BGN Sudaryono (tiga dari kanan) dalam konferensi pers mengenai refocusing penerima MBG di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). | Dok. Antara

BGN Kebut Program MBG, Wilayah 3T Tuntas Lebih Cepat

Kamis, 6 Agustus 2026
Foto: korban dirawat di rumah sakit usai mengalami dugaan penyiksaan di Panongan | Dok. Tangerangupdate.com

Diduga Disiksa 5,5 Jam, Pria di Panongan Dipaksa Masturbasi Dalam Kondisi Babak Belur

Senin, 3 Agustus 2026
Dok. Tangerangupdate.com

PP IMALA Desak Transparansi Hibah Rp1,7 Miliar untuk Dua Forum Mahasiswa Lebak

Selasa, 4 Agustus 2026
Sebanyak 188 personel TNI-Polri disiagakan di Matraman usai bentrokan, tujuh orang ditetapkan sebagai tersangka. | Dok. ANTARA

Bentrokan di Matraman Jakpus, Polisi Turunkan 188 Personel

Selasa, 4 Agustus 2026
Foto: istimewa

Dua Terduga Pelaku Curanmor Dibekuk Saat Patroli Satlantas di Cikupa

Kamis, 6 Agustus 2026
Foto: Risman, Kuasa hukum korban dugaan penyiksaan dan pemaksaan melakukan onani saat mendatangi Mapolresta Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Jalani Pemeriksaan Penyidik, Korban Dugaan Penyiksaan dan Pemaksaan Onani Datangi Polresta Tangerang

Senin, 3 Agustus 2026
Foto: Kegiatan Si Caka (Simpatik Cegah Laka) di KM 32 Jalan Raya Serang Balaraja | Dok. Tangerangupdate.com

Tekan Angka Kecelakaan, Satlantas Polresta Tangerang Gelar Giat “Si Caka” di Titik Rawan Jalan Raya Serang

Rabu, 5 Agustus 2026
Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Sabtu, 8 Agustus 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp