Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Jumat, 16 Oktober 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Iduladha Sebagai Jalan Refleksi Sosial dan Spiritual

Admin
Admin
Selasa, 26 Mei 2026 | 20:39 WIB
Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com – Setiap tahun kita merayakan ibadah haji dan Idul adha secara seremonial maupun simbolik. Takbir dikumandangkan, hewan kurban disembelih, ucapan selamat saling disampaikan, dan suasana religius terasa begitu kuat. Namun di tengah kemeriahan itu, ada pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri: apakah perayaan ini benar-benar menjadi momentum refleksi, atau justru berhenti sebatas rutinitas tahunan tanpa menghadirkan perubahan moral dan sosial yang berarti?

Berbicara tentang Idul adha atau yang lazim disebut masyarakat Indonesia sebagai lebaran haji, saya teringat pada buku Makna Haji karya Ali Syariati. Dalam pandangannya, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci atau kumpulan ritual yang dijalankan secara formal, melainkan perjalanan eksistensial manusia untuk menemukan kembali hakikat dirinya sebagai hamba Tuhan sekaligus makhluk sosial. Haji adalah proses pendidikan spiritual yang membentuk kesadaran, membersihkan ego, dan melahirkan manusia dengan akhlak yang lebih matang.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Ali Syariati memandang bahwa setiap rangkaian ibadah haji memiliki makna simbolik yang mendalam. Ihram bukan hanya pakaian putih, tetapi simbol pelepasan identitas duniawi—jabatan, status sosial, kekayaan, dan segala atribut yang sering kali membuat manusia merasa lebih tinggi dari sesamanya. Thawaf bukan sekadar mengelilingi Ka’bah, melainkan penegasan bahwa pusat kehidupan manusia hanyalah Tuhan, bukan ambisi pribadi, bukan kekuasaan, dan bukan kepentingan material. Sa’i antara Shafa dan Marwah menggambarkan bahwa iman tidak pernah berdiri tanpa usaha dan perjuangan, sementara wukuf di Arafah menjadi ruang perenungan tentang siapa diri kita, ke mana hidup diarahkan, dan apa tanggung jawab yang harus dipikul sebagai manusia.

BACA JUGA:  Jangan Salah Pilih! Kenali Beda Kandungan Arabika dan Robusta Serta Takaran Pas Agar Kopi Jadi Obat, Bukan Racun

Dalam konteks itu, Syariati menghadirkan dua figur besar yang menjadi inti refleksi Iduladha dan haji, yakni Ibrahim dan Ismail. Keduanya tidak digambarkan sekadar sebagai tokoh suci yang jauh dari realitas manusia, melainkan sebagai simbol pergulatan spiritual yang sangat manusiawi.

Ibrahim, dalam pembacaan Syariati, bukan sosok yang kaku dan tanpa gejolak perasaan. Justru ia digambarkan sebagai manusia yang mengalami guncangan batin yang luar biasa ketika menerima perintah untuk mengorbankan anak yang sangat dicintainya. Di sinilah letak pelajaran pentingnya. Ketakwaan bukan berarti seseorang tidak memiliki rasa takut, sedih, atau konflik batin. Ketakwaan justru tampak ketika manusia mampu menghadapi pergolakan itu dan tetap memilih jalan yang diyakininya sebagai kebenaran.

Perintah pengorbanan kepada Ibrahim bukan semata persoalan menyembelih seorang anak, melainkan ujian tentang keterikatan. Tuhan seakan ingin menguji apakah cinta, kepemilikan, dan ego telah mengambil posisi yang melampaui pengabdian kepada-Nya?. Ibrahim diuji bukan karena kurang beriman, tetapi karena bahkan orang yang paling saleh sekalipun tetap harus berhadapan dengan ujian terhadap apa yang paling dicintainya.

BACA JUGA:  Cipondoh Tenggelam Lagi: Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?

Di sisi lain, Ismail digambarkan sebagai figur kepatuhan dan kesadaran spiritual yang matang. Ia menerima perintah tersebut bukan dalam posisi pasif atau tanpa nalar, tetapi dengan keyakinan dan keikhlasan yang lahir dari kepercayaan kepada Tuhan. Ismail menjadi simbol bahwa ketakwaan tidak hanya berbicara tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga tentang kesiapan mengendalikan ego dan menerima tanggung jawab moral yang besar.

Apa “Ismail” Kita Hari Ini?
Bagi Syariati, kisah Ibrahim dan Ismail bukanlah cerita masa lalu yang berhenti pada sejarah atau ritual kurban semata. Kisah itu adalah drama kemanusiaan yang terus berulang dalam kehidupan setiap zaman. Karena itu, pertanyaan penting Iduladha bukan hanya “berapa hewan yang dikurbankan,” melainkan “apa yang sesungguhnya harus kita kurbankan dalam diri kita?”

Pertanyaan itu menjadi sangat relevan dengan kondisi hari ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang sering kali menempatkan materi, jabatan, citra, dan kepentingan pribadi sebagai pusat kehidupan. Tidak sedikit orang yang rela mengorbankan integritas demi kekuasaan, mengabaikan keadilan demi keuntungan, bahkan menjadikan agama sebatas simbol tanpa diikuti keberpihakan sosial. Dalam situasi seperti ini, “Ismail” modern bisa hadir dalam banyak bentuk: kesombongan yang dipelihara, ambisi politik yang berlebihan, kerakusan ekonomi, atau ego yang membuat manusia sulit mendengar suara nurani.

BACA JUGA:  Cipondoh Tenggelam Lagi: Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?

Di tengah kehidupan sosial dan politik yang sering dipenuhi kompetisi serta kepentingan pragmatis, pesan Idul adha justru menjadi semakin penting. Pengorbanan tidak selalu berarti kehilangan secara fisik, tetapi keberanian menyingkirkan kepentingan pribadi ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar—keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan bersama. Sebab kurban sejatinya bukan hanya tentang darah dan daging, melainkan tentang proses memotong ego yang selama ini menguasai diri manusia.

Karena itu, saya melihat Idul adha dan ibadah haji tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai agenda keagamaan tahunan. Ia adalah panggilan moral untuk melakukan evaluasi diri. Sejauh mana kita telah membebaskan diri dari “berhala-berhala” modern yang mengikat kehidupan? Seberapa besar agama telah membentuk akhlak dan keberpihakan sosial kita, bukan hanya identitas formal kita?

Dalam perspektif Ali Syariati, haji dan kurban pada akhirnya bukan tentang perjalanan menuju tempat tertentu, melainkan perjalanan menuju kualitas manusia yang lebih utuh—manusia yang rendah hati seperti Ibrahim dalam pergulatannya, dan tulus seperti Ismail dalam kepatuhannya. Sebab kesalehan yang sejati tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam keberanian memperbaiki diri dan menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Ahmad Priatna S.T., S.H

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

TAGGED:Hari raya iduladha
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Dok. Istimewa

Dugaan Praktik Percaloan di UPTD PKB Tangsel Mencuat, Oknum Ngaku Bisa Pangkas Antrean

Sekertaris GP Ansor Tangsel saat Media Ghatering Ansor Fest / Dok. TU

GP Ansor Tangsel Gelar Ansor Fest 2026, Hadirkan Ruang Kreativitas Anak Muda

Kepolisian mensterilkan area bangunan terdampak serta menerjunkan unit teknisi bom guna melakukan olah TKP dan mengusut penyebab pasti ledakan yang menewaskan dua orang di Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (14/10/2026) malam. | Dok. Tangerangupdate

Dua Tewas Usai Ledakan Guncang Pasar Cimanggis

Kerap Terjebak Macet di Pamulang? Ternyata Ini Penyebab Arus Siliwangi – Puspitek Tersendat

Foto: Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea | Dok. Istimewa

Polisi Tetapkan Satu Tersangka Dugaan Intimidasi Jemaat Ibadah di Rajeg

Proyek Pedestarian di Jalan Serpong Raya Milik Pemprov Banten makan Korban / Dok. TU

Proyek Pedestarian Milik Pemprov Banten di Serpong Makan Korban

Berita Terkait

Opini

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Jangan Lewatkan

Foto: AF (20) terduga pelaku begal sadis terhadap seorang sopir taksi online di Pamulang | Dok. Istimewa

Kabur ke Rangkasbitung, Begal Sadis Sopir Taksi Online di Pamulang Ditangkap

Jumat, 9 Oktober 2026
Foto: Mapolsek Cikupa | Dok. Istimewa

Polsek Cikupa Diduga Kerahkan Buzzer Tutup Kasus Dugaan Cuekin Laporan Korban Matel

Selasa, 13 Oktober 2026
Foto: Mapolsek Cikuoa | Dok. Tangerangupdate.com

Terungkap, Korban Matel yang Diduga Dilepas Polsek Cikupa Ngaku Dicuekin saat Mau Lapor

Senin, 12 Oktober 2026
Foto: terduga matel saat ditangkap oleh anggota Polresta Tangerang | Dok. Istimewa

Sudah Ditangkap, Polisi Diduga Lepas Matel yang Tarik Motor Warga di Cikupa

Senin, 12 Oktober 2026
Tangkapan layar kondisi galian di Bintaro yang diduga sudah dua Minggu terbengkalai / Dok. TU

Proyek Galian di Bintaro Dikeluhkan Warga, Dua Pekan Diduga Tak Ada Perkembangan

Sabtu, 10 Oktober 2026
Ilustrasi Kebakaran Hutan Dibuat dengan kecerdasan buatan / Dok. TU

Karhutla Meluas, Prabowo Belum Tetapkan Bencana Nasional: 692 Hektare Terbakar per Hari

Selasa, 13 Oktober 2026
Foto: rekaman CCTV detik-detik dua pelajar tewas usai hindari upaya sabetan senjata tajam di Alam Sutera | Dok. Tangkapan layar/Tangerangupdate.com

Detik-detik 2 Pelajar Tewas di Serpong Utara: Jatuh Hindari Bacokan Pelaku Tawuran

Sabtu, 10 Oktober 2026
Sekertaris GP Ansor Tangsel saat Media Ghatering Ansor Fest / Dok. TU

GP Ansor Tangsel Gelar Ansor Fest 2026, Hadirkan Ruang Kreativitas Anak Muda

Kamis, 15 Oktober 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp