Tangerangupdate.com – Sejarah perkembangan Buddhisme di Indonesia kembali menjadi perbincangan setelah akademisi dan peneliti Buddhisme, Dr. Ravinjay Kuckreja, mengulas perjalanan aliran Buddha di Nusantara melalui unggahan di akun Instagramnya @dr.ravinjay.
Dalam penjelasannya, Ravinjay menyebut bahwa Buddhisme yang berkembang pada masa kejayaan Sriwijaya hingga pembangunan Candi Borobudur bukanlah aliran Theravada seperti yang kini dikenal luas di Indonesia.
Menurutnya, Buddhisme kuno Nusantara lebih dekat dengan tradisi Mahayana dan Vajrayana yang kaya akan ajaran Bodhisatwa, tantra, serta ritual kompleks.
“Kerajaan Sriwijaya di Sumatra, Borobudur di Jawa, itu semua bukti bahwa Buddha sudah ada di sini sejak ribuan tahun yang lalu. Tapi Buddha yang mana? Bukan Theravada,” tulis Ravinjay dalam unggahannya.
Ia menjelaskan, relief-relief di Borobudur merepresentasikan corak Buddhisme Mahayana Jawa yang berkembang kuat pada masa lampau. Sementara Theravada, kata dia, baru masuk ke Indonesia sekitar tahun 1970-an melalui para biksu dari Sri Lanka dan Thailand.
Masuknya Theravada, lanjut Ravinjay, terjadi setelah tradisi Buddhisme lama di Nusantara perlahan menghilang seiring berkembangnya Islam dan runtuhnya pusat-pusat kerajaan Buddha di wilayah kepulauan.
“Ketika Buddha mulai bangkit lagi di abad ke-20, tidak ada lagi guru lokal, tidak ada lagi tradisi yang tersisa,” tulisnya.
Menurut Ravinjay, kekosongan tersebut kemudian diisi oleh para biksu luar negeri yang membawa tradisi Theravada dari Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Ia juga menyinggung bahwa tradisi Mahayana yang berkembang di Indonesia modern sebagian besar berasal dari komunitas Tionghoa, bukan kelanjutan langsung dari tradisi Jawa kuno atau Sriwijaya.
Sementara itu, gerakan Kasogatan di Jawa disebutnya sebagai upaya kebangkitan kembali tradisi lama yang telah lama hilang, bukan pewarisan yang berlangsung tanpa putus.
Dalam narasinya, Ravinjay menilai tidak ada satu kelompok Buddhis modern di Indonesia yang dapat sepenuhnya mengklaim Borobudur sebagai kelanjutan langsung tradisi mereka.
“Borobudur itu Mahayana Jawa yang sudah lama hilang,” tulisnya.
Meski demikian, ia menegaskan perubahan dan hilangnya tradisi merupakan bagian dari konsep Anicca atau ketidakkekalan dalam ajaran Buddha.
“Tradisi lahir, berkembang, dan punah. Itu bukan tragedi, itu memang sifat dari segala sesuatu,” ujarnya.
Unggahan tersebut memantik diskusi luas mengenai hubungan antara Buddhisme Nusantara kuno dengan praktik Buddhisme modern di Indonesia saat ini, sekaligus membuka kembali perbincangan sejarah tentang identitas spiritual warisan Sriwijaya dan Borobudur.
Reporter: Juno
