Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Rabu, 26 Agustus 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Dilema Kelas Menengah: Menjadi Tulang Punggung atau Sapi Perah Pajak?

Redaksi TU
Redaksi TU
Jumat, 10 April 2026 | 15:52 WIB
Foto: Irtiakhul Afifah, Mahasiswi Universitas Pamulang | Dok. Pribadi
Foto: Irtiakhul Afifah, Mahasiswi Universitas Pamulang | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com – Pajak adalah urat nadi pembangunan. Melalui instrumen ini, negara mampu membiayai infrastruktur, layanan kesehatan, pendidikan, hingga subsidi energi. Namun, di balik angka-angka target penerimaan negara yang ambisius, tersimpan sebuah ironi yang kian nyata : kelas menengah Indonesia kini berada dalam posisi terjepit, memikul beban pajak yang secara proporsional terasa jauh lebih berat dibandingkan kelompok lainnya.

Secara administratif, kelas menengah adalah kelompok yang paling “patuh”. Bukan karena mereka secara sukarela ingin membayar lebih, melainkan karena sistem yang memaksa mereka untuk tidak punya pilihan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Mayoritas kelas menengah adalah pekerja formal dengan penghasilan tetap yang setiap bulannya terkena skema pemotongan pajak langsung (PPh Pasal 21). Mereka tercatat rapi dalam sistem perbankan dan administrasi negara, membuat ruang untuk “berlindung” dari kewajiban pajak hampir mustahil dilakukan.

Beban ini kian terasa mencekik dengan rencana kenaikan PPN menjadi 12%. Bagi kelas menengah, ini adalah double hit: pendapatan dipotong di hulu lewat PPh, dan konsumsi dipajaki lebih mahal di hilir.

Paradoks Kontribusi: Saat 4% Terasa Sangat Berbeda

Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 mengungkapkan fakta yang menggugah nurani keadilan. Pengeluaran kelas menengah untuk pajak mencapai 4,53% dari total pengeluaran bulanan mereka. Angka ini hanya terpaut tipis dari kelompok kelas atas yang mencatat angka 4,84%.

Secara nominal, kelas atas memang membayar lebih besar. Namun, secara fungsi ekonomi, dampak dari persentase tersebut sangatlah berbeda. Bagi kelas atas, sisa pendapatan setelah pajak (disposable income) masih sangat melimpah untuk investasi dan konsumsi mewah.

Sebaliknya, bagi kelas menengah, potongan tersebut diambil dari kantong yang juga harus menanggung cicilan rumah, pendidikan anak, asuransi kesehatan mandiri, dan biaya hidup yang terus meroket akibat inflasi.

Kesenjangan ini diperparah oleh persepsi bahwa kelas menengah seringkali ‘terasing’ dari manfaat pajak. Saat anak mereka tak masuk kuota zonasi sekolah negeri atau antrean jaminan kesehatan terlalu panjang, mereka terpaksa merogoh kocek lagi untuk sektor swasta. Inilah yang menciptakan perasaan membayar “pajak ganda”: satu kali kepada negara, dan satu kali lagi untuk membeli layanan publik yang layak secara mandiri.

Ketimpangan Tabungan dan Ruang Gerak Pajak

Ketidakadilan ini semakin kontras jika kita melirik data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Antara Maret 2020 hingga Maret 2024, simpanan orang kaya (di atas Rp 5 miliar) tumbuh rata-rata 11,1% per tahun. Di sisi lain, simpanan masyarakat kelas bawah dan menengah (di bawah Rp 100 juta) hanya tumbuh 5,5% per tahun.

Angka LPS ini adalah alarm. Pertumbuhan simpanan kelas menengah yang stagnan menunjukkan fenomena ‘makan tabungan’ (dissaving) demi menjaga napas biaya hidup. Fenomena ini menunjukkan adanya akumulasi kekayaan yang masif di puncak piramida sosial, sementara kelompok super kaya seringkali memiliki akses ke konsultan pajak profesional untuk melakukan perencanaan pajak (tax planning) legal. Sebaliknya, kelas menengah “terperangkap” dalam sistem upah yang transparan dan kaku.

Ancaman Erosi Daya Beli
Kelas menengah sering disebut sebagai motor pertumbuhan ekonomi karena konsumsi mereka menggerakkan roda industri. Namun, jika motor ini terus menerus “dipompa” untuk mengejar target penerimaan negara tanpa kompensasi yang sepadan, maka risikonya adalah perlambatan ekonomi nasional.

Erosi daya beli kelas menengah mulai terlihat. Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk pajak dan biaya hidup pokok, mereka akan mulai mengurangi pengeluaran sekunder dan tersier. Dampaknya akan dirasakan oleh sektor ritel, pariwisata, hingga otomotif. Jika kelas menengah turun kelas menjadi kelompok rentan, maka beban negara justru akan bertambah di masa depan dalam bentuk pemberian jaminan sosial.

Mencari Jalan Menuju Keadilan Horizontal

Pemerintah sejatinya telah melakukan berbagai langkah mitigasi melalui integrasi NIK menjadi NPWP dan penguatan basis data melalui sistem Coretax. Namun, teknologi saja tidak cukup jika kebijakan dasarnya belum mencerminkan keadilan horizontal.

Pemerintah harus lebih berani menyasar potensi pajak di sektor ekonomi informal dan transaksi digital bernilai tinggi yang selama ini masih berada di area abu-abu.

Yang dilakukan pemerintah sekadar menaikkan tarif PPh pekerja, tetapi menyasar aset-aset produktif dan kepemilikan aset besar yang belum tergarap optimal. Dan jepercayaan publik hanya akan tumbuh jika manfaat pajak terasa secara langsung dalam kualitas layanan publik, tanpa diskriminasi kelas.

Keadilan dalam sistem perpajakan bukan hanya soal mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya ke kas negara, melainkan tentang menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. Pajak seharusnya dipungut berdasarkan prinsip kemampuan membayar (ability-to-pay principle), bukan sekadar kemudahan memungut (ease-of-collection).

Jika pemerintah terus memilih jalan pintas dengan mengeksploitasi kepatuhan kelas menengah, kita tidak hanya sedang memeras pajak, tapi sedang memeras masa depan kemakmuran bangsa. Sudah saatnya dipastikan bahwa mereka yang memiliki kemampuan lebih besar berkontribusi lebih besar pula, sehingga kelas menengah dapat kembali bernapas dan kembali menjadi tulang punggung yang kokoh, bukan sekadar sapi perah yang layu.

Oleh : Irtiakhul Afifah
Mahasiswi Universitas Pamulang Tangerang Selatan

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

TAGGED:Opini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Foto: salah satu spanduk penolakan safari politik mantan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Tangerang | Dok. Istimewa

Spanduk ‘Banten Menolak Safari Politik Jokowi’ Bermunculan di Kabupaten Tangerang

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau, Senin (24/8/2026). | Dok. Setpres

Pimpin Ratas Karhutla, Presiden Prabowo Perintahkan Intelijen dan Polisi Usut Korporasi

Tampak Wakil Walikota (Wawali) Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan ikut memusnahkan Barang Kena Cukai (BKC) ilegal di Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Banten, Serpong Utara, Tangsel, Jumat (21/8/2026). | Dok. Tangerangupdate

Lindungi Iklim Investasi di Banten, Wawali Tangsel Dorong Penindakan Cukai Ilegal

Wapres Gibran Rakabuming berdialog dengan pengungsi yang dirawat di tenda perawatan posko pengungsian Posko Golo Cenggo, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, Jumat (21/8/2026). | Dok. Antara

Wapres Gibran Instruksikan Bantuan Gempa NTT Jangkau Pengungsi Mandiri

Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Banten memusnahkan 41,28 juta batang rokok ilegal dan ribuan liter minuman keras (miras). | Dok. Tangerangupdate

Gempur Cukai Ilegal, Kanwil DJBC Banten Selamatkan Potensi Kerugian Negara Rp39,95 Miliar

Walikota Tangsel Benyamin Davnie saat di Wawancarai di Gedung Pemkot Tangsel/ Foto: Fery

Koperasi Award Jadi Momentum Tangsel Perkuat Ekonomi Kerakyatan

Berita Terkait

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Foto : ilustrasi/freepik
Opini

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Jangan Lewatkan

Meriahkan HUT RI ke-81, Pegawai Pemkot Tangsel Pererat Kebersamaan Lewat Lomba 17-an

Senin, 24 Agustus 2026
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau, Senin (24/8/2026). | Dok. Setpres

Pimpin Ratas Karhutla, Presiden Prabowo Perintahkan Intelijen dan Polisi Usut Korporasi

Senin, 24 Agustus 2026
Foto: salah satu spanduk penolakan safari politik mantan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Tangerang | Dok. Istimewa

Spanduk ‘Banten Menolak Safari Politik Jokowi’ Bermunculan di Kabupaten Tangerang

Rabu, 26 Agustus 2026
Foto: Istimewa

BPN Kabupaten Tangerang Gelar Musyawarah Ganti Rugi 28 Bidang Tanah untuk Tol Serpong-Balaraja

Minggu, 23 Agustus 2026
Tampak Wakil Walikota (Wawali) Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan ikut memusnahkan Barang Kena Cukai (BKC) ilegal di Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Banten, Serpong Utara, Tangsel, Jumat (21/8/2026). | Dok. Tangerangupdate

Lindungi Iklim Investasi di Banten, Wawali Tangsel Dorong Penindakan Cukai Ilegal

Senin, 24 Agustus 2026
Foto dokumentasi Tangerangupdate.com

Mantan Karyawan Ungkap Dugaan Sertifikasi Guru Palsu Jadi Jaminan Kredit di BPR Kerta Raharja Gemilang

Jumat, 21 Agustus 2026

Lepas Ekspor Rp40,8 Miliar, Barantin Dorong Produk Unggulan Banten Tembus Pasar Global

Jumat, 21 Agustus 2026
Wapres Gibran Rakabuming berdialog dengan pengungsi yang dirawat di tenda perawatan posko pengungsian Posko Golo Cenggo, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, Jumat (21/8/2026). | Dok. Antara

Wapres Gibran Instruksikan Bantuan Gempa NTT Jangkau Pengungsi Mandiri

Senin, 24 Agustus 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp