Tangerangupdate.com – Bagi Nahdlatul Ulama (NU), khidmah bukan sekadar slogan, melainkan jalan hidup yang menuntun seluruh laku kepemimpinan. NU berdiri, tumbuh, dan bertahan karena khidmah para ulama yang mengabdi tanpa pamrih. Dalam kerangka inilah, ikhtiar menghadirkan duet kepemimpinan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dan KH Said Aqil Siroj perlu dibaca sebagai upaya menjaga arah NU agar tetap berjalan di jalur pengabdian.
Para masyayikh NU sejak awal menegaskan bahwa kepemimpinan bukan ruang untuk mencari kehormatan. Sing dadi pemimpin kuwi sing siap ngopeni, dudu sing pengin dipangku. Kepemimpinan adalah kesiapan untuk melayani, menjaga, dan merawat jam’iyah dengan adab dan kesabaran.
Karena itu, perbincangan tentang figur pemimpin NU seharusnya tidak dilepaskan dari ukuran khidmah. Siapa yang paling siap mengabdi, menjaga persatuan, dan meneguhkan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, dialah yang patut mendapat amanah.
Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj menghadirkan gambaran kepemimpinan yang berangkat dari jalan khidmah tersebut. Ia bukan sekadar pasangan struktural, melainkan pertemuan antara generasi penerus yang sedang tumbuh dan pengalaman panjang seorang kiai sepuh dalam menjaga NU.
Imam Al-Ghazali pernah meletakkan kaidah penting bahwa kepemimpinan hanya akan tegak bila ditopang oleh ketaqwaan, akhlak yang mulia, serta ilmu dan kompetensi. Tiga hal ini bukan formalitas, melainkan laku hidup yang membentuk watak seorang pemimpin.
Gus Salam merupakan bagian dari mata rantai keulamaan NU. Ia adalah dzurriyat KH Bisri Syansuri, muassis NU dan pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Namun dalam pandangan warga NU, nasab bukanlah keistimewaan yang berdiri sendiri. Ia adalah amanah yang harus ditebus dengan ilmu, adab, dan kesungguhan berkhidmah.
Sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Gus Salam dikenal tekun dalam tradisi bahtsul masail. Ia tidak hanya piawai membaca dan mengurai kitab kuning, tetapi juga berusaha menghadirkannya sebagai penuntun umat di tengah perubahan zaman. Fikih dan manhaj NU baginya adalah jalan bimbingan, bukan alat perdebatan.
Pengalaman Gus Salam dalam struktur jam’iyah NU—mulai dari Katib Syuriyah PBNU, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, hingga Wakil Ketua PWNU Jawa Timur—membentuk kepekaannya terhadap dinamika organisasi. Ia terbiasa menyikapi perbedaan dengan musyawarah dan adab.
Sementara itu, KH Said Aqil Siroj adalah ulama sepuh yang telah lama menjadi rujukan warga NU. Sanad keilmuannya dari pesantren besar hingga Ummul Qura Makkah menjadi fondasi keulamaan yang kokoh. Pengalamannya memimpin PBNU selama dua periode menjadikannya sosok yang matang dalam menjaga keseimbangan antara perubahan dan keteguhan tradisi.
Dalam peran Rais Aam, KH Said Aqil Siroj diharapkan mampu meneguhkan kembali Syuriyah sebagai penjaga arah dan ruh NU. Bukan sekadar menjaga struktur, tetapi memastikan NU tetap berada di jalan tengah—tidak berlebihan dan tidak kehilangan jati diri.
Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj merepresentasikan karakter dasar NU: pertemuan antara regenerasi dan kearifan, antara ikhtiar lahir dan doa batin, antara langkah pembaruan dan keteguhan tradisi. Kepemimpinan yang tidak tergesa, tetapi juga tidak berhenti—alon-alon asal kelakon.
Bagi warga NU, ikhtiar kepemimpinan ini patut disambut dengan husnuzan. Sebab NU besar bukan karena satu figur, melainkan karena khidmah kolektif yang dirawat dengan keikhlasan dan adab. Jika amanah kepemimpinan kelak dipikul oleh mereka yang layak, maka kewajiban kita adalah mendukung, mengingatkan, dan mendoakan.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin NU, meluruskan niat mereka, meneguhkan langkah mereka, dan menjadikan setiap khidmah sebagai amal yang diterima. Sebab pada akhirnya, NU tidak sedang mencari siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling setia berjalan di jalan khidmah.
Penulis: H. Ahmad Imron
Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Banten
Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falahiyyah
Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
