Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Minggu, 13 September 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Preeklampsia sebagai Ancaman Tersembunyi bagi Ibu Hamil dan Janin

Redaksi TU
Redaksi TU
Sabtu, 16 Agustus 2025 | 11:48 WIB
Foto: Ilustrasi/Freepik: prostooleh
Foto: Ilustrasi/Freepik: prostooleh
SHARE

Tangerangupdate.com – Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang masih menjadi perhatian besar di dunia kesehatan ibu. Kondisi ini biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu atau kadang segera setelah persalinan.
Ciri utamanya adalah tekanan darah tinggi (≥140/90 mmHg), adanya protein dalam urine (proteinuria), dan kadang disertai pembengkakan pada wajah, tangan, atau tungkai. Meskipun pada awalnya tampak ringan, preeklampsia dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa ibu dan janin jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan cepat (Sarwono, 2010; Prawirohardjo, 2010).

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa preeklampsia menjadi penyebab signifikan kematian ibu di berbagai negara, terutama di wilayah berkembang. Setiap tahun, ribuan ibu di dunia meninggal akibat komplikasi ini. Di Indonesia, preeklampsia termasuk dalam tiga besar penyebab kematian ibu, bersama dengan perdarahan dan infeksi. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya isu medis, tetapi juga menyangkut keselamatan generasi penerus bangsa.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Mengapa Preeklampsia Terjadi?

Penyebab pasti preeklampsia belum sepenuhnya dipahami, tetapi para ahli telah mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang berperan. Ibu hamil yang menjalani kehamilan pertama (primigravida) memiliki risiko lebih besar, terutama jika belum terbentuk kekebalan tubuh terhadap faktor kehamilan sebelumnya. Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya atau pada keluarga dekat juga meningkatkan peluang terjadinya kondisi ini.

Selain itu, ibu yang mengandung bayi kembar atau lebih, menderita hipertensi kronis, diabetes melitus, penyakit ginjal, atau penyakit autoimun seperti lupus, berada dalam kelompok risiko tinggi. Usia ibu yang terlalu muda (<20 tahun) atau terlalu tua (>35 tahun) juga menjadi pemicu. Faktor lain yang tak kalah penting adalah obesitas atau peningkatan berat badan yang berlebihan selama kehamilan, serta kondisi rahim yang terlalu meregang akibat hidramnion atau kehamilan ganda (Hanifah, 2014).

BACA JUGA:  Jolly Roger (Bendera One Piece): Alarm Perbaikan atau Revolusi bagi Republik Indonesia ke-80

Bagaimana Gejala Awalnya?

Preeklampsia ringan sering kali tidak menimbulkan keluhan yang dramatis, sehingga ibu hamil mungkin tidak menyadari kondisinya. Gejala yang dapat ditemukan meliputi tekanan darah tinggi yang terukur minimal dua kali pada pemeriksaan terpisah, penambahan berat badan berlebihan (≥1 kg per minggu), pembengkakan di kaki, wajah, atau tangan, serta proteinuria pada pemeriksaan urine.

Pada tahap awal, keluhan bisa berupa sakit kepala ringan, rasa tidak nyaman, atau kelelahan. Namun, belum muncul gangguan penglihatan berat atau nyeri ulu hati. Justru karena gejalanya bisa samar, pemeriksaan rutin menjadi sangat penting. Tanpa deteksi dini, preeklampsia ringan dapat berkembang menjadi preeklampsia berat dengan gejala seperti sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri ulu hati, mual muntah, hingga kejang (eklampsia) (Manuaba, 2011).

Dampak yang Mengintai

Jika tidak tertangani, preeklampsia dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius. Bagi ibu, risiko yang mengintai antara lain eklampsia (kejang yang berpotensi fatal), perdarahan otak, gagal ginjal, sindrom HELLP (gangguan hati dan pembekuan darah), edema paru, nekrosis hati, dan solusio plasenta (lepasnya plasenta sebelum waktunya).

Bagi janin, preeklampsia dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat di dalam rahim (Intrauterine Growth Restriction/IUGR), berat lahir rendah, kelahiran prematur, asfiksia saat lahir, bahkan kematian janin. Hal ini terjadi karena suplai oksigen dan nutrisi dari plasenta ke janin berkurang akibat penyempitan pembuluh darah (Rukiyah, 2010).

BACA JUGA:  Membangun SDM Indonesia: Jalan Panjang Menuju Abad Ketiga Milenium

Bagaimana Penanganannya?

Pendekatan penanganan preeklampsia bergantung pada tingkat keparahan dan usia kehamilan. Pada kasus preeklampsia ringan, perawatan bisa dilakukan secara rawat jalan dengan pemantauan ketat. Ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan antenatal setiap minggu, termasuk pengecekan tekanan darah, berat badan, dan pemeriksaan urine.

Jika kondisi tidak membaik atau malah memburuk setelah dua minggu rawat jalan, pasien harus dirawat inap. Pada kehamilan kurang dari 37 minggu, tujuan utama adalah mempertahankan kehamilan hingga cukup bulan selama kondisi ibu dan janin stabil. Pada usia kehamilan 37 minggu atau lebih, persalinan biasanya direkomendasikan. Jika serviks sudah matang, induksi persalinan dapat dilakukan. Namun, bila serviks belum matang, dilakukan pematangan serviks terlebih dahulu atau operasi sesar sesuai indikasi (Hidayat et al., 2016).

Selain penanganan medis, peran keluarga sangat penting dalam memberikan dukungan emosional dan memastikan ibu hamil mematuhi jadwal pemeriksaan. Lingkungan yang nyaman dan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan tingkat stres, yang juga berkontribusi terhadap kestabilan tekanan darah.

Bisakah Dicegah?

Mencegah preeklampsia sepenuhnya memang belum mungkin, namun risiko dan dampaknya dapat ditekan melalui deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko. Kunci utama pencegahan adalah pemeriksaan kehamilan rutin (antenatal care).
Ibu hamil dianjurkan untuk menjalani pola makan seimbang dengan asupan protein yang cukup, membatasi lemak jenuh, dan mengonsumsi vitamin sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Pembatasan garam juga penting jika terjadi pembengkakan. Istirahat yang cukup dan menghindari aktivitas fisik berat juga dianjurkan.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Edukasi mengenai tanda bahaya kehamilan menjadi langkah krusial. Ibu hamil dan keluarga harus mengetahui gejala seperti sakit kepala hebat, pandangan kabur, pembengkakan wajah atau tangan, serta gerakan janin yang berkurang. Dengan pengetahuan ini, ibu dapat segera mencari pertolongan medis sebelum kondisi memburuk (Manuaba, 2010).

Kesadaran adalah Kunci

Preeklampsia sering kali disebut sebagai “silent killer” karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada awalnya. Banyak kasus yang baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap berat. Oleh karena itu, kesadaran ibu hamil untuk rutin memeriksakan diri, mematuhi anjuran medis, dan menjaga kesehatan sangat menentukan.

Pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat perlu bersinergi dalam mengedukasi ibu hamil dan keluarganya. Dengan deteksi dini, penanganan tepat, dan dukungan keluarga, risiko kematian ibu dan janin akibat preeklampsia dapat ditekan secara signifikan. Preeklampsia bukanlah takdir yang tak bisa diubah; dengan langkah yang tepat, kita dapat melindungi dua nyawa sekaligus ibu dan bayinya.

Penulis: Siti Nurahayu, Mahasiswa Fakultas kesehatan Universitas Nasional

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

TAGGED:Opini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Foto: Rapat dengar pendapat kepala badan pengawas tenaga nuklir/Dok.TU

Bahan Bakar Reaktor Nuklir di Serpong Disebut Habis, Bapeten Soroti Aset INUKI

Rapat Pembahasan Bersama Beberapa Pihak Terkait Pencegahan Kebakaran TPA Cipeucang/ Dok. Tu

Cipeucang Dijaga 24 Jam, Pemkot Tangsel Cegah Kebakaran Lahan

Foto: istimewa

Polisi Amankan 4 Motor Diduga Hendak Balap Liar di Puspemkab Tangerang

Foto: Humas Polresta Tangerang

Persija vs Persib, Polisi Pantau Pergerakan Suporter dan Lokasi Nobar di Tangerang

konpers PMJ soal kasus penganiayaan bambang setiawan pedagang cermin pejompongan / Dok. Ist

Polda Metro Jaya Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Kematian Pedagang Kaca Bambang Setiawan

Gelar aksi solidaritas doa bersama dan bagikan makanan untuk jurnalis yang hilang/Foto: Dok.TU

Pegiat Media Sosial dan Pewarta Tangsel Gelar Aksi Solidaritas Doa Bersama dan Bagikan Makanan Untuk Jurnalis yang Hilang

Berita Terkait

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Foto : ilustrasi/freepik
Opini

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Jangan Lewatkan

Lokasi TPST Abu & Co Berlokasi di Sempadan Sungai Cisadane, Tumpuk 100 Ton Sampah/ Dok. TU

Sampah Menggunung Capai 100 Ton, TPST Abu & Co Diduga Cemari Sungai Cisadane di Tangsel

Sabtu, 12 September 2026
konpers PMJ soal kasus penganiayaan bambang setiawan pedagang cermin pejompongan / Dok. Ist

Polda Metro Jaya Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Kematian Pedagang Kaca Bambang Setiawan

Sabtu, 12 September 2026
Foto: Ilustrasi/istimewa

Dugaan Foto Guru Diam-diam, Oknum PPPK Tangsel Disebut Adik Pimpinan DPRD

Senin, 7 September 2026
Foto: Istimewa

Dewi Asmara Dorong Sistem Deteksi Dini TPPO di Bandara Soekarno-Hatta

Jumat, 11 September 2026
Foto: pria yang diduga mirip dengan Dimyati Natakusumah

Wagub Banten Diterpa Isu Miring Terkait Kehidupan Pribadi di Tangsel

Sabtu, 12 September 2026
Foto: penangkapan terduga pelaku pencuri modus beli sepeda motor pakai sistem COD di Solear | Dok. Tangerangupdate.com

Maling Modus Pura-pura Beli Motor COD Tertangkap di Solear

Selasa, 8 September 2026
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (7/9/2026). | Dok. DPR RI

Kemenkeu Kantongi Rp49,8 Triliun di APBN 2027, Komisi XI DPR Tekankan Kinerja dan Dampak

Selasa, 8 September 2026
Foto: istimewa

Dua Jam Usai Curi Motor di Karawaci, Dua Pria Diciduk Polisi, Satu Ditembak Gegara Melawan

Sabtu, 12 September 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp