Tangerangupdate.com – Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Kota Tangerang Selatan. Warga Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu, terpaksa memanfaatkan Sungai Cisadane untuk mandi dan mencuci setelah sumur warga mengering akibat musim kemarau.
Salah seorang warga, Ekawati, mengaku sudah hampir satu bulan kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur gali yang selama ini menjadi sumber air utama di rumahnya tidak lagi mengeluarkan air sehingga ia memilih mencuci pakaian di Sungai Cisadane.
“Sudah enggak ada (air). Sudah sebulan,” ujar Ekawati saat ditemui di tepian Sungai Cisadane, Rabu (15/7/2026).
Tak hanya Ekawati, warga lainnya juga mengandalkan bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan. Masnah, warga Kranggan, mengatakan debit air sumurnya terus menurun sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Air ada sedikit (di sumur), cuma (terus) berkurang,” katanya.
Ketua RW 02 Kelurahan Kranggan, Nasrullah, mengatakan krisis air bersih saat musim kemarau sudah menjadi persoalan yang berulang di wilayahnya. Menurut dia, kondisi tersebut mulai dirasakan warga sejak kawasan Kranggan berkembang menjadi wilayah perkotaan.
“Dulu tidak pernah kekurangan air. Mandi bisa di danau atau Kali Salak. Sekarang, setiap musim kemarau warga selalu mengalami kesulitan air,” ujar Nasrullah.
Ia menjelaskan, krisis air mulai dirasakan sekitar tahun 2016 dan mencapai kondisi terparah pada musim kemarau 2023. Saat itu, BPBD hampir setiap hari mendistribusikan air bersih ke permukiman warga.
“Yang paling parah tahun 2023. Hampir setiap hari BPBD mengirimkan air ke wilayah kami,” ungkapnya.
Meski bantuan air bersih masih terus disalurkan, warga berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang. Salah satunya dengan membangun jaringan perpipaan air bersih agar masyarakat tidak lagi bergantung pada sumur gali yang kerap mengering saat musim kemarau.
Nasrullah mengaku usulan pemasangan jaringan pipa air bersih telah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah. Namun hingga kini, realisasinya belum juga terwujud.
“Kadang-kadang birokrasinya susah, berbelit-belit,” pungkasnya.
Reporter: Rhomi
