Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Senin, 2 November 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Membangun Solidaritas Kita

Redaksi TU
Redaksi TU
Senin, 2 Juni 2025 | 08:46 WIB
Foto: Popi Paswa Murani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta | Dok. Pribadi
Foto: Popi Paswa Murani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com – Indonesia adalah negara yang memiliki perbedaan yang begitu banyak, yaitu perbedaan suku, adat, kepercayaan, agama, status sosial, kebiasaan, budaya, dan lain-lain. Tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan negara Indonesia menjadi tercerai berai, melainkan menjadi negara yang bersatu secara harmonis.

Contents
Masalah Kita Kita harus bagaimana?

Nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan menjadi acuan sikap dan perilaku manusia sebagai makhluk individual yang tidak terlepas dari kaitannya pada kehidupan masyarakat dengan kebudayaan yang khas. Persatuan tersebut tidak dapat tercapai apabila tidak ada rasa solidaritas antar sesama umat manusia. Jika negara Indonesia tidak memiliki rasa solidaritas antar sesama, maka negara Indonesia tidak akan merdeka sampai saat ini.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Di era yang dipenuhi dengan arus globalisasi dan modernisasi, menyebabkan rasa solidaritas antar sesama di Indonesia yang awalnya penuh dengan ketradisionalan menjadi berkurang. Rasa solidaritas tersebut yang awalnya membudaya di negara Indonesia bisa saja terus terkikis dengan arus globalisasi yang penyebarluasanya melalui berbagai media konvensional ataupun arus utama saat ini melalui media sosial.

Kurangnya solidaritas di Indonesia dapat dilihat pada masyarakat di perkotaan, seperti di perumahan, apartemen, rumah rumah elit dan lain-lain. Agama Islam sangat menekankan penghargaan terhadap rasa solidaritas. Islam merupakan agama yang luhur dengan peraturan-peraturan tatanan kehidupannya yang lengkap dan sempurna. 

Oleh karena itu, Islam menekankan solidaritas baik sesama muslim maupun solidaritas umat manusia yang senantiasa terus didengarkan agar kehidupan manusia sejahtera aman dan damai. Namun seringkali sebagian dari umat Islam kurang mempunyai solidaritas. Oleh karena itu, perlu diadakannya usaha-usaha tertentu untuk meningkatkan solidaritas dalam kehidupan.

BACA JUGA:  Tantangan Partai Politik Atas Putusan MK NO. 135/PUU-XXII/2024
Masalah Kita 

Terdapat tiga gejala penting yang dapat kita lihat sebagai dampak dari krisis solidaritas, yakni masyarakat penuh risiko, timbulnya pemikiran yang mengarah pada praktik radikalisme, dan materialistis. Ketiganya berkelindan sebagai implikasi praktis pudarnya rasa kebangsaan atau perasaan solider antar sesama.

Untuk yang pertama, karena lemahnya kontrol publik atas birokrasi dan pasar, demokratisasi yang seharusnya merehabilitasi solidaritas kebangsaan justru jadi arena produksi dan distribusi risiko. Ketika pengalaman bersama sebagai bangsa gagal direproduksi, ketidakpastian komunikasi di masyarakat jadi makin besar sehingga setiap orang menjadi risiko bagi sesamanya. Masyarakat kita berubah menjadi apa yang oleh Ulrich Beck disebut dengan masyarakat risiko.

Sebagai contoh ketika politik kita saat ini telah kehilangan daya mobilisasinya untuk menggalang solidaritas sosial dikarenakan individu condong mengamankan diri. Di tengah-tengah meningkatnya ketidakpercayaan kepada para pemimpin yang korup, negara yang seharusnya mengamankan, menjadi tempat yang melindungi, justru timbul menjadi faktor risiko bagi individu. 

Kedua, memudarnya khasiat bangsa sebagai pembangun solidaritas yang mengancam ketahanan nasional kita. Hal itu membuat kebutuhan akan heroisme dan rasa pengorbanan telah kehilangan tempatnya. Apalagi secara sadar-atau tidak sadar, media sosial kita telah menjadi semacam medan pertarungan segala macam ekspresi, sisi buruknya seperti memfasilitasi ekspresi caci-maki penuh kebencian, bahkan terparahnya bisa mengarah pada konflik. 

Salah dalam menangani, bisa saja kita terjebak pada praktik radikalisme. Sifat ini biasanya ditandai dengan rasa fanatisme yang tinggi terhadap sesuatu, intoleransi, dan keinginan untuk memaksakan fahamnya kepada orang lain, meskipun dengan cara-cara yang tidak wajar. 

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Ketiga, ekspansi pasar kapitalis dalam globalisasi membuat uang menjadi faktor yang sangat menentukan dalam interaksi sosial. Dengan kata kunci ini, loyalitas kebangsaan menjadi relatif. Materialisme mempersekutukan kepentingan dan kurang meminati karakter dan identitas. Dengan menguasai sumber-sumber kapital, maka bisa menguasai apa saja yang diinginkan. 

Perhatikan dengan apa yang tejadi saat ini. Kekuatan kapital menyerbu masuk ke parlemen, pengadilan, dan pemerintahan. Modal yang besar sebagai kode baru menggantikan rasa solidaritas, telah dipakai untuk mobilisasi kepentingan di tiga arena tersebut. Panggung-panggung demokrasi, seperti pemilu, pun dipenuhi figur penjudi politis yang mencari untung dari cashflow kampanye. Ketika uang menjadi kategori baru dalam politik, kemiskinan tidak lagi dibicarakan sebagai masalah solidaritas.

Kita harus bagaimana?

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan tidak bisa hidup secara sendirian di dunia ini, oleh karena itu membutuhkan solidaritas. Solidaritas pada umumnya adalah rasa mempunyai atau memiliki terhadap sesama, yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia. Jika dilihat dari pengertian tersebut banyak faktor yang pada akhirnya akan memicu rasa solidaritas bangsa lebih kuat, faktor tersebut dapat saja berubah sesuai dengan situasi dan kondisi zaman.

Generasi kita saat ini banyak sekali yang kurang memiliki solidaritas antar sesama. Kita lebih nyaman memikirkan kepentingan, masalah, dan keinginan kita sendiri. Ego kita cukup besar yang salah satu pendorongnya disebabkan karena kemajuan teknologi yang semakin canggih. Hal tersebut menimbulkan sikap individualistis, padahal jika kembali ke akar bangsa ini, hal tersebut tidak sesuai dengan kultur dan budaya bangsa Indonesia yaitu gotong royong.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Jika sikap individualistis tersebut terlalu besar tumbuh dalam diri, maka akan menimbulkan antipati dari dan ke lingkungan sekitar. Sikap tersebut juga tidak merefleksikan sumpah pemuda yang pada saat itu para pemuda bangsa Indonesia bersatu padu menggiatkan rasa solidaritas sebagai satu bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Dikarenakanya timbul rasa kurang kepedulian terhadap sesama yang dikhawatirkan dapat memecah belah bangsa pada masa depan, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan rasa solidaritas bangsa yang kuat. Solidaritas harus dibangun secara menyeluruh. Menjadi suatu kesadaran kita bersama.

Peningkatan rasa solidaritas bangsa ini dapat dilakukan melalui pendekatan kebijakan, pendidikan, dan sosial-kemasyarakatan. Pendekatan kebijakan mempunyai arti penting, Undang-Undang Dasar 1945 telah mengatur dengan jelas mengenai penghargaan akan keberagaman. Misalnya kebijakan mengenai kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat; kebebasan beragama; hak asasi manusia dan lain sebagainya. Kedua, melalui pendekatan pendidikan. Bisa dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga hingga melalui lembaga pendidikan formal maupun informal, yang merupakan lembaga vital dalam upaya membangun rasa solidaritas serta menghilangkan sikap individualistik dari masyarakat terutama pemuda Indonesia dewasa ini.

Penulis: Popi Paswa Murani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

TAGGED:Opini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Foto: Ketua paguyuban warga, Zulfani Ahmad, di depan Direktur Utama dari PT pengembang Perumahan Vila Rizki Insaani, Keisar Rachmat Magfirat | Dok. Tangerangupdate.com

Keluhan Tak Kunjung Didengar, Warga Ancam Somasi Pengembang Vila Rizki Insaani

Foto: bengkel tempat kejadian perkara (TKP) dugaan penganiayaan rekan kerja di Cikupa | Dok. Istimewa

Sering Dipanggil ‘Si Cepu’ Pria di Cikupa Siram Rekan Kerja Pakai Air Keras

Foto: aksi para penghuni menuntut perbaikan layanan dan keamanan di depan kantor manajemen Vila Rizki Insaani | Dok. Tangerangupdate.com

Warga Vila Rizki Insaani Gelar Aksi Protes, Keluhkan Keamanan dan Konflik Antarwarga

Foto: Perumahan Vila Rizki Insani | Dok. Tangerangupdate.com

Akses Jalan Kompleks Jadi Jalur Umum akibat Longsor, Warga Villa Rizki Insani Keluhkan Keamanan Klaster

Foto: Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan saat meninjau venue Porprov VII Banten | Dok. Istimewa

Tinjau Sejumlah Venue Porprov VII Banten 2026, Pilar Pastikan Fasilitas Memenuhi Standar Kelayakan

Pekerja sedang mengerjakan bronjong yang longsor, Diduga Makan Sempadan Sungai / Dok. TU

Tak Berizin, Proyek Turap Milik Swasta Kali Jeletreng di Protes Warga Makan Sempadan Jalan

Berita Terkait

Foto: Pengendara motor nekat kalau di atas trotoar | Dok. Hafiza Destianissa, Mahasiswi Universitas Pamulang
Opini

Hak Pejalan Kaki Dirampas: Saat Trotoar Berubah Jadi Jalan Motor

Opini

Kerap Terjebak Macet di Pamulang? Ternyata Ini Penyebab Arus Siliwangi – Puspitek Tersendat

Opini

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Jangan Lewatkan

Foto: Perumahan Vila Rizki Insani | Dok. Tangerangupdate.com

Akses Jalan Kompleks Jadi Jalur Umum akibat Longsor, Warga Villa Rizki Insani Keluhkan Keamanan Klaster

Rabu, 28 Oktober 2026
Foto: aksi para penghuni menuntut perbaikan layanan dan keamanan di depan kantor manajemen Vila Rizki Insaani | Dok. Tangerangupdate.com

Warga Vila Rizki Insaani Gelar Aksi Protes, Keluhkan Keamanan dan Konflik Antarwarga

Jumat, 30 Oktober 2026
Foto: Ketua paguyuban warga, Zulfani Ahmad, di depan Direktur Utama dari PT pengembang Perumahan Vila Rizki Insaani, Keisar Rachmat Magfirat | Dok. Tangerangupdate.com

Keluhan Tak Kunjung Didengar, Warga Ancam Somasi Pengembang Vila Rizki Insaani

Sabtu, 31 Oktober 2026
Foto: istimewa

12 Kelompok Pemuda di Kabupaten Tangerang Terima Hibah YCAF 2026

Selasa, 27 Oktober 2026
Foto: istimewa

Porprov VII Banten 2026 Pertandingkan 60 Cabor, Terbanyak Sepanjang Sejarah

Selasa, 27 Oktober 2026
Foto: bengkel tempat kejadian perkara (TKP) dugaan penganiayaan rekan kerja di Cikupa | Dok. Istimewa

Sering Dipanggil ‘Si Cepu’ Pria di Cikupa Siram Rekan Kerja Pakai Air Keras

Sabtu, 31 Oktober 2026
Foto: Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan | Dok. Istimewa

KONI Banten dan Panitia Terus Matangkan Persiapan Porprov VII Banten 2026

Selasa, 27 Oktober 2026
Foto: Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan saat meninjau venue Porprov VII Banten | Dok. Istimewa

Tinjau Sejumlah Venue Porprov VII Banten 2026, Pilar Pastikan Fasilitas Memenuhi Standar Kelayakan

Rabu, 28 Oktober 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp