Tangerangupdate.com – Kenaikan harga obat-obatan yang dipicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai diantisipasi sejumlah rumah sakit di Kabupaten Tangerang. Salah satunya dilakukan RSUD Tigaraksa dengan menyiapkan stok cadangan obat dan melakukan penyesuaian perencanaan anggaran.
Direktur RSUD Tigaraksa, dr. Muhammad Faridzi Fikri, mengatakan pihaknya telah menerima informasi dari sejumlah distributor obat mengenai potensi kenaikan harga obat dalam waktu dekat. Meski belum ada rincian resmi terkait besaran kenaikan pada masing-masing jenis obat, pihak rumah sakit memperkirakan kenaikan dapat mencapai 15 hingga 20 persen.
“Kalau melihat ini nilai dolar segini sih kemungkinan ya 15 sampai 20 persen ya mungkin ya, kemungkinan ya. Tapi kan kami belum dapat harga pastinya, itu kurang lebih,” katanya saat dihubungi wartawan pada Kamis 11 Juni 2026.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut berpotensi terjadi karena sebagian besar bahan baku obat masih bergantung pada impor. Obat-obatan yang menggunakan bahan dasar impor diperkirakan akan terdampak lebih besar dibandingkan produk farmasi yang diproduksi menggunakan bahan baku lokal.
“Mungkin ya (karena pelemahan rupiah terhadap dollar), kemungkinan, karena kan sebagian besar obat-obat kita itu bahan dasarnya kan diimpor,” katanya.
Meski demikian, Faridzi memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak akan terganggu. Pasalnya, sebagian besar pengadaan obat untuk kebutuhan tahun anggaran 2026 telah selesai dilakukan sebelum adanya informasi kenaikan harga tersebut.
Sebagai langkah mitigasi, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Tangerang tersebut telah menyiapkan buffer stock atau stok cadangan obat yang diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan hingga enam bulan ke depan.
“Ya, itu sih kalau untuk kelangkaan obat di rumah sakit kami membuat buffer stock ya, sudah melakukan pembelanjaan. Buffer stock ya, sampai dengan akhir tahun, 6 bulan ke depan sambil kita lihat untuk perencanaan 2027,” terangnya.
Selain menyiapkan stok cadangan, pihak rumah sakit juga akan melakukan efisiensi pada sejumlah pos belanja non-prioritas apabila kenaikan harga obat benar-benar terjadi. Anggaran akan difokuskan untuk menjamin ketersediaan obat bagi pasien.
Faridzi menambahkan, potensi kenaikan harga diperkirakan lebih banyak terjadi pada kelompok obat impor, seperti antibiotik serta obat untuk penyakit tidak menular, termasuk hipertensi dan kanker.
Sementara itu, obat-obatan umum seperti obat sakit kepala, sakit perut, vitamin, dan sejumlah obat dasar lainnya diperkirakan relatif aman karena sebagian besar telah diproduksi di dalam negeri.
“Antibiotik, ya. Kemudian obat-obat penyakit tidak meluar menular seperti hipertensi, ya, kanker utama, tuh, apalagi tuh penyakit-penyakit kanker itu memang biasanya obat-obatnya impor. Ya, insyaallah itu sudah ada di lokal (diproduksi dalam neger) kita, vitamin dan lain-lain mudah-mudahan ada,” tambahnya.
Terkait dampak terhadap pasien, pihak rumah sakit memastikan peserta BPJS Kesehatan tidak akan terdampak langsung oleh potensi kenaikan harga obat. Sebab biaya pelayanan tetap ditanggung melalui skema pembiayaan BPJS.
“Kalau pasien BPJS tentu tidak ada kenaikan itu, ya mereka tetap, dibiayai pemerintah,” pungkasnya.
Reporter: Rhomi
