Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Sabtu, 6 Juni 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Membangun Solidaritas Kita

Redaksi TU
Redaksi TU
Senin, 2 Juni 2025 | 08:46 WIB
Foto: Popi Paswa Murani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta | Dok. Pribadi
Foto: Popi Paswa Murani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com – Indonesia adalah negara yang memiliki perbedaan yang begitu banyak, yaitu perbedaan suku, adat, kepercayaan, agama, status sosial, kebiasaan, budaya, dan lain-lain. Tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan negara Indonesia menjadi tercerai berai, melainkan menjadi negara yang bersatu secara harmonis.

Contents
Masalah Kita Kita harus bagaimana?

Nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan menjadi acuan sikap dan perilaku manusia sebagai makhluk individual yang tidak terlepas dari kaitannya pada kehidupan masyarakat dengan kebudayaan yang khas. Persatuan tersebut tidak dapat tercapai apabila tidak ada rasa solidaritas antar sesama umat manusia. Jika negara Indonesia tidak memiliki rasa solidaritas antar sesama, maka negara Indonesia tidak akan merdeka sampai saat ini.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Di era yang dipenuhi dengan arus globalisasi dan modernisasi, menyebabkan rasa solidaritas antar sesama di Indonesia yang awalnya penuh dengan ketradisionalan menjadi berkurang. Rasa solidaritas tersebut yang awalnya membudaya di negara Indonesia bisa saja terus terkikis dengan arus globalisasi yang penyebarluasanya melalui berbagai media konvensional ataupun arus utama saat ini melalui media sosial.

Kurangnya solidaritas di Indonesia dapat dilihat pada masyarakat di perkotaan, seperti di perumahan, apartemen, rumah rumah elit dan lain-lain. Agama Islam sangat menekankan penghargaan terhadap rasa solidaritas. Islam merupakan agama yang luhur dengan peraturan-peraturan tatanan kehidupannya yang lengkap dan sempurna. 

Oleh karena itu, Islam menekankan solidaritas baik sesama muslim maupun solidaritas umat manusia yang senantiasa terus didengarkan agar kehidupan manusia sejahtera aman dan damai. Namun seringkali sebagian dari umat Islam kurang mempunyai solidaritas. Oleh karena itu, perlu diadakannya usaha-usaha tertentu untuk meningkatkan solidaritas dalam kehidupan.

BACA JUGA:  Tantangan Partai Politik Atas Putusan MK NO. 135/PUU-XXII/2024
Masalah Kita 

Terdapat tiga gejala penting yang dapat kita lihat sebagai dampak dari krisis solidaritas, yakni masyarakat penuh risiko, timbulnya pemikiran yang mengarah pada praktik radikalisme, dan materialistis. Ketiganya berkelindan sebagai implikasi praktis pudarnya rasa kebangsaan atau perasaan solider antar sesama.

Untuk yang pertama, karena lemahnya kontrol publik atas birokrasi dan pasar, demokratisasi yang seharusnya merehabilitasi solidaritas kebangsaan justru jadi arena produksi dan distribusi risiko. Ketika pengalaman bersama sebagai bangsa gagal direproduksi, ketidakpastian komunikasi di masyarakat jadi makin besar sehingga setiap orang menjadi risiko bagi sesamanya. Masyarakat kita berubah menjadi apa yang oleh Ulrich Beck disebut dengan masyarakat risiko.

Sebagai contoh ketika politik kita saat ini telah kehilangan daya mobilisasinya untuk menggalang solidaritas sosial dikarenakan individu condong mengamankan diri. Di tengah-tengah meningkatnya ketidakpercayaan kepada para pemimpin yang korup, negara yang seharusnya mengamankan, menjadi tempat yang melindungi, justru timbul menjadi faktor risiko bagi individu. 

Kedua, memudarnya khasiat bangsa sebagai pembangun solidaritas yang mengancam ketahanan nasional kita. Hal itu membuat kebutuhan akan heroisme dan rasa pengorbanan telah kehilangan tempatnya. Apalagi secara sadar-atau tidak sadar, media sosial kita telah menjadi semacam medan pertarungan segala macam ekspresi, sisi buruknya seperti memfasilitasi ekspresi caci-maki penuh kebencian, bahkan terparahnya bisa mengarah pada konflik. 

Salah dalam menangani, bisa saja kita terjebak pada praktik radikalisme. Sifat ini biasanya ditandai dengan rasa fanatisme yang tinggi terhadap sesuatu, intoleransi, dan keinginan untuk memaksakan fahamnya kepada orang lain, meskipun dengan cara-cara yang tidak wajar. 

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Ketiga, ekspansi pasar kapitalis dalam globalisasi membuat uang menjadi faktor yang sangat menentukan dalam interaksi sosial. Dengan kata kunci ini, loyalitas kebangsaan menjadi relatif. Materialisme mempersekutukan kepentingan dan kurang meminati karakter dan identitas. Dengan menguasai sumber-sumber kapital, maka bisa menguasai apa saja yang diinginkan. 

Perhatikan dengan apa yang tejadi saat ini. Kekuatan kapital menyerbu masuk ke parlemen, pengadilan, dan pemerintahan. Modal yang besar sebagai kode baru menggantikan rasa solidaritas, telah dipakai untuk mobilisasi kepentingan di tiga arena tersebut. Panggung-panggung demokrasi, seperti pemilu, pun dipenuhi figur penjudi politis yang mencari untung dari cashflow kampanye. Ketika uang menjadi kategori baru dalam politik, kemiskinan tidak lagi dibicarakan sebagai masalah solidaritas.

Kita harus bagaimana?

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan tidak bisa hidup secara sendirian di dunia ini, oleh karena itu membutuhkan solidaritas. Solidaritas pada umumnya adalah rasa mempunyai atau memiliki terhadap sesama, yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia. Jika dilihat dari pengertian tersebut banyak faktor yang pada akhirnya akan memicu rasa solidaritas bangsa lebih kuat, faktor tersebut dapat saja berubah sesuai dengan situasi dan kondisi zaman.

Generasi kita saat ini banyak sekali yang kurang memiliki solidaritas antar sesama. Kita lebih nyaman memikirkan kepentingan, masalah, dan keinginan kita sendiri. Ego kita cukup besar yang salah satu pendorongnya disebabkan karena kemajuan teknologi yang semakin canggih. Hal tersebut menimbulkan sikap individualistis, padahal jika kembali ke akar bangsa ini, hal tersebut tidak sesuai dengan kultur dan budaya bangsa Indonesia yaitu gotong royong.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Jika sikap individualistis tersebut terlalu besar tumbuh dalam diri, maka akan menimbulkan antipati dari dan ke lingkungan sekitar. Sikap tersebut juga tidak merefleksikan sumpah pemuda yang pada saat itu para pemuda bangsa Indonesia bersatu padu menggiatkan rasa solidaritas sebagai satu bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Dikarenakanya timbul rasa kurang kepedulian terhadap sesama yang dikhawatirkan dapat memecah belah bangsa pada masa depan, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan rasa solidaritas bangsa yang kuat. Solidaritas harus dibangun secara menyeluruh. Menjadi suatu kesadaran kita bersama.

Peningkatan rasa solidaritas bangsa ini dapat dilakukan melalui pendekatan kebijakan, pendidikan, dan sosial-kemasyarakatan. Pendekatan kebijakan mempunyai arti penting, Undang-Undang Dasar 1945 telah mengatur dengan jelas mengenai penghargaan akan keberagaman. Misalnya kebijakan mengenai kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat; kebebasan beragama; hak asasi manusia dan lain sebagainya. Kedua, melalui pendekatan pendidikan. Bisa dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga hingga melalui lembaga pendidikan formal maupun informal, yang merupakan lembaga vital dalam upaya membangun rasa solidaritas serta menghilangkan sikap individualistik dari masyarakat terutama pemuda Indonesia dewasa ini.

Penulis: Popi Paswa Murani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

TAGGED:Opini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

Terpopuler

Foto: Ilustrasi/Freepik

Tawuran Antar Pelajar SMP Pecah di Sindang Jaya, Satu Orang Tewas

Foto: Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Muhamad Amud | Dok. Tangerangupdate.com

Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Minta Dishub Serius Tangani PJU Mati

Foto: penyerahan kartu identitas anak (KIA) secara simbolis di Gedung Kejari Kabupaten Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Kejari Kabupaten Tangerang Bantu 200 Anak Yatim dan Piatu Miliki Identitas Resmi

Foto: Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Tangerang, Bimo Mahfud Fudzianto | Dok. Tangerangupdate.com

Anggaran Konsumsi Rapat Kecamatan Curug Rp1,6 Miliar Jadi Sorotan DPRD

Foto: aksi demonstrasi Aliansi Mahasiswa Penegak Demokrasi (AMPD) di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Mahasiswa Soroti Anggaran Pengadaan Mebel Sekolah Rp6,5 Miliar di Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang

Foto: sidang putusan kasus KDRT terhadap ibu hamil oleh mantan suami di PN Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Mantan Suami Pelaku KDRT terhadap Ibu Hamil di Ciputat Divonis 4 Bulan Penjara

Berita Terkait

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Foto : ilustrasi/freepik
Opini

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Iduladha Sebagai Jalan Refleksi Sosial dan Spiritual

Foto : Kopi arabika (kiri) & Kopi Robusta (kanan) | Dok. TU
Opini

Jangan Salah Pilih! Kenali Beda Kandungan Arabika dan Robusta Serta Takaran Pas Agar Kopi Jadi Obat, Bukan Racun

Ahmad Priatna, Pemuda Asli Cipondoh | Dok. Pribadi
Opini

Cipondoh Tenggelam Lagi: Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?

Foto: Irtiakhul Afifah, Mahasiswi Universitas Pamulang | Dok. Pribadi
Opini

Dilema Kelas Menengah: Menjadi Tulang Punggung atau Sapi Perah Pajak?

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Tiga Pemikir Revolusi Iran dan Jejaknya dalam Konflik Global

Jangan Lewatkan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Senin, 1 Juni 2026
Foto: pemuda bawa sinte digiring menggunakan mobil tahanan menuju Mapolres Tangsel | Dok. Istimewa

Pemuda Bawa Sinte Kena Razia Polisi di Depan Gedung DPRD Tangsel, Langsung Dibawa Pakai Mobil Tahanan

Senin, 1 Juni 2026
Foto: Presidium Gerakan Aktivis Jakarta, Agus Harta | Dok. Tangerangupdate.com

Aktivis Desak Semua Yayasan SPPG dan Pejabat BGN Diperiksa

Kamis, 4 Juni 2026
Foto: proses bedah rumah warga Bojong Nangka menggunakan dana mandiri | Dok. Tangerangupdate.com

Bedah Rumah dengan Anggaran Mandiri, Warga Kurang Mampu di Bojong Nangka Kini Miliki Hunian Layak

Selasa, 2 Juni 2026
Foto: penyerahan kartu identitas anak (KIA) secara simbolis di Gedung Kejari Kabupaten Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Kejari Kabupaten Tangerang Bantu 200 Anak Yatim dan Piatu Miliki Identitas Resmi

Jumat, 5 Juni 2026
Foto: TKP pencurian sepeda motor oleh bapak dan anak di Curug | Dok. Tangerangupdate.com

Maling Motor Bawa Anak Ketangkap di Curug, Bapak Babak Belur Dimassa

Selasa, 2 Juni 2026
Foto: Istimewa

Komplotan Begal Berkedok Keluarga Korban Penganiayaan di Jakarta Barat Ditangkap Polisi

Senin, 1 Juni 2026
Foto: pemantauan harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional | Tangerangupdate.com

Harga Kebutuhan Pokok di Kabupaten Serang Stabil Pasca Idul Adha 2026, Tomat Naik Tipis

Rabu, 3 Juni 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp