Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Sabtu, 6 Juni 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Preeklampsia sebagai Ancaman Tersembunyi bagi Ibu Hamil dan Janin

Redaksi TU
Redaksi TU
Sabtu, 16 Agustus 2025 | 11:48 WIB
Foto: Ilustrasi/Freepik: prostooleh
Foto: Ilustrasi/Freepik: prostooleh
SHARE

Tangerangupdate.com – Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang masih menjadi perhatian besar di dunia kesehatan ibu. Kondisi ini biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu atau kadang segera setelah persalinan.
Ciri utamanya adalah tekanan darah tinggi (≥140/90 mmHg), adanya protein dalam urine (proteinuria), dan kadang disertai pembengkakan pada wajah, tangan, atau tungkai. Meskipun pada awalnya tampak ringan, preeklampsia dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa ibu dan janin jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan cepat (Sarwono, 2010; Prawirohardjo, 2010).

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa preeklampsia menjadi penyebab signifikan kematian ibu di berbagai negara, terutama di wilayah berkembang. Setiap tahun, ribuan ibu di dunia meninggal akibat komplikasi ini. Di Indonesia, preeklampsia termasuk dalam tiga besar penyebab kematian ibu, bersama dengan perdarahan dan infeksi. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya isu medis, tetapi juga menyangkut keselamatan generasi penerus bangsa.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Mengapa Preeklampsia Terjadi?

Penyebab pasti preeklampsia belum sepenuhnya dipahami, tetapi para ahli telah mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang berperan. Ibu hamil yang menjalani kehamilan pertama (primigravida) memiliki risiko lebih besar, terutama jika belum terbentuk kekebalan tubuh terhadap faktor kehamilan sebelumnya. Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya atau pada keluarga dekat juga meningkatkan peluang terjadinya kondisi ini.

Selain itu, ibu yang mengandung bayi kembar atau lebih, menderita hipertensi kronis, diabetes melitus, penyakit ginjal, atau penyakit autoimun seperti lupus, berada dalam kelompok risiko tinggi. Usia ibu yang terlalu muda (<20 tahun) atau terlalu tua (>35 tahun) juga menjadi pemicu. Faktor lain yang tak kalah penting adalah obesitas atau peningkatan berat badan yang berlebihan selama kehamilan, serta kondisi rahim yang terlalu meregang akibat hidramnion atau kehamilan ganda (Hanifah, 2014).

BACA JUGA:  Jolly Roger (Bendera One Piece): Alarm Perbaikan atau Revolusi bagi Republik Indonesia ke-80

Bagaimana Gejala Awalnya?

Preeklampsia ringan sering kali tidak menimbulkan keluhan yang dramatis, sehingga ibu hamil mungkin tidak menyadari kondisinya. Gejala yang dapat ditemukan meliputi tekanan darah tinggi yang terukur minimal dua kali pada pemeriksaan terpisah, penambahan berat badan berlebihan (≥1 kg per minggu), pembengkakan di kaki, wajah, atau tangan, serta proteinuria pada pemeriksaan urine.

Pada tahap awal, keluhan bisa berupa sakit kepala ringan, rasa tidak nyaman, atau kelelahan. Namun, belum muncul gangguan penglihatan berat atau nyeri ulu hati. Justru karena gejalanya bisa samar, pemeriksaan rutin menjadi sangat penting. Tanpa deteksi dini, preeklampsia ringan dapat berkembang menjadi preeklampsia berat dengan gejala seperti sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri ulu hati, mual muntah, hingga kejang (eklampsia) (Manuaba, 2011).

Dampak yang Mengintai

Jika tidak tertangani, preeklampsia dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius. Bagi ibu, risiko yang mengintai antara lain eklampsia (kejang yang berpotensi fatal), perdarahan otak, gagal ginjal, sindrom HELLP (gangguan hati dan pembekuan darah), edema paru, nekrosis hati, dan solusio plasenta (lepasnya plasenta sebelum waktunya).

Bagi janin, preeklampsia dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat di dalam rahim (Intrauterine Growth Restriction/IUGR), berat lahir rendah, kelahiran prematur, asfiksia saat lahir, bahkan kematian janin. Hal ini terjadi karena suplai oksigen dan nutrisi dari plasenta ke janin berkurang akibat penyempitan pembuluh darah (Rukiyah, 2010).

BACA JUGA:  Membangun SDM Indonesia: Jalan Panjang Menuju Abad Ketiga Milenium

Bagaimana Penanganannya?

Pendekatan penanganan preeklampsia bergantung pada tingkat keparahan dan usia kehamilan. Pada kasus preeklampsia ringan, perawatan bisa dilakukan secara rawat jalan dengan pemantauan ketat. Ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan antenatal setiap minggu, termasuk pengecekan tekanan darah, berat badan, dan pemeriksaan urine.

Jika kondisi tidak membaik atau malah memburuk setelah dua minggu rawat jalan, pasien harus dirawat inap. Pada kehamilan kurang dari 37 minggu, tujuan utama adalah mempertahankan kehamilan hingga cukup bulan selama kondisi ibu dan janin stabil. Pada usia kehamilan 37 minggu atau lebih, persalinan biasanya direkomendasikan. Jika serviks sudah matang, induksi persalinan dapat dilakukan. Namun, bila serviks belum matang, dilakukan pematangan serviks terlebih dahulu atau operasi sesar sesuai indikasi (Hidayat et al., 2016).

Selain penanganan medis, peran keluarga sangat penting dalam memberikan dukungan emosional dan memastikan ibu hamil mematuhi jadwal pemeriksaan. Lingkungan yang nyaman dan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan tingkat stres, yang juga berkontribusi terhadap kestabilan tekanan darah.

Bisakah Dicegah?

Mencegah preeklampsia sepenuhnya memang belum mungkin, namun risiko dan dampaknya dapat ditekan melalui deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko. Kunci utama pencegahan adalah pemeriksaan kehamilan rutin (antenatal care).
Ibu hamil dianjurkan untuk menjalani pola makan seimbang dengan asupan protein yang cukup, membatasi lemak jenuh, dan mengonsumsi vitamin sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Pembatasan garam juga penting jika terjadi pembengkakan. Istirahat yang cukup dan menghindari aktivitas fisik berat juga dianjurkan.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Edukasi mengenai tanda bahaya kehamilan menjadi langkah krusial. Ibu hamil dan keluarga harus mengetahui gejala seperti sakit kepala hebat, pandangan kabur, pembengkakan wajah atau tangan, serta gerakan janin yang berkurang. Dengan pengetahuan ini, ibu dapat segera mencari pertolongan medis sebelum kondisi memburuk (Manuaba, 2010).

Kesadaran adalah Kunci

Preeklampsia sering kali disebut sebagai “silent killer” karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada awalnya. Banyak kasus yang baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap berat. Oleh karena itu, kesadaran ibu hamil untuk rutin memeriksakan diri, mematuhi anjuran medis, dan menjaga kesehatan sangat menentukan.

Pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat perlu bersinergi dalam mengedukasi ibu hamil dan keluarganya. Dengan deteksi dini, penanganan tepat, dan dukungan keluarga, risiko kematian ibu dan janin akibat preeklampsia dapat ditekan secara signifikan. Preeklampsia bukanlah takdir yang tak bisa diubah; dengan langkah yang tepat, kita dapat melindungi dua nyawa sekaligus ibu dan bayinya.

Penulis: Siti Nurahayu, Mahasiswa Fakultas kesehatan Universitas Nasional

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

TAGGED:Opini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

Terpopuler

Foto: Ilustrasi/Freepik

Tawuran Antar Pelajar SMP Pecah di Sindang Jaya, Satu Orang Tewas

Foto: Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Muhamad Amud | Dok. Tangerangupdate.com

Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Minta Dishub Serius Tangani PJU Mati

Foto: penyerahan kartu identitas anak (KIA) secara simbolis di Gedung Kejari Kabupaten Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Kejari Kabupaten Tangerang Bantu 200 Anak Yatim dan Piatu Miliki Identitas Resmi

Foto: Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Tangerang, Bimo Mahfud Fudzianto | Dok. Tangerangupdate.com

Anggaran Konsumsi Rapat Kecamatan Curug Rp1,6 Miliar Jadi Sorotan DPRD

Foto: aksi demonstrasi Aliansi Mahasiswa Penegak Demokrasi (AMPD) di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Mahasiswa Soroti Anggaran Pengadaan Mebel Sekolah Rp6,5 Miliar di Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang

Foto: sidang putusan kasus KDRT terhadap ibu hamil oleh mantan suami di PN Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Mantan Suami Pelaku KDRT terhadap Ibu Hamil di Ciputat Divonis 4 Bulan Penjara

Berita Terkait

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Foto : ilustrasi/freepik
Opini

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Iduladha Sebagai Jalan Refleksi Sosial dan Spiritual

Foto : Kopi arabika (kiri) & Kopi Robusta (kanan) | Dok. TU
Opini

Jangan Salah Pilih! Kenali Beda Kandungan Arabika dan Robusta Serta Takaran Pas Agar Kopi Jadi Obat, Bukan Racun

Ahmad Priatna, Pemuda Asli Cipondoh | Dok. Pribadi
Opini

Cipondoh Tenggelam Lagi: Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?

Foto: Irtiakhul Afifah, Mahasiswi Universitas Pamulang | Dok. Pribadi
Opini

Dilema Kelas Menengah: Menjadi Tulang Punggung atau Sapi Perah Pajak?

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Tiga Pemikir Revolusi Iran dan Jejaknya dalam Konflik Global

Jangan Lewatkan

Foto: Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Tangerang, Jaenudin | Dok. Tangerangupdate.com

Jalan Gelap, Dishub Kabupaten Tangerang Minta Warga Laporkan PJU Mati

Minggu, 31 Mei 2026
Foto: antrean kendaraan di SPBU Kota Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Harga BBM Nonsubsidi Naik Lagi, Pertamax Turbo Kini Dibanderol Rp20.750 Per Liter

Senin, 1 Juni 2026
Foto: Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah (kanan) | Dok. Istimewa

Misteri Kematian Tukang Cilok di Cikupa Mulai Terkuak, Polisi Temukan Delapan Luka di Tubuh Korban

Kamis, 4 Juni 2026
Foto: (dari kiri), ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Muhamad Amud, dan Sekretaris DPRD Kabupaten Tangerang, Neneng Almira | Dok. Istimewa

DPRD Kabupaten Tangerang Raih Predikat Zero Temuan Dua Tahun Berturut-turut dari BPK RI

Rabu, 3 Juni 2026
Dok. TU

Banom NU dan Dema UIN Jakarta Kompak Soroti Perpanjangan Jabatan Sekda Tangsel

Minggu, 31 Mei 2026
Foto : ilustrasi/freepik

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Sabtu, 30 Mei 2026
Foto: Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Nonce Thendean | Dok. Tangerangupdate.com

Dituding Rugikan Negara Rp1,5 Miliar, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Minta Tuduhan Dibuktikan

Rabu, 3 Juni 2026
Foto: Istimewa

Komplotan Begal Berkedok Keluarga Korban Penganiayaan di Jakarta Barat Ditangkap Polisi

Senin, 1 Juni 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp