Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Kamis, 8 Oktober 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Redaksi TU
Redaksi TU
Sabtu, 19 September 2026 | 08:35 WIB
SHARE

Opini – Pemerintah kembali mengumumkan capaian besar sekitar 4 juta tenaga kerja terserap dari target 19 juta lapangan kerja yang dijanjikan sejak Pemilu 2024. Angka ini terdengar meyakinkan, tapi jika ditelaah lebih jauh, ia menyimpan pertanyaan mendasar apakah pekerjaan yang tercipta benar-benar “layak” sebagaimana dimaksud Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8?
Program ini berjalan lewat beberapa jalur.

Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan hilirisasi industri. Di atas kertas, ambisi ini masuk akal. Indonesia tengah menuju puncak bonus demografi pada 2030–2040, saat penduduk usia produktif mendominasi. Tapi bonus demografi hanya jadi berkah jika diiringi lapangan kerja yang memadai bukan sekadar banyak, tapi juga bermutu.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Faktanya, program MBG yang telah membangun lebih dari 26 ribu dapur hingga April 2026 memang menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja. Namun posisi yang tersedia sebagian besar adalah juru masak, pengambil bahan, pemotong sayur, dan pencuci piring. Pekerjaan ini penting dan layak dihargai, tapi tidak dirancang untuk menyerap tenaga kerja terdidik termasuk ribuan sarjana yang justru sedang mencari kerja.

Pola serupa terlihat pada Koperasi Merah Putih.

Target penyerapannya mencapai 1,5 juta pekerja dari 80 ribu unit koperasi. Tapi hingga kini, pemerintah baru mengoperasikan koperasi secara bertahap bukan serentak karena keterbatasan gerai, gudang, pengelola, dan rantai pasok. Selama koperasi belum benar-benar beroperasi, angka 1,5 juta itu masih janji di atas kertas, bukan pekerjaan yang nyata.

Di sinilah letak persoalannya. SDGs Tujuan ke-8 menegaskan bahwa pekerjaan layak harus memenuhi unsur produktivitas, upah yang sesuai, jaminan sosial, dan kesempatan setara bukan sekadar tersedia. Realisasi 4 juta dari target 19 juta pun baru mencapai 21–32 persen, jauh dari rata-rata 3,86 juta lowongan per tahun yang dibutuhkan agar target lima tahun tercapai. Lebih dari itu, mayoritas pekerjaan yang tercipta masih bersifat informal, tanpa kepastian status dan kontrak kerja.

Pemerintah tampaknya lebih sibuk mengejar angka daripada membangun fondasi pekerjaan yang berkelanjutan. Klaim keberhasilan yang terus digaungkan berisiko menutupi kenyataan bahwa sebagian besar “lapangan kerja baru” ini rentan, tidak terlindungi BPJS Ketenagakerjaan, dan tidak proporsional dengan kualifikasi pendidikan angkatan kerja Indonesia.

Jika pemerintah serius ingin memenuhi mandat SDGs ke-8, ada beberapa langkah mendesak yang perlu diambil. Pertama, struktur pekerjaan di program seperti MBG harus diperluas tidak hanya untuk posisi informal, tapi juga membuka jalur bagi tenaga kerja terdidik lewat posisi pengawasan gizi, manajemen dapur, dan logistik. Kedua, operasionalisasi Koperasi Merah Putih harus didukung kepastian anggaran dan sarana fisik, agar target 1,5 juta pekerja tidak berhenti sebagai rencana. Ketiga, dan yang terpenting, setiap pekerjaan yang tercipta harus disertai jaminan sosial ketenagakerjaan, kejelasan status kontrak, dan upah yang layak.

Keberhasilan Program 19 Juta Lapangan Kerja seharusnya tidak diukur dari angka besar yang dipublikasikan, melainkan dari sejauh mana pekerjaan itu benar-benar mengubah nasib pekerja Indonesia memberi mereka penghasilan yang layak, perlindungan yang pasti, dan masa depan yang lebih baik. Tanpa itu, program ini hanya akan menjadi statistik yang megah di atas kertas, tapi kosong di lapangan.

oleh : Fikri Alfarizqi | Mahasiswa Magister Fakultas Hukum Universitas UPN ‘Veteran’ Jakarta

TAGGED:HukumOpini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Foto: alat pengukur debit air | Dok. Tangkapan layar/Tangerangupdate.com

Pemilik Ruko di Gading Serpong Kaget Dapat Tagihan PAM Rp38 Juta, Pemakaian Tercatat 2 Juta Liter

Salah satu kegiatan Bank Sampah yang ada di perumahan Serpong Jaya / Dok. TU

Memilah dari Rumah, Warga Perumahan Serpong Jaya Bangun Gerakan Pengelolaan Sampah Mandiri

Dok. Tangerangupdate.com

RSUD Kabupaten Tangerang, PWI dan Stakeholder Sepakati Penguatan Layanan Stroke hingga PONEK

Foto: Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang, Didik Purnomo | Dok. Istimewa

RDP Soal Tol Serbaraja, BPN Pastikan Pengadaan Tanah di Cirarab Transparan

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang menyemprotkan air ke titik api yang membakar pabrik PT Respati Kemasindah di Desa Pasir Gadung, Cikupa, Kabupaten Tangerang, Selasa (6/10/2026). | Dok. BPBD Kabupaten Tangerang

Kebakaran Pabrik di Cikupa, BPBD Kerahkan 9 Damkar

Ibu Bedah Bersama anak dan Cucu Tinggal di Lapangan/ Dok. Ist

Ibu Bedah yang Sempat Tinggal di Tenda, Ternyata Masuk Miskin Ekstrem

Berita Terkait

Opini

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Jangan Lewatkan

Dok. Tangerangupdate.com

RSUD Kabupaten Tangerang, PWI dan Stakeholder Sepakati Penguatan Layanan Stroke hingga PONEK

Selasa, 6 Oktober 2026
Salah satu kegiatan Bank Sampah yang ada di perumahan Serpong Jaya / Dok. TU

Memilah dari Rumah, Warga Perumahan Serpong Jaya Bangun Gerakan Pengelolaan Sampah Mandiri

Rabu, 7 Oktober 2026
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Tangerang Selatan, Mukroni/ Dok. Dispora

Kadispora Tangsel Mukroni Mundur Jelang Porprov Banten 2026, Benyamin Tunjuk Plt

Kamis, 1 Oktober 2026

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Jumat, 2 Oktober 2026
Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto (kiri) dan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers setelah acara pelantikan kapolri baru di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). | Dok. Istimewa

Komisi III DPR Desak Kapolri Suyudi Setop Represifitas Aparat ke Rakyat Kecil

Jumat, 2 Oktober 2026
Ibu Bedah Bersama anak dan Cucu Tinggal di Lapangan/ Dok. Ist

Ibu Bedah yang Sempat Tinggal di Tenda, Ternyata Masuk Miskin Ekstrem

Selasa, 6 Oktober 2026
Foto: Sekretariat Daerah (Sekda) Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja | Dok. Tangerangupdate.com

Soma Atmaja Bungkam soal Laporan IKA SAKTI dan Desakan Segera Diperiksa Kasus Dugaan Monopoli Mamin Rp15,26 Miliar

Senin, 5 Oktober 2026
Ibu Bedah Bersama anak dan Cucu Tinggal di Lapangan/ Dok. Ist

Kisah Pilu Ibu Bedah di Setu: Tak Mampu Bayar Kontrakan, Tinggal di Bawah Pohon

Selasa, 6 Oktober 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp