Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Rabu, 23 September 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Redaksi TU
Redaksi TU
Minggu, 9 Agustus 2026 | 22:01 WIB
Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com – Tak dapat dimungkiri, Indonesia memang membutuhkan pembangunan. Ekonomi nasional sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen, dengan capaian PDB menembus angka Rp23.821,1 triliun. Meski demikian, keberhasilan sebuah pembangunan tidak bisa diukur semata dari deretan angka pertumbuhan ekonomi. Pada tahun yang sama, Indonesia masih memproduksi sekitar 790 juta ton batu bara, sementara porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi baru baru mencapai 15,75 persen.

Deforestasi netto pada 2024 pun masih tercatat di angka 175,4 ribu hektare. Data-data tersebut memang tidak serta-merta menunjuk pada satu kebijakan atau satu figur pemimpin sebagai penyebab tunggal seluruh persoalan ekologis. Namun, angka-angka itu cukup menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi, pemanfaatan energi, dan keberlanjutan lingkungan hingga kini masih belum bertemu dalam satu kerangka pembangunan yang benar-benar bertanggung jawab.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Dari titik inilah gagasan kepemimpinan ekoteosentris yang menjadi rujukan utama tulisan ini layak untuk dikembangkan lebih jauh. Gagasan tersebut bertolak dari premis bahwa kondisi lingkungan bukan semata soal teknis, melainkan juga soal paradigma kepemimpinan yang melandasinya. Cara berpikir seorang pemimpin akan memengaruhi keputusan yang diambilnya, keputusan itu kemudian melahirkan kebijakan, dan kebijakan pada gilirannya membentuk wajah ruang hidup bersama. Ekoteosentrisme hadir sebagai tawaran paradigma yang menempatkan Allah sebagai sumber segala nilai, manusia sebagai khalifah pemegang amanah, dan alam semesta sebagai ciptaan yang wajib dirawat.

Sayangnya, gagasan semulia ini perlu tetap dikritisi agar tidak terjebak menjadi sekadar jargon keagamaan baru yang kehilangan daya gigit. Krisis ekologis, pada kenyataannya, tidak bisa direduksi hanya sebagai kegagalan moral seorang pemimpin semata. Ia juga bertautan erat dengan desain ekonomi, kepentingan investasi, kerangka regulasi, pilihan teknologi, pola konsumsi, penataan ruang, hingga lemahnya pengawasan di lapangan. Karena itu pula, kepemimpinan ekoteosentris akan kehilangan ruhnya jika tauhid hanya berhenti menjadi kalimat pembuka pidato, sementara keputusan menyangkut tambang, hutan, pesisir, air, dan tata ruang tetap saja menjadikan keuntungan ekonomi sebagai pertimbangan yang paling dominan.

BACA JUGA:  Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Padahal, tauhid seharusnya justru mengubah cara kekuasaan itu sendiri bekerja. QS. Al-Baqarah ayat 30 menegaskan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi namun khalifah bukanlah pemilik bumi. QS. Hud ayat 61 menegaskan tugas manusia untuk memakmurkannya, sementara QS. Al-A’raf ayat 56 melarang tegas terjadinya kerusakan setelah bumi diperbaiki. Adapun QS. Ar-Rahman ayat 7–9 berbicara tentang mizan, sebuah keseimbangan yang pantang dilampaui batasnya. Dengan demikian, mandat yang diemban manusia bukanlah dominasi atas alam, melainkan pengelolaan yang dikungkung oleh amanah, keseimbangan, keadilan, dan larangan berbuat fasad.

Perspektif inilah yang sesungguhnya membedakan kepemimpinan ekoteosentris dari antroposentrisme, yang cenderung memandang alam terutama sebagai sumber daya bagi kepentingan manusia semata. Rujukan yang menjadi dasar tulisan ini secara tepat menempatkan ekosentrisme sebagai bentuk pengakuan bahwa hutan, air, tanah, satwa, udara, dan seluruh proses ekologis memiliki kedudukan yang tak kalah penting dalam sistem kehidupan.

Perpaduannya dengan tauhid melahirkan satu tuntutan politik yang tegas: setiap keputusan pembangunan tidak boleh sekadar menanyakan berapa besar investasi yang akan masuk, tetapi juga wajib mempertanyakan berapa kerusakan yang akan ditinggalkan, siapa yang menikmati manfaatnya, siapa yang menanggung bebannya, dan apakah alam masih sanggup memulihkan dirinya sendiri.

BACA JUGA:  NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Persoalan tersebut terlihat jelas dalam praktik tata kelola industri. Dalam ajang PROPER 2024–2025, sebanyak 5.476 perusahaan mengikuti penilaian kinerja lingkungan. Namun hanya 282 perusahaan yang berhasil masuk kategori melampaui ketaatan, terdiri atas 39 peringkat Emas dan 243 peringkat Hijau. Pemerintah sendiri pun mengakui masih ada perusahaan berkategori Merah dan Hitam yang belum memenuhi ketentuan lingkungan yang berlaku. Fakta ini menegaskan bahwa urusan keberlanjutan tidak bisa sepenuhnya digantungkan pada kesadaran sukarela pelaku usaha. Negara membutuhkan kepemimpinan yang berani menetapkan batas ekologis sebagai batas tegas dalam setiap kebijakan.

Atas dasar itu, paradigma ekoteosentris perlu diterjemahkan ke dalam empat koreksi kebijakan yang konkret. Pertama, setiap RTRW, RDTR, proyek hilirisasi, pertambangan, perkebunan, dan kawasan industri wajib menjadikan daya dukung dan daya tampung ekologis sebagai batas pengambilan keputusan, bukan sekadar pelengkap administratif belaka. Kedua, setiap perizinan harus memuat indikator neraca air, emisi, keanekaragaman hayati, risiko bencana, pemulihan ekosistem, serta dampak antargenerasi. Ketiga, pemerintah perlu mengaitkan hasil PROPER dan tingkat kepatuhan lingkungan dengan insentif fiskal, skema pembiayaan, pengadaan pemerintah, hingga evaluasi perizinan. Keempat, masyarakat, kalangan akademisi, organisasi keagamaan, dan kelompok terdampak harus diberi akses data serta ruang pengawasan sejak tahap perencanaan kebijakan dimulai.

BACA JUGA:  Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Bagi kader Himpunan Mahasiswa Islam, gagasan ini membawa konsekuensi yang langsung dan konkret. HMI tidak boleh berhenti hanya melahirkan kader yang pandai berbicara tentang pembangunan kader harus mampu menguji pembangunan itu sendiri. Komisariat, Cabang, dan Badko perlu membangun literasi seputar tata ruang, AMDAL, energi, pertambangan, perubahan iklim, serta anggaran yang berdimensi ekologis. HMI juga dapat menginisiasi Policy Watch Ekoteosentris guna menilai kebijakan daerah dengan lima ukuran sederhana: amanah, keadilan, kemaslahatan, partisipasi, dan keberlanjutan.

Pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak proyek yang berhasil ia resmikan, melainkan apakah kebijakan yang ia tinggalkan benar-benar membuat manusia hidup lebih adil tanpa harus menghancurkan ruang hidupnya sendiri. Kepemimpinan dalam Islam bukan hak untuk menguasai bumi, melainkan amanah untuk menjaganya. Tauhid tanpa tanggung jawab ekologis akan kehilangan konsekuensi sosialnya, sementara pembangunan tanpa mizan akan kehilangan arah moralnya. Di titik itulah kepemimpinan ekoteosentris dapat menjadi kontribusi nyata HMI untuk menghadirkan pembangunan yang tidak hanya maju, tetapi juga adil, maslahat, dan berkelanjutan.

Penulis: Elsa Mayori

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

TAGGED:Opini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Foto: peserta UKW PWI Provinsi Banten Angkatan ke-28 | Dok. Istimewa

Lulus UKW, 5 Anggota PWI Kabupaten Tangerang Dinyatakan Kompeten

Tangkapan Layar Kantor Polsek Serpong / Dok. TU

Bukan Tawuran, Polisi Sebut Korban Luka Gegara Diserang Gangster di Serpong

Tangkapan Layar Tauran di jalan Buaran Viktor Rabu dini hari/ Foto : Dok. TU

Tawuran Pecah di Jalan Buaran Viktor Tangsel, Ada Korban Diduga Kena Sajam di Pinggang

Foto: konferensi pers penemuan jasad kru rombongan jurnalis di Selat Sunda | Dok. Istimewa

Jasad Kru Rombongan Jurnalis Hilang di Selat Sunda Ditemukan di Pulau Enggano Bengkulu

Gunung Sampah di TPA Cipeucang | Dok.TU

Pemkot Tangsel Alokasikan Rp93 Miliar untuk Perluasan Lahan TPA Cipeucang

Asep Angga, Pemuda Tuna Wicara Hilang | foto: Istimewa

Asep Angga, Pemuda Tuna Wicara Hilang Sudah Hampir Satu Bulan Di Ciputat

Berita Terkait

Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Foto : ilustrasi/freepik
Opini

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Jangan Lewatkan

Kepengurusan IPNU Kota Tangsel Dilantik | Foto: Istimewa

Kepengurusan IPNU Kota Tangsel Dilantik, Teguhkan Komitmen Majukan Pelajar dan Generasi Muda

Minggu, 20 September 2026
Foto: konferensi pers penemuan jasad kru rombongan jurnalis di Selat Sunda | Dok. Istimewa

Jasad Kru Rombongan Jurnalis Hilang di Selat Sunda Ditemukan di Pulau Enggano Bengkulu

Rabu, 23 September 2026
Presiden Prabowo Subianto | Foto : Kantor Staff Presiden RI

Prabowo Sindir Pakar Saat HUT PAN: “Saking Pintarnya Jadi Goblok”

Sabtu, 19 September 2026
Tangkapan Layar Tauran di jalan Buaran Viktor Rabu dini hari/ Foto : Dok. TU

Tawuran Pecah di Jalan Buaran Viktor Tangsel, Ada Korban Diduga Kena Sajam di Pinggang

Rabu, 23 September 2026
Foto: istimewa

Kerap Bawa Senpi, Dua Residivis Curanmor Bersenpi Asal Luar Pulau Jawa Ditangkap di Curug

Senin, 21 September 2026
Foto: olah TKP penemuan kerangka Manusia di Pasar Kemis | Dok. Istimewa

Kerangka Manusia Ditemukan di Lahan Kosong Pasar Kemis

Sabtu, 19 September 2026
Kuasa hukum konsumen dari SMC Law Firm, Monica Agnesphine / Dok. TU

Konsumen Gugat Citra Garden Serpong ke Pengadilan Negeri Tangerang, Diduga Ada Wanprestasi

Jumat, 18 September 2026

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Sabtu, 19 September 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp