Tangerangupdate.com – Dokter sekaligus edukator kesehatan, Adam Prabata, membagikan fakta ilmiah yang membantah anggapan bahwa sperma tercepat selalu menjadi pemenang dalam proses pembuahan.
Menurutnya, penelitian menunjukkan sel telur manusia memiliki peran aktif dalam memilih sperma yang paling sesuai secara genetik.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Adam menjelaskan bahwa proses pembuahan tidak sesederhana perlombaan, di mana sperma yang pertama mencapai sel telur otomatis berhasil melakukan pembuahan.
“Tau gak, penelitian menunjukkan bahwa sperma tercepat BUKAN selalu yang berhasil membuahi sel telur. Selama ini kita dikasih narasi bahwa pembuahan itu soal lomba lari, siapa yang pertama sampai, dia menang. Tapi ternyata tidak sesederhana itu,” tulis Adam.
Sel Telur Mengeluarkan Sinyal Kimia
Adam menjelaskan, penelitian menemukan bahwa sel telur manusia mengeluarkan zat kimia melalui cairan folikel yang berfungsi sebagai sinyal untuk menarik sperma tertentu agar mendekat.
Menurutnya, mekanisme tersebut membuat sel telur dapat “memilih” sperma yang paling kompatibel secara genetik, bukan semata-mata sperma yang bergerak paling cepat.
“Penelitian menunjukkan bahwa sel telur manusia aktif memilih sperma yang paling sesuai secara genetik. Bukan yang paling ngebut atau paling cepat,” tulisnya.
Dikenal sebagai Cryptic Female Choice
Lebih lanjut, Adam mengungkapkan bahwa cairan folikel dari setiap perempuan dapat memberikan respons yang berbeda terhadap sperma dari pria yang berbeda.
Fenomena ini dikenal sebagai cryptic female choice.
Dalam mekanisme tersebut, sinyal kimia yang dihasilkan sel telur dapat lebih menarik sperma tertentu dibandingkan sperma lainnya.
“Intinya, sel telur juga punya ‘preferensinya sendiri’ dengan memilih sperma yang paling kompatibel secara molekuler untuk meningkatkan peluang kehamilan dan kesehatan keturunan,” jelas Adam.
Berdasarkan Penelitian Ilmiah
Adam menyebut penjelasan tersebut merujuk pada penelitian berjudul Chemical Signals from Eggs Facilitate Cryptic Female Choice in Humans yang dipublikasikan pada 2020.
Penelitian yang dipimpin John L. Fitzpatrick itu menemukan bahwa sinyal kimia dari cairan folikel dapat memengaruhi respons sperma dari pria yang berbeda.
Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti sel telur selalu memilih sperma dari pasangan tertentu atau dapat menentukan kualitas keturunan secara mutlak.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa proses pembuahan manusia melibatkan interaksi biologis yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar kecepatan sperma mencapai sel telur.
Reporter: Juno
