Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Selasa, 3 November 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Redaksi TU
Redaksi TU
Sabtu, 19 September 2026 | 08:35 WIB
SHARE

Opini – Pemerintah kembali mengumumkan capaian besar sekitar 4 juta tenaga kerja terserap dari target 19 juta lapangan kerja yang dijanjikan sejak Pemilu 2024. Angka ini terdengar meyakinkan, tapi jika ditelaah lebih jauh, ia menyimpan pertanyaan mendasar apakah pekerjaan yang tercipta benar-benar “layak” sebagaimana dimaksud Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8?
Program ini berjalan lewat beberapa jalur.

Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan hilirisasi industri. Di atas kertas, ambisi ini masuk akal. Indonesia tengah menuju puncak bonus demografi pada 2030–2040, saat penduduk usia produktif mendominasi. Tapi bonus demografi hanya jadi berkah jika diiringi lapangan kerja yang memadai bukan sekadar banyak, tapi juga bermutu.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Faktanya, program MBG yang telah membangun lebih dari 26 ribu dapur hingga April 2026 memang menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja. Namun posisi yang tersedia sebagian besar adalah juru masak, pengambil bahan, pemotong sayur, dan pencuci piring. Pekerjaan ini penting dan layak dihargai, tapi tidak dirancang untuk menyerap tenaga kerja terdidik termasuk ribuan sarjana yang justru sedang mencari kerja.

Pola serupa terlihat pada Koperasi Merah Putih.

Target penyerapannya mencapai 1,5 juta pekerja dari 80 ribu unit koperasi. Tapi hingga kini, pemerintah baru mengoperasikan koperasi secara bertahap bukan serentak karena keterbatasan gerai, gudang, pengelola, dan rantai pasok. Selama koperasi belum benar-benar beroperasi, angka 1,5 juta itu masih janji di atas kertas, bukan pekerjaan yang nyata.

Di sinilah letak persoalannya. SDGs Tujuan ke-8 menegaskan bahwa pekerjaan layak harus memenuhi unsur produktivitas, upah yang sesuai, jaminan sosial, dan kesempatan setara bukan sekadar tersedia. Realisasi 4 juta dari target 19 juta pun baru mencapai 21–32 persen, jauh dari rata-rata 3,86 juta lowongan per tahun yang dibutuhkan agar target lima tahun tercapai. Lebih dari itu, mayoritas pekerjaan yang tercipta masih bersifat informal, tanpa kepastian status dan kontrak kerja.

Pemerintah tampaknya lebih sibuk mengejar angka daripada membangun fondasi pekerjaan yang berkelanjutan. Klaim keberhasilan yang terus digaungkan berisiko menutupi kenyataan bahwa sebagian besar “lapangan kerja baru” ini rentan, tidak terlindungi BPJS Ketenagakerjaan, dan tidak proporsional dengan kualifikasi pendidikan angkatan kerja Indonesia.

Jika pemerintah serius ingin memenuhi mandat SDGs ke-8, ada beberapa langkah mendesak yang perlu diambil. Pertama, struktur pekerjaan di program seperti MBG harus diperluas tidak hanya untuk posisi informal, tapi juga membuka jalur bagi tenaga kerja terdidik lewat posisi pengawasan gizi, manajemen dapur, dan logistik. Kedua, operasionalisasi Koperasi Merah Putih harus didukung kepastian anggaran dan sarana fisik, agar target 1,5 juta pekerja tidak berhenti sebagai rencana. Ketiga, dan yang terpenting, setiap pekerjaan yang tercipta harus disertai jaminan sosial ketenagakerjaan, kejelasan status kontrak, dan upah yang layak.

Keberhasilan Program 19 Juta Lapangan Kerja seharusnya tidak diukur dari angka besar yang dipublikasikan, melainkan dari sejauh mana pekerjaan itu benar-benar mengubah nasib pekerja Indonesia memberi mereka penghasilan yang layak, perlindungan yang pasti, dan masa depan yang lebih baik. Tanpa itu, program ini hanya akan menjadi statistik yang megah di atas kertas, tapi kosong di lapangan.

oleh : Fikri Alfarizqi | Mahasiswa Magister Fakultas Hukum Universitas UPN ‘Veteran’ Jakarta

TAGGED:HukumOpini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Foto: lokasi tanah longsor diduga akibat proyek tandon Perumahan Vila Rizki Insaani | Dok. Tangerangupdate.com

Proyek Tandon Vila Rizki Insaani Diduga Sebabkan Tanah Longsor di Pagedangan

Ibu Supriyanti Pemilik Rumah yang Tertimpa Tiang Listrik di Pondok Aren / Foto : Jupri Nugroho

Warga Sudah Peringatkan Tiang Trafo Rawan Roboh, Proyek Pemkot Tangsel Tetap Berjalan

Petugas PLN sedang merapihkan trafo yang meledak akibat roboh menimpa rumah warga di Pondok Aren / Foto : Jupri Nugroho

Proyek Long Storage Rp800 Juta di Tangsel Penyebab Tiang Trafo Roboh Timpa Rumah Warga

Sejumlah petugas PLN sedang mengecek tiang yang menimpa rumah ibu Supriyanti di Pondok Aren / Foto : Jupri Nugroho

Tiang Trafo Roboh Timpa Rumah Warga, Pemkot Tangsel Soroti PLN, Bagaimana Pengawasan Proyek?

Foto: Ketua paguyuban warga, Zulfani Ahmad, di depan Direktur Utama dari PT pengembang Perumahan Vila Rizki Insaani, Keisar Rachmat Magfirat | Dok. Tangerangupdate.com

Keluhan Tak Kunjung Didengar, Warga Ancam Somasi Pengembang Vila Rizki Insaani

Foto: bengkel tempat kejadian perkara (TKP) dugaan penganiayaan rekan kerja di Cikupa | Dok. Istimewa

Sering Dipanggil ‘Si Cepu’ Pria di Cikupa Siram Rekan Kerja Pakai Air Keras

Berita Terkait

Foto: Pengendara motor nekat kalau di atas trotoar | Dok. Hafiza Destianissa, Mahasiswi Universitas Pamulang
Opini

Hak Pejalan Kaki Dirampas: Saat Trotoar Berubah Jadi Jalan Motor

Opini

Kerap Terjebak Macet di Pamulang? Ternyata Ini Penyebab Arus Siliwangi – Puspitek Tersendat

Opini

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Jangan Lewatkan

Foto: Perumahan Vila Rizki Insani | Dok. Tangerangupdate.com

Akses Jalan Kompleks Jadi Jalur Umum akibat Longsor, Warga Villa Rizki Insani Keluhkan Keamanan Klaster

Rabu, 28 Oktober 2026
Pekerja sedang mengerjakan bronjong yang longsor, Diduga Makan Sempadan Sungai / Dok. TU

Tak Berizin, Proyek Turap Milik Swasta Kali Jeletreng di Protes Warga Makan Sempadan Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026
Foto: istimewa

12 Kelompok Pemuda di Kabupaten Tangerang Terima Hibah YCAF 2026

Selasa, 27 Oktober 2026
Foto: aksi para penghuni menuntut perbaikan layanan dan keamanan di depan kantor manajemen Vila Rizki Insaani | Dok. Tangerangupdate.com

Warga Vila Rizki Insaani Gelar Aksi Protes, Keluhkan Keamanan dan Konflik Antarwarga

Jumat, 30 Oktober 2026
Foto: Ketua paguyuban warga, Zulfani Ahmad, di depan Direktur Utama dari PT pengembang Perumahan Vila Rizki Insaani, Keisar Rachmat Magfirat | Dok. Tangerangupdate.com

Keluhan Tak Kunjung Didengar, Warga Ancam Somasi Pengembang Vila Rizki Insaani

Sabtu, 31 Oktober 2026
Foto: lokasi tanah longsor diduga akibat proyek tandon Perumahan Vila Rizki Insaani | Dok. Tangerangupdate.com

Proyek Tandon Vila Rizki Insaani Diduga Sebabkan Tanah Longsor di Pagedangan

Selasa, 3 November 2026
Foto: bengkel tempat kejadian perkara (TKP) dugaan penganiayaan rekan kerja di Cikupa | Dok. Istimewa

Sering Dipanggil ‘Si Cepu’ Pria di Cikupa Siram Rekan Kerja Pakai Air Keras

Sabtu, 31 Oktober 2026
Sejumlah petugas PLN sedang mengecek tiang yang menimpa rumah ibu Supriyanti di Pondok Aren / Foto : Jupri Nugroho

Tiang Trafo Roboh Timpa Rumah Warga, Pemkot Tangsel Soroti PLN, Bagaimana Pengawasan Proyek?

Senin, 2 November 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp