Tangerangupdate.com – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tangerang, Sri Panggung menyoroti polemik spanduk promosi yang terpasang di pagar proyek Pasar Modern Laris Saiman Sentiong di Jalan Raya Balaraja-Kresek.
Menurutnya, spanduk bernarasi “Cicilan Semurah Gaji Karyawan” itu, tidak pantas karena berpotensi menyinggung perasaan para pekerja dengan membandingkan nilai cicilan dengan penghasilan karyawan.
“Saya rasa itu tidak etis karena apa pun dia mau beriklan, dia mau bermarketing, dia mau berjualan, itu tidak boleh menyinggung perasaan orang. Nah, kalau gaji itu kan sifatnya privat. Ya kan?” katanya kepada Tangerangupdate.com, Selasa 23 Juni 2026.
Ia mengatakan, pelaku usaha memiliki kebebasan untuk melakukan promosi guna menarik minat konsumen. Namun, materi promosi yang disampaikan seharusnya tetap memperhatikan aspek etika dan sensitivitas sosial agar tidak menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.
Sri Panggung menegaskan bahwa pemilihan diksi dalam sebuah iklan memiliki dampak terhadap cara masyarakat memandang suatu produk maupun perusahaan yang memasang promosi tersebut. Karena itu, setiap materi pemasaran perlu dikaji secara matang sebelum dipublikasikan.
“Kalau karyawannya gak terima, dia mau komplain, boleh-boleh saja, hak-hak saja. Ya kan? Gak boleh seperti itu, mah. Gak etis,” terangnya.
Sebelumnya, aktivis buruh Tangerang, Marno, mengecam penggunaan narasi promosi Pasar Modern Laris Saiman Sentiong. Menurutnya, gaji bukanlah simbol angka murah yang layak dijadikan bahan promosi, melainkan hasil kerja keras yang diperoleh pekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya.
“Gaji bukan simbol angka murah yang pantas dijadikan bahan promosi, melainkan hasil perjuangan tenaga, waktu, dan pengorbanan untuk menghidupi keluarga,” kata Marno kepada awak media, Senin 15 Juni 2026.
Ia menilai kalimat dalam spanduk tersebut dapat mencederai rasa hormat terhadap para pekerja yang selama ini berkontribusi dalam menggerakkan roda perekonomian.
“Pernyataan tersebut mencederai rasa hormat terhadap pekerja yang setiap hari menopang roda ekonomi. Kami meminta pihak pembuat iklan mengevaluasi narasi itu dan meminta maaf kepada para karyawan serta buruh yang merasa direndahkan,” ujarnya.
Marno juga meminta pelaku usaha tidak menjadikan upah pekerja sebagai bahan perbandingan untuk menarik minat konsumen.
“Jangan jadikan upah pekerja sebagai bahan komparasi untuk menarik pembeli. Kreativitas promosi tidak boleh mengorbankan martabat orang yang bekerja keras,” tegasnya.
Reporter: Rhomi
