Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Jumat, 10 Juli 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Dilema Kelas Menengah: Menjadi Tulang Punggung atau Sapi Perah Pajak?

Redaksi TU
Redaksi TU
Jumat, 10 April 2026 | 15:52 WIB
Foto: Irtiakhul Afifah, Mahasiswi Universitas Pamulang | Dok. Pribadi
Foto: Irtiakhul Afifah, Mahasiswi Universitas Pamulang | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com – Pajak adalah urat nadi pembangunan. Melalui instrumen ini, negara mampu membiayai infrastruktur, layanan kesehatan, pendidikan, hingga subsidi energi. Namun, di balik angka-angka target penerimaan negara yang ambisius, tersimpan sebuah ironi yang kian nyata : kelas menengah Indonesia kini berada dalam posisi terjepit, memikul beban pajak yang secara proporsional terasa jauh lebih berat dibandingkan kelompok lainnya.

Secara administratif, kelas menengah adalah kelompok yang paling “patuh”. Bukan karena mereka secara sukarela ingin membayar lebih, melainkan karena sistem yang memaksa mereka untuk tidak punya pilihan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Mayoritas kelas menengah adalah pekerja formal dengan penghasilan tetap yang setiap bulannya terkena skema pemotongan pajak langsung (PPh Pasal 21). Mereka tercatat rapi dalam sistem perbankan dan administrasi negara, membuat ruang untuk “berlindung” dari kewajiban pajak hampir mustahil dilakukan.

Beban ini kian terasa mencekik dengan rencana kenaikan PPN menjadi 12%. Bagi kelas menengah, ini adalah double hit: pendapatan dipotong di hulu lewat PPh, dan konsumsi dipajaki lebih mahal di hilir.

Paradoks Kontribusi: Saat 4% Terasa Sangat Berbeda

Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 mengungkapkan fakta yang menggugah nurani keadilan. Pengeluaran kelas menengah untuk pajak mencapai 4,53% dari total pengeluaran bulanan mereka. Angka ini hanya terpaut tipis dari kelompok kelas atas yang mencatat angka 4,84%.

Secara nominal, kelas atas memang membayar lebih besar. Namun, secara fungsi ekonomi, dampak dari persentase tersebut sangatlah berbeda. Bagi kelas atas, sisa pendapatan setelah pajak (disposable income) masih sangat melimpah untuk investasi dan konsumsi mewah.

Sebaliknya, bagi kelas menengah, potongan tersebut diambil dari kantong yang juga harus menanggung cicilan rumah, pendidikan anak, asuransi kesehatan mandiri, dan biaya hidup yang terus meroket akibat inflasi.

Kesenjangan ini diperparah oleh persepsi bahwa kelas menengah seringkali ‘terasing’ dari manfaat pajak. Saat anak mereka tak masuk kuota zonasi sekolah negeri atau antrean jaminan kesehatan terlalu panjang, mereka terpaksa merogoh kocek lagi untuk sektor swasta. Inilah yang menciptakan perasaan membayar “pajak ganda”: satu kali kepada negara, dan satu kali lagi untuk membeli layanan publik yang layak secara mandiri.

Ketimpangan Tabungan dan Ruang Gerak Pajak

Ketidakadilan ini semakin kontras jika kita melirik data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Antara Maret 2020 hingga Maret 2024, simpanan orang kaya (di atas Rp 5 miliar) tumbuh rata-rata 11,1% per tahun. Di sisi lain, simpanan masyarakat kelas bawah dan menengah (di bawah Rp 100 juta) hanya tumbuh 5,5% per tahun.

Angka LPS ini adalah alarm. Pertumbuhan simpanan kelas menengah yang stagnan menunjukkan fenomena ‘makan tabungan’ (dissaving) demi menjaga napas biaya hidup. Fenomena ini menunjukkan adanya akumulasi kekayaan yang masif di puncak piramida sosial, sementara kelompok super kaya seringkali memiliki akses ke konsultan pajak profesional untuk melakukan perencanaan pajak (tax planning) legal. Sebaliknya, kelas menengah “terperangkap” dalam sistem upah yang transparan dan kaku.

Ancaman Erosi Daya Beli
Kelas menengah sering disebut sebagai motor pertumbuhan ekonomi karena konsumsi mereka menggerakkan roda industri. Namun, jika motor ini terus menerus “dipompa” untuk mengejar target penerimaan negara tanpa kompensasi yang sepadan, maka risikonya adalah perlambatan ekonomi nasional.

Erosi daya beli kelas menengah mulai terlihat. Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk pajak dan biaya hidup pokok, mereka akan mulai mengurangi pengeluaran sekunder dan tersier. Dampaknya akan dirasakan oleh sektor ritel, pariwisata, hingga otomotif. Jika kelas menengah turun kelas menjadi kelompok rentan, maka beban negara justru akan bertambah di masa depan dalam bentuk pemberian jaminan sosial.

Mencari Jalan Menuju Keadilan Horizontal

Pemerintah sejatinya telah melakukan berbagai langkah mitigasi melalui integrasi NIK menjadi NPWP dan penguatan basis data melalui sistem Coretax. Namun, teknologi saja tidak cukup jika kebijakan dasarnya belum mencerminkan keadilan horizontal.

Pemerintah harus lebih berani menyasar potensi pajak di sektor ekonomi informal dan transaksi digital bernilai tinggi yang selama ini masih berada di area abu-abu.

Yang dilakukan pemerintah sekadar menaikkan tarif PPh pekerja, tetapi menyasar aset-aset produktif dan kepemilikan aset besar yang belum tergarap optimal. Dan jepercayaan publik hanya akan tumbuh jika manfaat pajak terasa secara langsung dalam kualitas layanan publik, tanpa diskriminasi kelas.

Keadilan dalam sistem perpajakan bukan hanya soal mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya ke kas negara, melainkan tentang menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. Pajak seharusnya dipungut berdasarkan prinsip kemampuan membayar (ability-to-pay principle), bukan sekadar kemudahan memungut (ease-of-collection).

Jika pemerintah terus memilih jalan pintas dengan mengeksploitasi kepatuhan kelas menengah, kita tidak hanya sedang memeras pajak, tapi sedang memeras masa depan kemakmuran bangsa. Sudah saatnya dipastikan bahwa mereka yang memiliki kemampuan lebih besar berkontribusi lebih besar pula, sehingga kelas menengah dapat kembali bernapas dan kembali menjadi tulang punggung yang kokoh, bukan sekadar sapi perah yang layu.

Oleh : Irtiakhul Afifah
Mahasiswi Universitas Pamulang Tangerang Selatan

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

TAGGED:Opini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

Terpopuler

Foto: istimewa

Diduga Curi 6 Laptop Sekolah di Setu, si Buluk Dicokok Polisi Setelah 3 Bulan Sembunyi

Foto: kantor Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Warga Dukung Desakan Evaluasi Camat Curug usai Polemik Anggaran Makan Minum Rp1,6 Miliar

Foto: Gedung Kejari Kabupaten Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Salah Pos Rp19,8 Miliar Baru Dikoreksi setelah Teguran OJK, Aktivis Desak Jaksa Dalami Skema Jaminan Cessie

Foto : Dok. Tangerangupdate.com

Tiga Gudang di Taman Tekno BSD Ludes Terbakar, Api Diduga Berasal dari Gudang Power Bank

Foto : Dok. Tu

Praktisi Hukum Soroti LHKPN Kabid SDA DSDABMBK Tangsel yang Tak Berubah Selama Dua Tahun

Foto : Dok. Tangerangupdate.com

Sewa Mobil Dinas Pemkot Tangsel Tembus Hampir 20 Milyar

Berita Terkait

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Foto : ilustrasi/freepik
Opini

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Iduladha Sebagai Jalan Refleksi Sosial dan Spiritual

Foto : Kopi arabika (kiri) & Kopi Robusta (kanan) | Dok. TU
Opini

Jangan Salah Pilih! Kenali Beda Kandungan Arabika dan Robusta Serta Takaran Pas Agar Kopi Jadi Obat, Bukan Racun

Ahmad Priatna, Pemuda Asli Cipondoh | Dok. Pribadi
Opini

Cipondoh Tenggelam Lagi: Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?

Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Opini

Tiga Pemikir Revolusi Iran dan Jejaknya dalam Konflik Global

Foto: H. Ahmad Imron (Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Banten/Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falahiyyah | Dok. Pribadi
Opini

Khidmah sebagai Jalan: Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj Menjaga Arah NU

Jangan Lewatkan

Foto: kantor Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Warga Dukung Desakan Evaluasi Camat Curug usai Polemik Anggaran Makan Minum Rp1,6 Miliar

Kamis, 9 Juli 2026
Foto dokumentasi Tangerangupdate.com

BPR Kerta Raharja Gemilang Klarifikasi Angka Rp19,8 Miliar dalam Dugaan Kredit Fiktif

Selasa, 7 Juli 2026
Ilustrasi JakLingko. | Dok. Antaranews

Mikrotrans Tak Lagi Gratis? Pengamat Dukung Tarif Rp2.000

Senin, 6 Juli 2026
Foto: istimewa

Modus Gerebek Kasus Narkoba, Dua Polisi Gadungan Ditangkap di Tangerang

Selasa, 7 Juli 2026
Foto : Ilustrasi

Ampas Kopi: Limbah Sehari-hari yang Berpotensi Menjadi Solusi Pencemaran Limbah Tekstil

Rabu, 8 Juli 2026
Foto: Ilustrasi/Freepik

Gagal Bersembunyi di Plafon Kamar Pacar, Terduga Spesialis Curanmor Tangsel Ditangkap Polisi

Selasa, 7 Juli 2026
Foto: Asap kebakaran menyelimuti TPA Jatiwaringin | Dok. Tangerangupdate.com

WALHI: Kepala DLH Harus Dicopot usai Kebakaran TPA Jatiwaringin

Senin, 6 Juli 2026
Foto : Dok. Tangerangupdate.com

Tiga Gudang di Taman Tekno BSD Ludes Terbakar, Api Diduga Berasal dari Gudang Power Bank

Rabu, 8 Juli 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp