Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Rabu, 26 Agustus 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Iduladha Sebagai Jalan Refleksi Sosial dan Spiritual

Admin
Admin
Selasa, 26 Mei 2026 | 20:39 WIB
Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
Foto: Ahmad Priatna S.T., S.H | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com – Setiap tahun kita merayakan ibadah haji dan Idul adha secara seremonial maupun simbolik. Takbir dikumandangkan, hewan kurban disembelih, ucapan selamat saling disampaikan, dan suasana religius terasa begitu kuat. Namun di tengah kemeriahan itu, ada pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri: apakah perayaan ini benar-benar menjadi momentum refleksi, atau justru berhenti sebatas rutinitas tahunan tanpa menghadirkan perubahan moral dan sosial yang berarti?

Berbicara tentang Idul adha atau yang lazim disebut masyarakat Indonesia sebagai lebaran haji, saya teringat pada buku Makna Haji karya Ali Syariati. Dalam pandangannya, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci atau kumpulan ritual yang dijalankan secara formal, melainkan perjalanan eksistensial manusia untuk menemukan kembali hakikat dirinya sebagai hamba Tuhan sekaligus makhluk sosial. Haji adalah proses pendidikan spiritual yang membentuk kesadaran, membersihkan ego, dan melahirkan manusia dengan akhlak yang lebih matang.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Ali Syariati memandang bahwa setiap rangkaian ibadah haji memiliki makna simbolik yang mendalam. Ihram bukan hanya pakaian putih, tetapi simbol pelepasan identitas duniawi—jabatan, status sosial, kekayaan, dan segala atribut yang sering kali membuat manusia merasa lebih tinggi dari sesamanya. Thawaf bukan sekadar mengelilingi Ka’bah, melainkan penegasan bahwa pusat kehidupan manusia hanyalah Tuhan, bukan ambisi pribadi, bukan kekuasaan, dan bukan kepentingan material. Sa’i antara Shafa dan Marwah menggambarkan bahwa iman tidak pernah berdiri tanpa usaha dan perjuangan, sementara wukuf di Arafah menjadi ruang perenungan tentang siapa diri kita, ke mana hidup diarahkan, dan apa tanggung jawab yang harus dipikul sebagai manusia.

BACA JUGA:  Jangan Salah Pilih! Kenali Beda Kandungan Arabika dan Robusta Serta Takaran Pas Agar Kopi Jadi Obat, Bukan Racun

Dalam konteks itu, Syariati menghadirkan dua figur besar yang menjadi inti refleksi Iduladha dan haji, yakni Ibrahim dan Ismail. Keduanya tidak digambarkan sekadar sebagai tokoh suci yang jauh dari realitas manusia, melainkan sebagai simbol pergulatan spiritual yang sangat manusiawi.

Ibrahim, dalam pembacaan Syariati, bukan sosok yang kaku dan tanpa gejolak perasaan. Justru ia digambarkan sebagai manusia yang mengalami guncangan batin yang luar biasa ketika menerima perintah untuk mengorbankan anak yang sangat dicintainya. Di sinilah letak pelajaran pentingnya. Ketakwaan bukan berarti seseorang tidak memiliki rasa takut, sedih, atau konflik batin. Ketakwaan justru tampak ketika manusia mampu menghadapi pergolakan itu dan tetap memilih jalan yang diyakininya sebagai kebenaran.

Perintah pengorbanan kepada Ibrahim bukan semata persoalan menyembelih seorang anak, melainkan ujian tentang keterikatan. Tuhan seakan ingin menguji apakah cinta, kepemilikan, dan ego telah mengambil posisi yang melampaui pengabdian kepada-Nya?. Ibrahim diuji bukan karena kurang beriman, tetapi karena bahkan orang yang paling saleh sekalipun tetap harus berhadapan dengan ujian terhadap apa yang paling dicintainya.

BACA JUGA:  Cipondoh Tenggelam Lagi: Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?

Di sisi lain, Ismail digambarkan sebagai figur kepatuhan dan kesadaran spiritual yang matang. Ia menerima perintah tersebut bukan dalam posisi pasif atau tanpa nalar, tetapi dengan keyakinan dan keikhlasan yang lahir dari kepercayaan kepada Tuhan. Ismail menjadi simbol bahwa ketakwaan tidak hanya berbicara tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga tentang kesiapan mengendalikan ego dan menerima tanggung jawab moral yang besar.

Apa “Ismail” Kita Hari Ini?
Bagi Syariati, kisah Ibrahim dan Ismail bukanlah cerita masa lalu yang berhenti pada sejarah atau ritual kurban semata. Kisah itu adalah drama kemanusiaan yang terus berulang dalam kehidupan setiap zaman. Karena itu, pertanyaan penting Iduladha bukan hanya “berapa hewan yang dikurbankan,” melainkan “apa yang sesungguhnya harus kita kurbankan dalam diri kita?”

Pertanyaan itu menjadi sangat relevan dengan kondisi hari ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang sering kali menempatkan materi, jabatan, citra, dan kepentingan pribadi sebagai pusat kehidupan. Tidak sedikit orang yang rela mengorbankan integritas demi kekuasaan, mengabaikan keadilan demi keuntungan, bahkan menjadikan agama sebatas simbol tanpa diikuti keberpihakan sosial. Dalam situasi seperti ini, “Ismail” modern bisa hadir dalam banyak bentuk: kesombongan yang dipelihara, ambisi politik yang berlebihan, kerakusan ekonomi, atau ego yang membuat manusia sulit mendengar suara nurani.

BACA JUGA:  Jangan Salah Pilih! Kenali Beda Kandungan Arabika dan Robusta Serta Takaran Pas Agar Kopi Jadi Obat, Bukan Racun

Di tengah kehidupan sosial dan politik yang sering dipenuhi kompetisi serta kepentingan pragmatis, pesan Idul adha justru menjadi semakin penting. Pengorbanan tidak selalu berarti kehilangan secara fisik, tetapi keberanian menyingkirkan kepentingan pribadi ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar—keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan bersama. Sebab kurban sejatinya bukan hanya tentang darah dan daging, melainkan tentang proses memotong ego yang selama ini menguasai diri manusia.

Karena itu, saya melihat Idul adha dan ibadah haji tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai agenda keagamaan tahunan. Ia adalah panggilan moral untuk melakukan evaluasi diri. Sejauh mana kita telah membebaskan diri dari “berhala-berhala” modern yang mengikat kehidupan? Seberapa besar agama telah membentuk akhlak dan keberpihakan sosial kita, bukan hanya identitas formal kita?

Dalam perspektif Ali Syariati, haji dan kurban pada akhirnya bukan tentang perjalanan menuju tempat tertentu, melainkan perjalanan menuju kualitas manusia yang lebih utuh—manusia yang rendah hati seperti Ibrahim dalam pergulatannya, dan tulus seperti Ismail dalam kepatuhannya. Sebab kesalehan yang sejati tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam keberanian memperbaiki diri dan menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Ahmad Priatna S.T., S.H

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

TAGGED:Hari raya iduladha
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau, Senin (24/8/2026). | Dok. Setpres

Pimpin Ratas Karhutla, Presiden Prabowo Perintahkan Intelijen dan Polisi Usut Korporasi

Tampak Wakil Walikota (Wawali) Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan ikut memusnahkan Barang Kena Cukai (BKC) ilegal di Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Banten, Serpong Utara, Tangsel, Jumat (21/8/2026). | Dok. Tangerangupdate

Lindungi Iklim Investasi di Banten, Wawali Tangsel Dorong Penindakan Cukai Ilegal

Wapres Gibran Rakabuming berdialog dengan pengungsi yang dirawat di tenda perawatan posko pengungsian Posko Golo Cenggo, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, Jumat (21/8/2026). | Dok. Antara

Wapres Gibran Instruksikan Bantuan Gempa NTT Jangkau Pengungsi Mandiri

Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Banten memusnahkan 41,28 juta batang rokok ilegal dan ribuan liter minuman keras (miras). | Dok. Tangerangupdate

Gempur Cukai Ilegal, Kanwil DJBC Banten Selamatkan Potensi Kerugian Negara Rp39,95 Miliar

Walikota Tangsel Benyamin Davnie saat di Wawancarai di Gedung Pemkot Tangsel/ Foto: Fery

Koperasi Award Jadi Momentum Tangsel Perkuat Ekonomi Kerakyatan

HUT ke-81 RI, Benyamin Davnie Tegaskan Kemerdekaan Harus Diwujudkan Lewat Kerja Nyata di Tangsel

Berita Terkait

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Foto : ilustrasi/freepik
Opini

Sejarah Buddhisme Nusantara, Perjalanan Panjang Dari Mahayana Kuno Hingga Threvada Modern

Jangan Lewatkan

Foto: Istimewa

BPN Kabupaten Tangerang Gelar Musyawarah Ganti Rugi 28 Bidang Tanah untuk Tol Serpong-Balaraja

Minggu, 23 Agustus 2026
Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Banten memusnahkan 41,28 juta batang rokok ilegal dan ribuan liter minuman keras (miras). | Dok. Tangerangupdate

Gempur Cukai Ilegal, Kanwil DJBC Banten Selamatkan Potensi Kerugian Negara Rp39,95 Miliar

Jumat, 21 Agustus 2026
Foto dokumentasi Tangerangupdate.com

Mantan Karyawan Ungkap Dugaan Sertifikasi Guru Palsu Jadi Jaminan Kredit di BPR Kerta Raharja Gemilang

Jumat, 21 Agustus 2026

Lepas Ekspor Rp40,8 Miliar, Barantin Dorong Produk Unggulan Banten Tembus Pasar Global

Jumat, 21 Agustus 2026
Tampak Wakil Walikota (Wawali) Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan ikut memusnahkan Barang Kena Cukai (BKC) ilegal di Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Banten, Serpong Utara, Tangsel, Jumat (21/8/2026). | Dok. Tangerangupdate

Lindungi Iklim Investasi di Banten, Wawali Tangsel Dorong Penindakan Cukai Ilegal

Senin, 24 Agustus 2026
Wapres Gibran Rakabuming berdialog dengan pengungsi yang dirawat di tenda perawatan posko pengungsian Posko Golo Cenggo, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, Jumat (21/8/2026). | Dok. Antara

Wapres Gibran Instruksikan Bantuan Gempa NTT Jangkau Pengungsi Mandiri

Senin, 24 Agustus 2026
Foto: istimewa

Polisi Tangkap Tiga Terduga Matel Diduga Peras Santri di Citra Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026

Meriahkan HUT RI ke-81, Pegawai Pemkot Tangsel Pererat Kebersamaan Lewat Lomba 17-an

Senin, 24 Agustus 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp