Tangerangupdate.com – Puluhan warga Perumahan Vila Rizki Insaani, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, menggelar aksi protes di depan kantor marketing gallery pengembang, Jumat 30 Oktober 2026, siang.
Dalam aksi yang diikuti puluhan warga berpakaian serba hitam itu, mereka menyoroti maraknya pencurian dan konflik dengan warga desa setelah akses jalan di dalam perumahan digunakan sebagai jalur umum menyusul longsor yang memutus akses jalan desa.
Berdasarkan sejumlah poster dan spanduk yang dibawa, warga menyampaikan tuntutan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan, termasuk fungsi kamera pengawas atau CCTV, pendataan tamu, serta kecukupan personel keamanan.
Mereka mempertanyakan fungsi CCTV di sejumlah titik, termasuk kamera di pos depan yang disebut tidak mampu membaca nomor polisi kendaraan. Warga juga menyinggung dugaan CCTV tidak berfungsi ketika terjadi pencurian sepeda di Blok B.
Selain persoalan pencurian, warga mengungkapkan bahwa konflik antara penghuni perumahan dan warga di luar kawasan tersebut telah terjadi sebanyak dua kali.
Kondisi itu membuat penghuni merasa tidak aman. Bahkan, sejumlah warga mengaku harus bergantian berjaga pada malam hari untuk mengantisipasi tindak pencurian.
Salah seorang warga, Arini, mengatakan persoalan keamanan membuat penghuni terus diliputi keresahan, meskipun mereka telah memenuhi kewajiban pembayaran cicilan rumah.
“Ibu-ibu di sini merasa resah. Setiap hari selain memikirkan cicilan, kami juga diresahkan dengan keamanan. Sampai rumah kemalingan, kami sampai malam-malam begadang. Tiap malam gantian untuk saling menjaga kompleks,” ujar Arini dalam orasinya.
Ia juga menyayangkan jumlah petugas keamanan yang disebut justru berkurang ketika warga membutuhkan peningkatan pengamanan.
Menurutnya, warga tidak ingin persoalan keamanan tersebut berujung pada pertentangan dengan masyarakat di sekitar perumahan.
“Giliran kami ingin bermusyawarah, apa jawabannya? Kami dibenturkan sama warga. Apakah Bapak tahu, warga menggeruduk kami dua kali? Mana keamanan yang dijanjikan?” katanya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Villa Rizki Insani, Zulfani Ahmad, menegaskan persoalan tersebut tidak seharusnya membuat warga perumahan dan masyarakat sekitar saling berhadapan.
“Jangan hadapkan warga dengan warga. Jangan sampai warga Insani dijadikan kambing hitam atas persoalan yang terjadi,” ujar Zulfani.
Selain menuntut pembenahan sistem keamanan, warga juga meminta pengembang memberikan kepastian mengenai penyelesaian fasilitas umum (fasum) yang selama kurang lebih tiga tahun disebut belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Arini menyebut lahan yang seharusnya menjadi fasilitas umum tersebut justru dibiarkan menjadi tumpukan tanah dan sampah.
“Kita meminta fasilitas umum kita. Sudah tiga tahun, hanya menjadi gunungan tanah, tumpukan sampah, dan sarang ular,” ungkapnya.
Melalui aksi tersebut, warga mendesak pengembang melakukan evaluasi total terhadap sistem keamanan, menambah atau memenuhi kebutuhan personel pengamanan, serta memastikan CCTV dan sistem pendataan tamu berfungsi dengan baik.
Mereka juga meminta akses belakang perumahan ditutup secara permanen sebagai salah satu upaya mencegah terulangnya konflik.
Kami telah meminta keterangan dari pihak manajemen Vila Rizki Insaani, pasca aksi warga. Namun hingga kini, belum ada perwakilan yang bisa memberikan keterangan terkait permasalahan yang dikeluhkan warga tersebut. *Rhomi






