Tangerangupdate.com – Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, menegaskan dugaan penyalahgunaan aliran Kali Ciputat di Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan harus segera dihentikan dan ditertibkan.
Pernyataan itu menguat seiring temuan jejak historis dan visual yang menunjukkan perubahan aliran Kali Ciputat, yang kini diduga berdiri Mall Bintaro Xchange.
“Tidak boleh. Kalau ada pantai, situ dan sungai disalahgunakan, harus dihentikan dan diberi efek jera,” kata Dimyati menanggapi isu alih fungsi Kali Ciputat di Pendopo Gubernur, KP3B, Serang, Senin (4/5/2026).
Penelusuran menunjukkan, keberadaan aliran Kali Ciputat bukan sekadar cerita warga. Dalam arsip peta kolonial Belanda tahun 1937 bertajuk Kebajoran yang tersimpan di Universitas Leiden, sungai itu tercatat dengan nama “K. Tjipoetat”.
Peta tersebut memperlihatkan adanya percabangan aliran, termasuk jalur yang kini diduga telah hilang. Data historis itu berkelindan dengan temuan citra satelit.
Melalui Google Earth, hingga 2012 aliran kali masih terlihat mengalir dari Pintu Air Nuri, melintasi rel kereta di sekitar Stasiun Jurangmangu, lalu menuju kawasan Pondok Jaya.
Namun, pada 2013, jejak aliran tersebut menghilang dari citra, digantikan oleh pembangunan kawasan komersial.
Di lapangan, kondisi itu terkonfirmasi. Aliran dari hulu di Pintu Air Nuri tidak lagi mengalir normal. Pintu air tertutup, dan jika dibuka, air tidak mengikuti jalur lama, melainkan tersedot ke aliran utama akibat sodetan buatan.
Kondisi fisik sungai pun memburuk. Lebar aliran menyempit, dasar sungai mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, serta dipenuhi vegetasi liar dan material organik. Air yang mengalir sebagian besar berasal dari limbah domestik, bukan dari sumber alami.
Dimyati menilai, fakta historis dan temuan visual tersebut menjadi dasar kuat untuk melakukan penertiban. Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh abai terhadap perubahan bentang alam yang berpotensi merugikan masyarakat.
“Harus segera dibenahi. Penertiban harus dilakukan,” ujarnya.
Perubahan aliran sungai ini diduga berdampak pada wilayah hilir, termasuk meningkatnya risiko banjir di kawasan permukiman.
Bahkan tak sedikit, rumah di Taman Mangun Indah yang dipasang papan “Dijual” karena kerap kebanjiran.
“(Penertiban) Itu sudah perintahnya bos kami pimpinan di atas,” pungkas Dimyati
Reporter: Rhomi
