Tangerangupdate.com – Sungai Cisadane pernah menjadi pusat kehidupan masyarakat Serpong. Sebelum jalan raya berkembang, sungai tersebut menjadi jalur transportasi, ruang interaksi sosial, hingga penopang aktivitas ekonomi warga.
Namun, perkembangan permukiman dan infrastruktur perkotaan perlahan mengubah hubungan masyarakat dengan sungai. Cisadane yang dahulu menjadi bagian penting kehidupan warga kini menghadapi tekanan pembangunan dan persoalan lingkungan.
Penggiat sejarah Serpong, Syahrudin alias Mang Iging, mengatakan Cisadane merupakan warisan peradaban yang memiliki peran penting dalam perjalanan masyarakat di wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya.
“Bicara Cisadane, sudah pasti itu warisan peradaban. Jauh sebelum seperti sekarang ini, Cisadane sebenarnya merupakan tampak muka. Sebelum ada jalan raya, bahkan sebelum masa Hindia Belanda,” kata Mang Iging dalam diskusi terbuka di Tangerang Selatan, Jumat (6/11/2026).
Menurutnya, sungai tersebut dahulu menjadi jalur transportasi yang menghubungkan kawasan hulu dan hilir. Aktivitas ekonomi masyarakat juga berkembang di sepanjang alirannya, termasuk tempat pembakaran kapur atau yang dikenal sebagai jebongan.
“Sungai Cisadane menjadi urat nadi perekonomian pada zamannya, baik zaman kerajaan maupun Hindia Belanda. Sebelum ada jalan raya, Cisadane menjadi sentral transportasi dari hilir sampai ke hulu,” ujarnya.
Kedekatan masyarakat dengan sungai bahkan masih terasa hingga dekade 1990-an. Warga memanfaatkan aliran Cisadane untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi hingga membersihkan diri menjelang Ramadan.
“Kalau bicara masa lalu yang saya rasakan, Cisadane memang menjadi sentral. Sampai tahun 1990-an ke belakang, kami masih melakukan banyak aktivitas di sana. Sebelum ada Cipeucang, kami mandi di sungai, bahkan menjelang bulan puasa,” tuturnya.
Perubahan kawasan perkotaan kemudian menggeser fungsi sungai dalam kehidupan masyarakat. Mang Iging mengakui kondisi Cisadane saat ini telah mengalami banyak kerusakan. Namun, ia mengingatkan bahwa penilaian mengenai tingkat dan sumber pencemaran harus didasarkan pada penelitian.
Ia menilai dokumentasi sejarah dan kesaksian masyarakat perlu dipertemukan dengan data lingkungan terkini untuk mengetahui perubahan kondisi sungai secara lebih utuh.
Selain aspek sejarah, Mang Iging menyoroti pentingnya pengelolaan Cisadane secara lintas wilayah. Sebab, aliran sungai melintasi sejumlah daerah sehingga pemulihannya tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah berdasarkan batas administrasi.
Ia mendorong pembentukan komunitas khusus yang konsisten mengawal pelestarian sungai. Sebelumnya, sejumlah penggiat sejarah dan lingkungan pernah membentuk komunitas Lingkar Cisadane.
“Memang harus ada komunitas khusus Cisadane. Potensinya sangat besar. Cisadane itu seharusnya menjadi tampak muka, bukan tampak belakang,” tegasnya.
Pengamat manajemen lingkungan, Asnil Bambani, juga mengingatkan bahwa penyelamatan sungai tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial atau sekadar program berbasis proyek.
Menurut Asnil, pemulihan sungai harus dilakukan melalui penelitian, perlindungan habitat, pemantauan kualitas air, dan restorasi ekosistem sesuai karakteristik daerah aliran sungai.
“Jangan sampai kemudian gerakan untuk menjaga Cisadane ini tidak berkelanjutan, tidak bergantung kepada proyek. Bagaimana kemandirian,” ujarnya.
Sementara itu, Founder Malika for Urban Studies, Muhammad Iqbal, menilai gerakan pelestarian sungai perlu diikuti perubahan kebijakan pembangunan. Menurutnya, kegiatan bersih-bersih tidak akan menyelesaikan persoalan apabila sumber kerusakan lingkungan tetap dibiarkan.
Karena itu, upaya menghidupkan kembali Cisadane perlu melibatkan masyarakat, komunitas sejarah, penggiat lingkungan, pemerintah, dan pelaku usaha.
Cisadane bukan sekadar bentang alam yang membelah kawasan perkotaan. Sungai tersebut menyimpan sejarah, menopang kehidupan, dan menjadi bagian dari identitas masyarakat. Mengembalikan fungsinya berarti menjaga warisan ekologis sekaligus peradaban bagi generasi berikutnya.
Reporter: Juno






