Tangerangupdate.com – Ekspansi kawasan industri dan pembangunan pusat data atau data center di wilayah Tangerang Raya memunculkan kekhawatiran baru terhadap keberlanjutan Sungai Cisadane. Selain ancaman pencemaran limbah, meningkatnya kebutuhan air industri dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap sumber daya air yang juga dibutuhkan masyarakat.
Pengamat manajemen lingkungan, Asnil Bambani, mengatakan pertumbuhan aktivitas industri harus diimbangi pengawasan ketat terhadap kualitas lingkungan. Sebab, pencemaran sungai tidak hanya berdampak pada ekosistem perairan, tetapi juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.
Hal tersebut disampaikan Asnil dalam diskusi terbuka bertajuk Sungai Cisadane: Antara Urat Nadi Kehidupan dan Saluran Buang Perkotaan di Rumah Makan Lembah Mas Jaya, Tangerang Selatan, Jumat (6/11/2026).
Menurut Asnil, limbah yang mengandung logam berat menjadi salah satu ancaman serius karena zat berbahaya dapat terakumulasi dalam lingkungan dan berpindah melalui tanaman maupun hewan yang dikonsumsi manusia.
“Ketika kita meracuni air, ya kita akan kembali mendapatkan petaka tersebut,” kata Asnil.
Ia mencontohkan penelitian yang diketahuinya di kawasan industri kertas di Karawang. Dalam penelitian tersebut, limbah industri diduga mengandung arsenik yang berpotensi terserap tanaman, termasuk padi, kemudian masuk ke rantai makanan.
Meski demikian, Asnil mengingatkan bahwa kondisi pencemaran di Sungai Cisadane harus dibuktikan melalui penelitian khusus. Ia tidak ingin hasil penelitian di Sungai Citarum pada 2023 langsung dijadikan gambaran kondisi Cisadane.
Dalam penelitian bersama sejumlah rekannya di Citarum, limbah domestik ditemukan sebagai salah satu sumber pencemaran terbesar, disusul aktivitas industri, peternakan, dan pertanian.
“Dari temuan saya yang di Citarum, yang paling banyak mencemari itu adalah limbah rumah tangga. Kalau saya nggak tahu di Cisadane itu apa,” tuturnya.
Selain pencemaran, Asnil menyoroti investasi pembangunan pusat data senilai Rp3,1 triliun di Tangerang. Menurutnya, industri tersebut membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, terutama untuk kebutuhan sistem pendinginan.
“Tangerang itu kedatangan investasi Rp3,1 triliun untuk membangun data center. Nah, data center ini adalah industri yang paling membutuhkan air. Dapat dari mana airnya? Kalau bukan dari air Cisadane?” ujarnya.
Ia meminta pemerintah memastikan sumber pasokan air dan daya dukung lingkungan sebelum memberikan ruang bagi ekspansi industri.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Kholid Ismail, juga menyoroti meningkatnya kebutuhan air seiring pertumbuhan penduduk dan pembangunan kawasan perkotaan.
Menurut Kholid, ketersediaan air harus diperhitungkan dengan kondisi debit sungai yang dapat berubah mengikuti musim. Ia juga menyinggung pemanfaatan Cisadane oleh pengembang perumahan dan industri sebagai salah satu sumber air baku.
“Kalau kebutuhan air semakin banyak, tetapi debit airnya tidak bertambah, berarti harus ada solusi. Pertanyaannya, siapa yang bisa menjamin kualitas airnya?” kata Kholid.
Kholid menilai pengawasan kualitas air tidak cukup dilakukan melalui pengerukan sampah. Pemerintah perlu mengendalikan sumber pencemaran sekaligus memastikan pemanfaatan air sungai tidak mengorbankan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, ekspansi industri dan pembangunan pusat data perlu disertai transparansi kebutuhan air, pengawasan limbah, serta kajian daya dukung lingkungan agar Cisadane tidak semakin terbebani.
Reporter: Juno






