Opini – Kalau tiap pagi lewat Jalan Siliwangi sampai Jalan Raya Puspitek-Buaran, kita pasti paham seberapa bikin sebel jalur ini. Kendaraan cuman bisa merayap, klakson di mana-mana, dan banyak orang mulai takut terlambat. Orang yang berangkat kerja, anak sekolah, dan mahasiswa semuanya keluar rumah di jam yang hampir sama dan lewat jalan yang sama.
Kemacetan Arah Jalan Siliwangi-Puspitek
Banyak orang langsung bilang penyebabnya cuma satu, yaitu kendaraan terlalu banyak. Menurut saya itu benar, tapi belum menjelaskan semuanya. Waktu saya melihat langsung ke lapangan, kemacetan paling parah justru muncul di titik-titik tempat jalan utama bertemu dengan gang. Jalan yang sudah penuh masih harus menerima kendaraan yang keluar dari kiri dan kanan, padahal mulut gangnya sempit dan tidak dibuat untuk menampung kendaraan sebanyak itu.
Salah satu titik terburuk ada di Villa Pamulang dan Jalan Permata Pamulang Raya. Di sini yang keluar masuk bukan hanya warga perumahan. Banyak pengendara dari arah Bojongsari memakai kawasan ini sebagai jalan tikus menuju Serpong atau BSD. Jalan perumahan yang tadinya untuk warga sekitar akhirnya dipakai sebagai jalan tembus. Begitu kendaraan dari sana memotong masuk ke Jalan Siliwangi, arus utama berhenti mendadak dan antreannya memanjang ke belakang. Hal yang sama terjadi di Gang Majelis Ta’lim dan gang sempit lainnya. Kendaraan harus pelan-pelan saat belok, sementara dari dalam gang kendaraan terus keluar tanpa jeda.
Jalur Utama Macet Parah
Petugas Dishub sebenarnya sudah ada di beberapa titik. Tapi dari yang saya lihat, kehadiran mereka belum cukup untuk mengurai kemacetan. Petugas bisa mengatur siapa yang jalan lebih dulu, tapi tidak bisa menambah lebar jalan. Saat kendaraan dari jalan utama, jalan tembusan Bojongsari, dan puluhan gang datang bersamaan, satu atau dua orang di persimpangan jelas kewalahan.
Menurut saya, ini menunjukkan kalau masalahnya ada di pola pergerakan, bukan semata kurangnya petugas. Di jam berangkat, semua orang punya tujuan dan waktu yang sama. Jalan Siliwangi menjadi pilihan utama bagi banyak pengguna, sehingga begitu ada hambatan kecil di satu titik, dampaknya langsung menjalar ke sepanjang ruas. Karena itu, kalau titik-titik kecil di mulut gang bisa diatur dengan baik, efeknya pada kelancaran jalan utama bisa cukup besar.
Dampaknya terasa oleh banyak orang. Pekerja telat sampai kantor, siswa ketinggalan jam pertama, dan mahasiswa harus buru-buru padahal sudah capek di jalan. Selain itu, kendaraan yang berhenti dan jalan terus-menerus menghabiskan bensin dan menambah asap knalpot di permukiman sekitar. Kalau dihitung per orang mungkin kerugiannya kecil, tapi ini terjadi setiap hari pada ribuan pengguna jalan. Belum lagi soal keselamatan. Pengendara sering saling serobot di mulut gang yang padat, dan senggolan kecil sudah cukup membuat jalan macet lebih lama.
Mobilitas Pagi Tertahan
Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Pertama, pihak berwenang perlu membuat pengaturan lalu lintas khusus di jam sibuk pagi hari, terutama untuk kendaraan dari arah Bojongsari yang lewat Villa Pamulang. Bentuknya bisa berupa pengaturan jam lewat atau sistem satu arah sementara. Jalan perumahan memang boleh dilewati umum, tetapi kalau fungsinya sudah lebih mirip jalur komuter, warga yang tinggal di sana ikut dirugikan. Pengaturan seperti ini tentu perlu disosialisasikan lebih dulu supaya pengendara dari Bojongsari tahu jalur alternatifnya dan tidak bingung.
Kedua, petugas di lapangan perlu dibantu dengan alat. Water barrier atau delineator sementara di persimpangan yang padat bisa mencegah kendaraan dari gang memotong jalur utama sembarangan. Kalau hanya mengandalkan peluit dan tangan, hasilnya akan terbatas seperti sekarang.
Ketiga, pengendara juga harus mau mengalah. Serapi apa pun aturan dibuat, hasilnya tidak akan maksimal kalau pengendara tetap menerobos dan tidak mau antre. Kalau semua orang mau bergantian, arus di mulut gang sebenarnya bisa berjalan lebih teratur. Mendahulukan arus utama saat keluar dari gang memang terasa lama, tapi sebenarnya itu yang membuat semua orang lebih cepat sampai. Pengendara yang memaksa masuk demi hemat beberapa detik justru ikut memperpanjang antrean yang nanti dia keluhkan sendiri.
Sebagai mahasiswa PPKn, saya melihat masalah ini berkaitan dengan sikap warga negara di ruang publik. Menjadi warga negara yang baik tidak hanya berarti hafal pasal dan sila. Hal sederhana seperti mau antre, menaati aturan, dan memikirkan orang lain di jalan juga bagian dari itu. Jalan raya dipakai oleh banyak orang setiap hari, jadi kebiasaan kecil di sana sangat terasa dampaknya.
Di sisi lain, tidak adil kalau semua kesalahan ditimpakan ke pengendara. Pemerintah juga perlu mau mendengar laporan warga, termasuk dari jurnalisme warga seperti tulisan ini. Warga yang setiap hari lewat di sana tahu persis titik mana yang macet, jam berapa paling padat, dan bagaimana perilaku pengendara di lapangan. Masukan seperti ini sebaiknya didengar sebelum kebijakan dibuat, supaya solusinya tepat sasaran dan mudah diterima warga yang menjalankannya.
Kemacetan di Siliwangi-Puspitek tidak akan selesai dengan satu cara saja. Dibutuhkan pengaturan dari pemerintah, alat pendukung di lapangan, dan kesadaran dari pengendara sendiri. Kalau salah satunya tidak ada, jalan akan tetap macet dan kita akan terus berangkat lebih pagi tapi tetap terlambat. Jadi selain menunggu perbaikan dari pihak berwenang, kita juga bisa mulai dari hal kecil: sabar dan mau mengalah di jalan.
Oleh : Shella Mega Cantika | Mahasiswa Universitas Pamulang






