Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Minggu, 8 November 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Redaksi TU
Redaksi TU
Minggu, 9 Agustus 2026 | 22:01 WIB
Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com – Tak dapat dimungkiri, Indonesia memang membutuhkan pembangunan. Ekonomi nasional sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen, dengan capaian PDB menembus angka Rp23.821,1 triliun. Meski demikian, keberhasilan sebuah pembangunan tidak bisa diukur semata dari deretan angka pertumbuhan ekonomi. Pada tahun yang sama, Indonesia masih memproduksi sekitar 790 juta ton batu bara, sementara porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi baru baru mencapai 15,75 persen.

Deforestasi netto pada 2024 pun masih tercatat di angka 175,4 ribu hektare. Data-data tersebut memang tidak serta-merta menunjuk pada satu kebijakan atau satu figur pemimpin sebagai penyebab tunggal seluruh persoalan ekologis. Namun, angka-angka itu cukup menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi, pemanfaatan energi, dan keberlanjutan lingkungan hingga kini masih belum bertemu dalam satu kerangka pembangunan yang benar-benar bertanggung jawab.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Dari titik inilah gagasan kepemimpinan ekoteosentris yang menjadi rujukan utama tulisan ini layak untuk dikembangkan lebih jauh. Gagasan tersebut bertolak dari premis bahwa kondisi lingkungan bukan semata soal teknis, melainkan juga soal paradigma kepemimpinan yang melandasinya. Cara berpikir seorang pemimpin akan memengaruhi keputusan yang diambilnya, keputusan itu kemudian melahirkan kebijakan, dan kebijakan pada gilirannya membentuk wajah ruang hidup bersama. Ekoteosentrisme hadir sebagai tawaran paradigma yang menempatkan Allah sebagai sumber segala nilai, manusia sebagai khalifah pemegang amanah, dan alam semesta sebagai ciptaan yang wajib dirawat.

Sayangnya, gagasan semulia ini perlu tetap dikritisi agar tidak terjebak menjadi sekadar jargon keagamaan baru yang kehilangan daya gigit. Krisis ekologis, pada kenyataannya, tidak bisa direduksi hanya sebagai kegagalan moral seorang pemimpin semata. Ia juga bertautan erat dengan desain ekonomi, kepentingan investasi, kerangka regulasi, pilihan teknologi, pola konsumsi, penataan ruang, hingga lemahnya pengawasan di lapangan. Karena itu pula, kepemimpinan ekoteosentris akan kehilangan ruhnya jika tauhid hanya berhenti menjadi kalimat pembuka pidato, sementara keputusan menyangkut tambang, hutan, pesisir, air, dan tata ruang tetap saja menjadikan keuntungan ekonomi sebagai pertimbangan yang paling dominan.

BACA JUGA:  Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Padahal, tauhid seharusnya justru mengubah cara kekuasaan itu sendiri bekerja. QS. Al-Baqarah ayat 30 menegaskan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi namun khalifah bukanlah pemilik bumi. QS. Hud ayat 61 menegaskan tugas manusia untuk memakmurkannya, sementara QS. Al-A’raf ayat 56 melarang tegas terjadinya kerusakan setelah bumi diperbaiki. Adapun QS. Ar-Rahman ayat 7–9 berbicara tentang mizan, sebuah keseimbangan yang pantang dilampaui batasnya. Dengan demikian, mandat yang diemban manusia bukanlah dominasi atas alam, melainkan pengelolaan yang dikungkung oleh amanah, keseimbangan, keadilan, dan larangan berbuat fasad.

Perspektif inilah yang sesungguhnya membedakan kepemimpinan ekoteosentris dari antroposentrisme, yang cenderung memandang alam terutama sebagai sumber daya bagi kepentingan manusia semata. Rujukan yang menjadi dasar tulisan ini secara tepat menempatkan ekosentrisme sebagai bentuk pengakuan bahwa hutan, air, tanah, satwa, udara, dan seluruh proses ekologis memiliki kedudukan yang tak kalah penting dalam sistem kehidupan.

Perpaduannya dengan tauhid melahirkan satu tuntutan politik yang tegas: setiap keputusan pembangunan tidak boleh sekadar menanyakan berapa besar investasi yang akan masuk, tetapi juga wajib mempertanyakan berapa kerusakan yang akan ditinggalkan, siapa yang menikmati manfaatnya, siapa yang menanggung bebannya, dan apakah alam masih sanggup memulihkan dirinya sendiri.

BACA JUGA:  NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Persoalan tersebut terlihat jelas dalam praktik tata kelola industri. Dalam ajang PROPER 2024–2025, sebanyak 5.476 perusahaan mengikuti penilaian kinerja lingkungan. Namun hanya 282 perusahaan yang berhasil masuk kategori melampaui ketaatan, terdiri atas 39 peringkat Emas dan 243 peringkat Hijau. Pemerintah sendiri pun mengakui masih ada perusahaan berkategori Merah dan Hitam yang belum memenuhi ketentuan lingkungan yang berlaku. Fakta ini menegaskan bahwa urusan keberlanjutan tidak bisa sepenuhnya digantungkan pada kesadaran sukarela pelaku usaha. Negara membutuhkan kepemimpinan yang berani menetapkan batas ekologis sebagai batas tegas dalam setiap kebijakan.

Atas dasar itu, paradigma ekoteosentris perlu diterjemahkan ke dalam empat koreksi kebijakan yang konkret. Pertama, setiap RTRW, RDTR, proyek hilirisasi, pertambangan, perkebunan, dan kawasan industri wajib menjadikan daya dukung dan daya tampung ekologis sebagai batas pengambilan keputusan, bukan sekadar pelengkap administratif belaka. Kedua, setiap perizinan harus memuat indikator neraca air, emisi, keanekaragaman hayati, risiko bencana, pemulihan ekosistem, serta dampak antargenerasi. Ketiga, pemerintah perlu mengaitkan hasil PROPER dan tingkat kepatuhan lingkungan dengan insentif fiskal, skema pembiayaan, pengadaan pemerintah, hingga evaluasi perizinan. Keempat, masyarakat, kalangan akademisi, organisasi keagamaan, dan kelompok terdampak harus diberi akses data serta ruang pengawasan sejak tahap perencanaan kebijakan dimulai.

BACA JUGA:  Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Bagi kader Himpunan Mahasiswa Islam, gagasan ini membawa konsekuensi yang langsung dan konkret. HMI tidak boleh berhenti hanya melahirkan kader yang pandai berbicara tentang pembangunan kader harus mampu menguji pembangunan itu sendiri. Komisariat, Cabang, dan Badko perlu membangun literasi seputar tata ruang, AMDAL, energi, pertambangan, perubahan iklim, serta anggaran yang berdimensi ekologis. HMI juga dapat menginisiasi Policy Watch Ekoteosentris guna menilai kebijakan daerah dengan lima ukuran sederhana: amanah, keadilan, kemaslahatan, partisipasi, dan keberlanjutan.

Pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak proyek yang berhasil ia resmikan, melainkan apakah kebijakan yang ia tinggalkan benar-benar membuat manusia hidup lebih adil tanpa harus menghancurkan ruang hidupnya sendiri. Kepemimpinan dalam Islam bukan hak untuk menguasai bumi, melainkan amanah untuk menjaganya. Tauhid tanpa tanggung jawab ekologis akan kehilangan konsekuensi sosialnya, sementara pembangunan tanpa mizan akan kehilangan arah moralnya. Di titik itulah kepemimpinan ekoteosentris dapat menjadi kontribusi nyata HMI untuk menghadirkan pembangunan yang tidak hanya maju, tetapi juga adil, maslahat, dan berkelanjutan.

Penulis: Elsa Mayori

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

TAGGED:Opini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Foto Ilustrasi/Istimewa

Cisadane Dulu Jadi Pusat Kehidupan, Kini Terancam Kehilangan Fungsi Ekologis dan Sosial

Foto: Ilustrasi/Istimewa

Pengawasan Cisadane Dinilai Lemah, Masyarakat Desak Audit Tata Ruang dan Penindakan Pelanggaran

Foto Ilustrasi/Istimewa

Ekspansi Industri dan Data Center Ancam Cisadane, Kebutuhan Air Jadi Sorotan

Diskusi Malika For Urban Studies membahas Sungai Cisadane dengan narasumber Asnil Bambani, Mang Iging dan Founder Malika M.Iqbal / Dok. TU

Sungai Cisadane Tertekan Pembangunan, dari Ancaman Limbah hingga Krisis Air

Foto: Pintu Air 10, bangunan bendungan bersejarah yang melintang di atas Sungai Cisadane, Kota Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

Pengawasan Lemah, Sungai Cisadane Kian Tertekan Aktivitas Industri dan Perkotaan

Foto: Istimewa

Ansor Fest Experience 2026 Hadirkan Bazar UMKM hingga Ansor Night Festival di Tangsel

Berita Terkait

Foto: Pengendara motor nekat kalau di atas trotoar | Dok. Hafiza Destianissa, Mahasiswi Universitas Pamulang
Opini

Hak Pejalan Kaki Dirampas: Saat Trotoar Berubah Jadi Jalan Motor

Opini

Kerap Terjebak Macet di Pamulang? Ternyata Ini Penyebab Arus Siliwangi – Puspitek Tersendat

Opini

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Jangan Lewatkan

Foto: Ilustrasi/Istimewa

Pengawasan Cisadane Dinilai Lemah, Masyarakat Desak Audit Tata Ruang dan Penindakan Pelanggaran

Minggu, 8 November 2026
Ibu Supriyanti Pemilik Rumah yang Tertimpa Tiang Listrik di Pondok Aren / Foto : Jupri Nugroho

Warga Sudah Peringatkan Tiang Trafo Rawan Roboh, Proyek Pemkot Tangsel Tetap Berjalan

Senin, 2 November 2026
Petugas PLN sedang merapihkan trafo yang meledak akibat roboh menimpa rumah warga di Pondok Aren / Foto : Jupri Nugroho

Proyek Long Storage Rp800 Juta di Tangsel Penyebab Tiang Trafo Roboh Timpa Rumah Warga

Senin, 2 November 2026
Foto: Dokumentasi Tangerangupdate.com

Hak Jawab PT RAI soal Polemik Akses Jalan dan Keamanan Vila Rizki Insaani

Rabu, 4 November 2026
Diskusi Malika For Urban Studies membahas Sungai Cisadane dengan narasumber Asnil Bambani, Mang Iging dan Founder Malika M.Iqbal / Dok. TU

Sungai Cisadane Tertekan Pembangunan, dari Ancaman Limbah hingga Krisis Air

Sabtu, 7 November 2026
Sejumlah petugas PLN sedang mengecek tiang yang menimpa rumah ibu Supriyanti di Pondok Aren / Foto : Jupri Nugroho

Tiang Trafo Roboh Timpa Rumah Warga, Pemkot Tangsel Soroti PLN, Bagaimana Pengawasan Proyek?

Senin, 2 November 2026
Sejumlah pihak akan segera dipanggil menganai laporan monopoli dan kecurangan dalam pengadaan makanan dan minuman (mamin) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tangerang tahun anggaran 2026 | Foto: Tangerangupdate.com

Kejari Kabupaten Tangerang Telaah Laporan Dugaan Monopoli Pengadaan Mamin Rp15,26 Miliar

Kamis, 5 November 2026
Foto Ilustrasi/Istimewa

Cisadane Dulu Jadi Pusat Kehidupan, Kini Terancam Kehilangan Fungsi Ekologis dan Sosial

Minggu, 8 November 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp