Tangerangupdate.com – Usulan penerapan tarif pada layanan Mikrotrans atau JakLingko mendapat dukungan dari pengamat transportasi Deddy Herlambang yang menilai kebijakan tersebut penting untuk menjaga kualitas layanan dan akurasi data penumpang.
Deddy menyebut layanan transportasi publik yang sepenuhnya gratis berpotensi menurunkan kesadaran pengguna terhadap pentingnya kualitas pelayanan.
“Memang betul, Mikrotrans harus berbayar. Jadi, ada edukasi ke pengguna, jangan sampai gratisan malah mengabaikan pelayanan itu sendiri,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Ia menilai penerapan tarif dapat menciptakan keseimbangan antara hak pengguna dan kewajiban untuk mendukung keberlangsungan layanan.
“Kalau berbayar, kita bisa menuntut pelayanan lebih baik,” katanya.
Meski demikian, Deddy mengusulkan penerapan tarif dilakukan bertahap, dimulai dari Rp1.000 untuk menghindari kejutan bagi masyarakat sebelum mencapai angka Rp2.000.
Sebelumnya, Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) periode 2026–2029, Sugihardjo, mengusulkan agar layanan Mikrotrans tidak lagi digratiskan dan dikenai tarif Rp2.000 per perjalanan.
“Kalau hanya untuk jarak dekat, hanya naik Mikrotrans itu tarifnya Rp2.000,” ujar Sugihardjo.
Ia menilai kebijakan gratis berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian data penumpang karena adanya target operasional dalam kontrak antara Transjakarta dan operator.
Sugihardjo mengungkapkan, dalam kondisi tertentu, potensi manipulasi data bisa terjadi agar target jumlah penumpang tetap terpenuhi.
“Kalau jumlah penumpangnya kurang, bisa saja dilakukan tapping sendiri supaya target terpenuhi,” ujarnya.
Dengan penerapan tarif, setiap perjalanan akan tercatat melalui transaksi pembayaran sehingga data penumpang dinilai lebih akurat.
Ia juga mengingatkan bahwa jika nantinya angka penumpang terlihat menurun setelah tarif diberlakukan, hal itu belum tentu mencerminkan penurunan jumlah pengguna, melainkan koreksi dari data sebelumnya.
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi, menjaga kualitas layanan, serta memastikan keberlanjutan operasional transportasi publik di Jakarta.***
Reporter: Rhomi
