Tangerangupdate.com – Seorang perempuan, mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh penumpang lain di dalam Commuter Line, rute Jakarta – Nambo, Sabtu 14 Maret 2026, malam.
Kasus dugaan pelecehan seksual tersebut dibagikan oleh korban melalui media sosial @/asrta.vo dan viral di threads. Korban menyebut pelaku diduga merupakan seorang dosen.
“Security Alert (Peringatan Keamanan). (Diduga) dosen cabul Teknik Industri Unpam (Universitas Pamulang) di KRL,” tulis korban dalam unggahan di media sosial threads, dikutip Minggu 15 Maret 2026.
Dalam unggahannya, korban menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi ketika ia menaiki kereta terakhir menuju Nambo dari Stasiun Tebet sekitar pukul 20.37 WIB.
Saat itu kondisi gerbong disebut sangat padat oleh penumpang. Korban berdiri tidak jauh dari pelaku sambil berbincang dengan temannya yang berada tepat di depannya.
“Posisinya sangat ramai. Saya sedang mengejar kereta terakhir ke arah Nambo dan naik dari stasiun Tebet. Posisi saya tidak jauh dari pelaku, tepatnya saya sedang ngobrol dengan teman saya di depan saya dan masih ada space di depan samping kiri,” terang korban.
Korban menyebut kejadian terjadi ketika kereta melintas di antara Stasiun Universitas Pancasila menuju Stasiun Universitas Indonesia sekitar pukul 21.00 WIB.
Menurut pengakuan korban, pelaku berdiri di dekatnya sambil membawa tas ransel yang digantung di satu bahu. Pria tersebut memegang bagian belakang tasnya dengan tangan kiri.
“Pelaku memegang belakang tas itu sambil meraba (bagian sensitif) saya dan tidak lama kemudian pelaku mengelus (lagi) sebanyak 2 kali,” bebernya.
Korban menyatakan bahwa pria yang diduga melakukan pelecehan tersebut disebut-sebut merupakan seorang dosen.
Menanggapi informasi yang beredar, Humas Universitas Pamulang, Muhyiddin Fanda, mengatakan pihak kampus telah melakukan komunikasi internal untuk menelusuri informasi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan klarifikasi awal yang dilakukan pihak universitas, belum ditemukan bukti yang mendukung dugaan yang beredar di media sosial.
“Berdasarkan klarifikasi awal yang kami terima, tidak ditemukan bukti yang mendukung dugaan yang beredar di media sosial,” ujarnya kepada Tangerangupdate.com.
Fanda menambahkan proses klarifikasi masih berjalan dan pihak kampus berharap masyarakat menunggu hasilnya secara menyeluruh.
“Kami berharap semua pihak dapat menunggu hasil klarifikasi secara utuh agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran informasi,” ujarnya.
Dalam perkembangan terbaru, ia menyebut pelapor telah mencabut laporannya. “Update terakhir, pelapor sudah mencabut laporannya. Iya (dosen Unpam), tapi tidak terbukti melakukan tindakan yang dituduhkan,” ungkapnya.
Ia berharap polemik yang berkembang di media sosial terkait kasus tersebut dapat diselesaikan dengan baik.
“Kami berharap kegaduhan yang telah terjadi di media sosial yang membawa nama kampus Unpam ini bisa diluruskan dan diselesaikan dengan baik,” ujarnya.
Namun pernyataan berbeda disampaikan oleh Kepala Program Studi Teknik Industri Universitas Pamulang, Tedi Dahniar. Saat dikonfirmasi, ia memilih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait informasi yang beredar.
“Pastikan dulu kebenarannya sudah ditangani pihak kepolisian. Tunggu keterangan dari kepolisian,” ujarnya singkat.
