Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Jumat, 23 Oktober 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Jolly Roger (Bendera One Piece): Alarm Perbaikan atau Revolusi bagi Republik Indonesia ke-80

Redaksi TU
Redaksi TU
Sabtu, 9 Agustus 2025 | 18:34 WIB
Peneliti RIGHTS, Septian Haditama (Dok. Istimewa)
Peneliti RIGHTS, Septian Haditama (Dok. Istimewa)
SHARE

Tangerangupdate.com – Selama tiga setengah abad, bangsa kita terbelenggu oleh masa kelam kolonialisme. Penjajahan, perbudakan, kerja paksa, kelaparan, dan penderitaan selalu membayangi ingatan kita tentang masa-masa itu. Namun, penjajah tidak selalu datang dengan cara kekerasan. Mereka memulai dengan berdagang, membawa budaya, membangun pengaruh, hingga akhirnya memperluas kekuasaan.

Mereka membangun sistem sosial, politik, dan hukum untuk mengikat masyarakat agar tunduk pada aturan mereka. Seiring waktu, sifat manusia yang tak pernah puas membuat penjajah merasa superior dan berhak berkuasa. Sikap semena-mena dan perlakuan tidak adil ini pada akhirnya membangkitkan kesadaran masyarakat pribumi, karena naluri manusia yang tersakiti pasti akan melawan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Perlawanan yang terorganisir, didasari rasa penderitaan yang sama, membentuk kesadaran kebangsaan yang menuntut hak untuk merdeka. Itulah cara sebuah negara terbentuk: dari kesadaran akan penderitaan bersama, didukung pengakuan negara lain, serta wilayah yang berdaulat.

Para pendiri bangsa telah mengamanatkan kepada generasi kita untuk melanjutkan cita-cita negara sesuai amanat Pembukaan UUD 1945. Namun, setelah 80 tahun merdeka, sudahkah amanat dan cita-cita itu tercapai? Atau, hanya sebatas kata tanpa makna mendalam?

Kemerdekaan, yang setiap tahun kita rayakan pada 17 Agustus, sering dipahami sebagai kehormatan dan kebanggaan. Merdeka adalah harga mati. Merdeka adalah bebas. Merdeka adalah ketika rakyat bisa hidup sejahtera, adil, dan makmur. Secara filosofis, merdeka berarti kebebasan dari belenggu fisik dan batin, serta kemampuan untuk bertindak mandiri dan bertanggung jawab.

Namun, makna kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu bebas dari belenggu perasaan dan pikiran, belum mampu dicapai oleh banyak orang. Kemerdekaan ini tertutup oleh keinginan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompok. Tanpa disadari, banyak orang rela kehilangan kemerdekaan mereka, diperbudak dan dibutakan oleh keserakahan
.
Peringatan hari kemerdekaan seakan hanya menjadi rutinitas tahunan. Setelah upacara selesai, kita dihadapkan pada kenyataan pahit: kemerdekaan hanya berlaku bagi mereka yang memiliki modal dan kekuasaan. Rakyat hanya menjadi penonton kebengisan dan keserakahan para pejabat.

BACA JUGA:  Membangun SDM Indonesia: Jalan Panjang Menuju Abad Ketiga Milenium

Kegagalan Para Pemimpin Republik yang Selalu Terulang

Jerat sistem kapitalisme dan kebijakan liberalisasi yang salah arah membutakan hasrat kemanusiaan. Hal ini selalu berujung pada kegagalan sistem, yang ditandai dengan korupsi, ketimpangan, dan kemiskinan. Sejarah mencatat kegagalan para pemimpin Republik, dari era pra-kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi saat ini.
Setelah kemerdekaan, Republik Indonesia mengalami kegagapan ideologi dan inkonsistensi sistem. Negara yang seharusnya berlandaskan kedaulatan rakyat justru berubah menjadi negara diktator.

Kebijakan mengangkat presiden seumur hidup melalui dekret berdampak buruk pada politik, bahkan berujung pada pemenjaraan para pendiri republik yang berseberangan dengan presiden. Padahal, saat itu Indonesia masih sangat membutuhkan pemikiran para tokoh tersebut untuk kemajuan sumber daya dan ekonomi.

Ir. Soekarno, yang diagungkan sebagai Bapak Pimpinan Besar Revolusi, gagal menyejahterakan rakyat karena kebijakan otoriter yang serampangan. Perilaku yang hanya mementingkan kelompoknya menyebabkan krisis ekonomi dan ketidakpuasan di berbagai daerah, yang berujung pada pemberontakan.

Ketidakstabilan politik luar negeri dan puncaknya, pembunuhan massal pasca-Gerakan Satu Oktober 1965, membuat wibawa Soekarno jatuh. Gerakan mahasiswa, pelajar, dan seluruh rakyat menuntut perubahan, yang akhirnya menutup masa Orde Lama.

Kemudian, datanglah era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, yang dijuluki Bapak Pembangunan. Stabilitas politik, ekonomi, dan pembangunan sumber daya manusia diupayakan. Pancasila dijadikan doktrin mutlak, menyingkirkan ideologi Marxisme dan komunisme.

Pertanyaannya, apakah Pancasila saat itu benar-benar menjadi ideologi pemersatu, atau hanya alat untuk melanggengkan kekuasaan?
Sistem politik dan hukum pun terdampak. Sistem multi-partai disederhanakan, dan pemilihan umum ditiadakan. Presiden dan wakil presiden dipilih melalui sidang Permusyawaratan Rakyat, menjadi sebab utama kekuasaan Soeharto bertahan selama 32 tahun.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Kebijakan swasembada pangan yang berkiblat pada ekonomi liberal dan perdagangan bebas membutuhkan modal besar. Indonesia pun terlibat dalam utang dengan Bank Dunia (IMF). Di masa inilah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) marak terjadi. Perilaku koruptif keluarga dan orang terdekat presiden membangkitkan perlawanan rakyat.

Gejolak krisis sosial dan kepercayaan memicu tindakan kriminal dan gerakan separatisme. Protes rakyat selalu dihadapi dengan moncong senjata. Pemberangusan media, penahanan tokoh politik, dan penghilangan paksa membuat rakyat geram. Puncaknya adalah krisis 1998, di mana gelombang reformasi masif menuntut perubahan. Rakyat menyambut gembira akhir dari 32 tahun masa pemerintahan gelap Soeharto.

Reformasi atau Revolusi?

Perubahan yang diharapkan mampu menghasilkan pemerintah yang bersih dari korupsi ternyata gagal. Tenaga Reformasi tidak cukup untuk mengubah sistem. Budaya KKN bermutasi menjadi wujud yang lebih beringas, kejam, dan gelap. Mutasi genetik Orde Baru menjadi Neo-Orba masih menjadi penghalang, bak sel kanker yang sudah merajai tubuh. Jika dahulu korupsi hanya dilakukan di pusat, kini telah merajalela hingga ke tingkat desa.

Pemerintahan pasca-Reformasi—dari BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi, hingga Prabowo saat ini—masih terus bergelut dengan kasus korupsi. Keadaan ini bahkan dinilai oleh beberapa peneliti menuju kebangkrutan negara.
Julukan “Konoha” untuk Indonesia ironisnya disandingkan dengan angka kemiskinan yang terpuruk, peringkat sebagai negara paling korup, dan utang terbesar. Apakah tenaga Reformasi memang belum cukup untuk menuju Republik yang lebih baik?

Jolly Roger sebagai Simbol Perubahan Mendasar (Revolusi)

Jolly Roger atau Bendera One Piece adalah simbol dari rakyat yang menyadari bahwa Republik ini sedang tidak baik-baik saja: gelap, rusak, dan tanpa harapan. Mereka bukanlah bajak laut yang ingin memberontak, dan rakyat juga bukan provokator. Jolly Roger adalah simbol harapan yang terus dirusak oleh mental busuk penguasa yang korup. Jolly Roger adalah alarm bagi Republik untuk segera melakukan perbaikan atau perubahan mendasar (revolusi).

BACA JUGA:  Membangun SDM Indonesia: Jalan Panjang Menuju Abad Ketiga Milenium

Setelah Reformasi, kita berharap Republik bisa membawa masyarakat ke arah kemajuan dan kesejahteraan. Namun, Reformasi telah gagal. Kita membutuhkan Revolusi. Revolusi adalah pengorbanan generasi kita demi kemajuan generasi mendatang. Jalan Revolusi harus ditempa dengan darah, dan darah itu adalah pengorbanan.

Jika negara tidak berpihak pada perbaikan, keadilan akan menemukan jalannya sendiri. Rasa penderitaan dan senasib sepenanggungan yang sama akan memunculkan ide kebangsaan, yaitu kesadaran untuk berpisah dan mendirikan negara sendiri. Itulah mengapa Aceh, Maluku, dan Papua memiliki alasan untuk merdeka. Mereka bukanlah kelompok separatis atau pemberontak, melainkan rakyat yang merindukan perubahan demi masa depan yang lebih baik.

Penulis berharap para pemimpin Republik, tokoh politik, dan pejabat dapat belajar dari Revolusi Prancis, Revolusi Xinhai (Tiongkok), serta alasan di balik munculnya konflik Gerakan Aceh Merdeka dan Papua Merdeka.

Jika simbol ini tidak dianggap sebagai alarm oleh para pemimpin Indonesia dan mereka terus bersikap seolah semuanya baik-baik saja, bahkan menuduh rakyat sebagai provokator, maka penjajah yang sebenarnya adalah para pemimpin dan pejabat negeri ini.

Kita berhak untuk melawan!

Penulis: Septian Haditama, Peneliti Research, Public Policy And Human Rights (RIGHTS)

Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

TAGGED:One Piece
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Kerap Terjebak Macet di Pamulang? Ternyata Ini Penyebab Arus Siliwangi – Puspitek Tersendat

Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka menyoroti dugaan lambatnya pengundangan sejumlah undang-undang yang telah disahkan DPR. | Dok. Tangerangupdate.com

Rieke Desak Prabowo Evaluasi Birokrasi, Soroti Lambatnya Pengundangan UU

Persidangan Sengketa Masa Jabatan Sekda Tangsel di PTUN Serang / Dok. TU

Feri Amsari Jadi Saksi Ahli dalam Gugatan Perpanjangan Jabatan Sekda Tangsel

Warga Serpong Lagoon membeli air minum galon imbas kasus E.coli. | Dok.TU

Imbas Kasus E. coli, Warga Serpong Lagoon Habiskan Rp200 Ribu Sehari untuk Air Galon

Lokasi : Serpong Lagoon

Kasus Air Tercemar EColi di Serpong Lagoon, Korban Bertambah Jadi 176 Orang

Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan | Dok. Tangerangupdate

Gudang yang Meledak di Pasar Cimanggis, Pemkot Sebut Tak Berizin

Berita Terkait

Opini

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Jangan Lewatkan

Prose pengupasan atau scraping Jalan Rawa Buntu oleh Bina Marga Tangsel/ Dok. TU

Perbaikan Jalan Rawa Buntu Ditargetkan Rampung Dua Pekan

Selasa, 20 Oktober 2026
Foto: istimewa

Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang Perkuat Zona Integritas Menuju WBBM

Rabu, 21 Oktober 2026
Warga Serpong Lagoon membeli air minum galon imbas kasus E.coli. | Dok.TU

Imbas Kasus E. coli, Warga Serpong Lagoon Habiskan Rp200 Ribu Sehari untuk Air Galon

Jumat, 23 Oktober 2026
Lahan Tambang di Salah Satu Kecamatan di Kabupaten Lebak/ Dok. M.Iqbal

RTRW Lebak Disorot, Zonasi Tambang Bersinggungan dengan Kawasan Rawan Bencana

Rabu, 21 Oktober 2026
Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan | Dok. Tangerangupdate

Gudang yang Meledak di Pasar Cimanggis, Pemkot Sebut Tak Berizin

Jumat, 23 Oktober 2026
Foto: Olah TKP gerai handphone yang dibobol maling di Tigaraksa | Dok. Istimewa

Gerai Handphone di Tigaraksa Dibobol Maling, 41 Handphone dan 3 TV Raib

Sabtu, 17 Oktober 2026
Sabak Bernam Parlemen Malaysia yang kritik Prabowo pakai Bahasa Jawa / Dok. Ist

Anggota Parlemen Malaysia Sampaikan Pesan kepada Prabowo Pakai Bahasa Jawa

Kamis, 22 Oktober 2026
Foto: Lokasi TPST Abu & Co/Dok. TU

Akademisi UI Peringatkan Bahaya Sampah Covid yang Berada di TPST Abu & Co Temuan PPLH

Minggu, 18 Oktober 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp