Tangerangupdate.com — Beban kapasitas Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung membengkak hingga 196 persen. Tempat berkapasitas ideal 227 orang tersebut kini sesak dihuni 445 warga binaan dan 3 anak bawaan.
Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka mendesak penerapan sanksi rehabilitasi kasus narkotika serta memperingatkan petugas penjara menjaga integritas institusi.
Kondisi krisis pemasyarakatan tersebut dipaparkan Rieke dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI di Bandung, Jumat (25/9/2026).
“Di sini ada sekitar 445 warga binaan dan ada tiga orang anak bawaan warga binaan. Harusnya lapas ini hanya memuat 227. Jadi jelas overkapasitas,” terang Rieke.
Sebanyak 60 persen penghuni lapas tersangkut kasus narkotika. Rieke memperjuangkan aturan turunan UU Pemasyarakatan terintegrasi KUHP baru.
Penerapan sanksi rehabilitasi memilah antara pengguna dan pengedar demi memangkas kepadatan sel.
“Pemilahan warga binaan pengguna narkotika melalui sanksi rehabilitasi pascaputusan pidana menjadi krusial. Lapas overkapasitas tidak akan mendapat kualitas baik dalam membina warga binaan,” tegas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.
Kepadatan penghuni berbanding terbalik dengan ketersediaan fasilitas medis. Kompleks hunian 445 orang tersebut hanya dilayani 8 tenaga medis: 1 dokter umum, 1 dokter gigi, 2 bidan, dan 4 perawat.
Rieke mendorong pemberian tunjangan risiko bagi petugas pemasyarakatan sembari mengingatkan pencegahan praktik suap narapidana berkantong tebal.
“Saya berharap para petugas pemasyarakatan jangan mental kere, menggadaikan kredibilitas institusi. Anda main-main, mental receh, bisa disuap, ada permainan dengan mereka yang berduit, baik di kasus narkotika atau kasus korupsi apalagi,” ujarnya.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung Rika Aprianti membenarkan kondisi tersebut. Pihaknya mengharapkan suntikan dana operasional medis dan perluasan sarana pembinaan keterampilan warga binaan.
“Dukungan anggaran kesehatan dan pengembangan ruang pembinaan sangat kami harapkan. Kreativitas warga binaan di bidang fashion dan kuliner membutuhkan ruang memadai sebelum mereka kembali ke masyarakat,” tandasnya.






