Tangerangupdate.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai berdampak pada harga sejumlah obat-obatan. Kenaikan harga tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20 persen dari harga normal dan berpotensi memengaruhi ketersediaan obat di fasilitas kesehatan pemerintah.
Beberapa jenis obat yang mengalami kenaikan harga antara lain obat penyakit jantung, obat diabetes, hingga paracetamol yang banyak digunakan masyarakat.
Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan pihaknya akan melakukan penyesuaian dalam pemberian obat kepada pasien di puskesmas se-Kabupaten Tangerang.
Menurut Hendra, kebijakan tersebut akan mulai diterapkan saat pengadaan obat berikutnya dilakukan. “Sudah (naik) saat pembelian obat di bulan depan,” kata Hendra.
Selain mengusulkan penambahan anggaran, Dinkes juga akan mengatur distribusi obat agar stok tetap tersedia bagi seluruh pasien yang membutuhkan.
“Kita coba usulkan anggaran, tapi yang penting kita berikan obat yang biasanya untuk 10 hari menjadi 5 hari dulu,” ujarnya.
Hendra memastikan pengurangan jumlah obat yang diberikan kepada pasien tidak akan mengurangi efektivitas pengobatan.
Menurutnya, pasien hanya akan diminta melakukan kontrol ulang dalam waktu yang lebih cepat untuk mendapatkan obat lanjutan.
“Sama, hanya perlu pengulangan kontrol lebih cepat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut akan diberlakukan selama harga obat masih mengalami kenaikan akibat faktor eksternal, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah.
Apabila kondisi harga obat kembali normal atau anggaran telah disesuaikan pada tahun berikutnya, pemberian obat kepada pasien akan kembali dilakukan seperti biasa.
“Betul,” jawab Hendra saat ditanya apakah kebijakan tersebut akan berlangsung selama harga obat masih tinggi dan akan kembali normal jika anggaran ditambah pada tahun anggaran berikutnya.
Reporter: Rhomi
