Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Senin, 28 September 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Saat Diklatsar Tak Lagi Jadi Jalan Menuju Pecinta Alam

Redaksi TU
Redaksi TU
Rabu, 16 April 2025 | 16:40 WIB
Jupri Nugroho | Dok. Pribadi
Jupri Nugroho | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com | Dalam dunia pecinta alam, Diklatsar singkatan dari Pendidikan dan Latihan Dasar selama puluhan tahun menjadi pintu masuk bagi siapa pun yang ingin bergabung secara resmi dalam sebuah organisasi. Di sanalah para calon anggota digembleng, tidak hanya secara fisik dan teknis, tetapi juga secara mental dan nilai-nilai dasar kepencintaalaman. Namun, di tengah cepatnya transformasi sosial dan budaya digital, muncul pertanyaan yang cukup krusial: apakah Diklatsar masih relevan?

Kritik terhadap relevansi Diklatsar bukan sekadar keluhan generasi muda yang tidak tahan proses berat. Ada sejumlah dinamika sosial yang ikut memengaruhi. Akses terhadap pengetahuan kini sangat terbuka. Materi-materi yang dulu hanya bisa diperoleh dalam pelatihan kini tersedia luas di internet. Siapa pun bisa mempelajari teknik navigasi, survival, hingga pertolongan pertama hanya dengan membuka video tutorial atau membaca artikel daring.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Perubahan cara belajar ini diikuti oleh pergeseran orientasi dalam aktivitas luar ruang. Pendakian, misalnya, tidak lagi sekadar arena kontemplatif atau ruang pembentukan karakter. Bagi sebagian kalangan, ia kini lebih dekat pada gaya hidup, ekspresi diri, atau bahkan ladang konten digital. Dalam lanskap semacam ini, Diklatsar sering dianggap terlalu berat, terlalu lama, dan kurang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Masalah inklusivitas juga menjadi sorotan. Dalam beberapa kasus, sistem Diklatsar dianggap menutup pintu bagi mereka yang memiliki keterbatasan tertentu—baik secara fisik, ekonomi, atau waktu. Apalagi dengan berkembangnya kesadaran akan pentingnya ruang yang terbuka dan ramah bagi semua kalangan, model pelatihan yang kaku dan selektif mulai dipertanyakan.

Tak sedikit organisasi yang menghadapi dilema regenerasi akibat hal ini. Ketika jumlah calon anggota menurun karena tidak tertarik mengikuti proses yang panjang dan menuntut, muncul dorongan untuk menyesuaikan atau bahkan menghapus sistem Diklatsar.

Namun, di tengah semua kritik tersebut, justru tampak bahwa Diklatsar masih memiliki peran yang sangat vital—bukan sebagai alat seleksi semata, melainkan sebagai ruang pendidikan karakter. Di tengah budaya instan yang mengedepankan hasil tanpa proses, Diklatsar mengajarkan ketekunan, tanggung jawab, dan solidaritas. Nilai-nilai inilah yang sulit diperoleh hanya lewat bacaan atau video daring.

Dalam Diklatsar, peserta tidak hanya belajar apa yang harus dilakukan saat menghadapi situasi darurat, tetapi juga mengapa tindakan itu penting, dan bagaimana melakukannya bersama orang lain dalam ikatan saling percaya. Di sana, seseorang belajar tidak hanya menjadi pendaki yang andal, tetapi juga anggota tim yang peduli dan bertanggung jawab.

BACA JUGA:  Membangun SDM Indonesia: Jalan Panjang Menuju Abad Ketiga Milenium

Dalam beberapa sumber menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis alam terbuka terbukti mampu meningkatkan kepemimpinan, empati, serta kesadaran ekologis peserta. Ini menunjukkan bahwa Diklatsar bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk tetap dipertahankan—dengan catatan bahwa bentuk dan pendekatannya bisa diperbarui sesuai konteks zaman.

Perubahan memang diperlukan. Diklatsar tidak boleh menjadi simbol kekuasaan senioritas, apalagi ruang normalisasi kekerasan. Ia perlu didekonstruksi dan dirancang ulang agar menjadi pengalaman yang transformatif, bukan traumatis. Inklusivitas harus menjadi bagian dari desain pelatihan, tanpa menghilangkan semangat pembelajaran yang serius dan bermakna.

Dengan demikian, mempertahankan Diklatsar bukanlah soal romantisme masa lalu, tetapi pilihan sadar untuk tidak kehilangan makna dalam proses menjadi bagian dari alam. Di tengah dunia yang serba instan, Diklatsar hadir sebagai pengingat bahwa mencintai alam tidak cukup hanya dengan niat, tetapi juga butuh proses, kedewasaan, dan tanggung jawab.

Oleh : Jupri Nugroho (Tulisan ini didedikasikan Dalam Rangka Milad Agripala SMKN 2 Tangerang)

Disclaimer: Artikel ini merupakan produk meja redaksi Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya merupakan sebuah opini dan tidak menunjukkan keberpihakan kepada siapapun.

TAGGED:MapalaOpiniSispala
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Anggota Komisi XIII Rieke Diah Pitalola saat kunjungan kerja spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, Jumat Petang (25/9/2026). (Dok. DPR RI)

Komisi XIII DPR Perjuangkan Aturan Turunan KUHP Baru Buntut Lapas Bandung Overcapacity

Rumah Ibadah GKPI di Rajeg/Foto: Istimewa

Insiden GKPI Rajeg, Dampak Minimnya Data dan Rumitnya Pendirian Rumah Ibadah

Petugas Gabungan Mulai Merekayasa Arus Lalu Lintas di Jalan Rawa Buntu Terkait Pembangunan U-Turn / Foto : Istimewa

Dishub Tangsel Gelar Uji Coba Rekayasa Lalu Lintas di Jalan Raya Rawa Buntu Dari 28–30 September

Founder Abu & Co (Baju Merah) saat memberikan jawaban terkait operasional TPST yang berada di Sempadan Sungai/ Foto : Juno

TPST Abu & Co Berikan Jawaban Atas Pengolahan Sampah yang Di Sempadan Sungai Cisadane

Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding | Dok. DPR RI

DPR Desak Polresta Tangerang Usut Tuntas Aksi Intimidasi Pembubaran Ibadah GKPI

Foto: istimewa

Rayakan 19 Tahun, Amaris Hotel Ajak Traveler Pamerkan Liburan Smart Berhadiah Paket Liburan Gratis

Berita Terkait

Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Jangan Lewatkan

Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa. | Dok. DPR RI

Skandal Sel Mewah dan Miras di Lapas Cibinong, DPR Desak Evaluasi Total

Jumat, 25 September 2026
Foto: Kuasa hukum pengembang Citra Garden Serpong saat memberikan keterangan kepada wartawan di bilangan Tangsel | Dok. Tangerangupdate.com

Digugat Konsumen Rp12 Miliar, Citra Garden Serpong Sebut Rumah Dibangun Sesuai Perjanjian

Kamis, 24 September 2026
Rumah Ibadah GKPI di Rajeg/Foto: Istimewa

Insiden GKPI Rajeg, Dampak Minimnya Data dan Rumitnya Pendirian Rumah Ibadah

Senin, 28 September 2026
Tangkapan Layar Tauran di jalan Buaran Viktor Rabu dini hari/ Foto : Dok. TU

Tawuran Pecah di Jalan Buaran Viktor Tangsel, Ada Korban Diduga Kena Sajam di Pinggang

Rabu, 23 September 2026
Foto: ilustrasi/istimewa

Belum Memiliki Payung Hukum, Begini Pengelolaan CSR di Tangsel

Jumat, 25 September 2026
Tangkapan Layar Kantor Polsek Serpong / Dok. TU

Bukan Tawuran, Polisi Sebut Korban Luka Gegara Diserang Gangster di Serpong

Rabu, 23 September 2026
Anggota Komisi III DPR RI, Safaruddin. | Dok. DPR RI

Safaruddin Soroti 3 Institusi Kelola Aset dalam RUU Perampasan Aset

Kamis, 24 September 2026
Founder Abu & Co (Baju Merah) saat memberikan jawaban terkait operasional TPST yang berada di Sempadan Sungai/ Foto : Juno

TPST Abu & Co Berikan Jawaban Atas Pengolahan Sampah yang Di Sempadan Sungai Cisadane

Sabtu, 26 September 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp