Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kota Tangsel
  • Kab Tangerang
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Senin, 16 Februari 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Saat Diklatsar Tak Lagi Jadi Jalan Menuju Pecinta Alam

Redaksi TU
Redaksi TU
Rabu, 16 April 2025 | 16:40 WIB
Jupri Nugroho | Dok. Pribadi
Jupri Nugroho | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com | Dalam dunia pecinta alam, Diklatsar singkatan dari Pendidikan dan Latihan Dasar selama puluhan tahun menjadi pintu masuk bagi siapa pun yang ingin bergabung secara resmi dalam sebuah organisasi. Di sanalah para calon anggota digembleng, tidak hanya secara fisik dan teknis, tetapi juga secara mental dan nilai-nilai dasar kepencintaalaman. Namun, di tengah cepatnya transformasi sosial dan budaya digital, muncul pertanyaan yang cukup krusial: apakah Diklatsar masih relevan?

Kritik terhadap relevansi Diklatsar bukan sekadar keluhan generasi muda yang tidak tahan proses berat. Ada sejumlah dinamika sosial yang ikut memengaruhi. Akses terhadap pengetahuan kini sangat terbuka. Materi-materi yang dulu hanya bisa diperoleh dalam pelatihan kini tersedia luas di internet. Siapa pun bisa mempelajari teknik navigasi, survival, hingga pertolongan pertama hanya dengan membuka video tutorial atau membaca artikel daring.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Perubahan cara belajar ini diikuti oleh pergeseran orientasi dalam aktivitas luar ruang. Pendakian, misalnya, tidak lagi sekadar arena kontemplatif atau ruang pembentukan karakter. Bagi sebagian kalangan, ia kini lebih dekat pada gaya hidup, ekspresi diri, atau bahkan ladang konten digital. Dalam lanskap semacam ini, Diklatsar sering dianggap terlalu berat, terlalu lama, dan kurang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Masalah inklusivitas juga menjadi sorotan. Dalam beberapa kasus, sistem Diklatsar dianggap menutup pintu bagi mereka yang memiliki keterbatasan tertentu—baik secara fisik, ekonomi, atau waktu. Apalagi dengan berkembangnya kesadaran akan pentingnya ruang yang terbuka dan ramah bagi semua kalangan, model pelatihan yang kaku dan selektif mulai dipertanyakan.

Tak sedikit organisasi yang menghadapi dilema regenerasi akibat hal ini. Ketika jumlah calon anggota menurun karena tidak tertarik mengikuti proses yang panjang dan menuntut, muncul dorongan untuk menyesuaikan atau bahkan menghapus sistem Diklatsar.

Namun, di tengah semua kritik tersebut, justru tampak bahwa Diklatsar masih memiliki peran yang sangat vital—bukan sebagai alat seleksi semata, melainkan sebagai ruang pendidikan karakter. Di tengah budaya instan yang mengedepankan hasil tanpa proses, Diklatsar mengajarkan ketekunan, tanggung jawab, dan solidaritas. Nilai-nilai inilah yang sulit diperoleh hanya lewat bacaan atau video daring.

Dalam Diklatsar, peserta tidak hanya belajar apa yang harus dilakukan saat menghadapi situasi darurat, tetapi juga mengapa tindakan itu penting, dan bagaimana melakukannya bersama orang lain dalam ikatan saling percaya. Di sana, seseorang belajar tidak hanya menjadi pendaki yang andal, tetapi juga anggota tim yang peduli dan bertanggung jawab.

BACA JUGA:  Membangun SDM Indonesia: Jalan Panjang Menuju Abad Ketiga Milenium

Dalam beberapa sumber menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis alam terbuka terbukti mampu meningkatkan kepemimpinan, empati, serta kesadaran ekologis peserta. Ini menunjukkan bahwa Diklatsar bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk tetap dipertahankan—dengan catatan bahwa bentuk dan pendekatannya bisa diperbarui sesuai konteks zaman.

Perubahan memang diperlukan. Diklatsar tidak boleh menjadi simbol kekuasaan senioritas, apalagi ruang normalisasi kekerasan. Ia perlu didekonstruksi dan dirancang ulang agar menjadi pengalaman yang transformatif, bukan traumatis. Inklusivitas harus menjadi bagian dari desain pelatihan, tanpa menghilangkan semangat pembelajaran yang serius dan bermakna.

Dengan demikian, mempertahankan Diklatsar bukanlah soal romantisme masa lalu, tetapi pilihan sadar untuk tidak kehilangan makna dalam proses menjadi bagian dari alam. Di tengah dunia yang serba instan, Diklatsar hadir sebagai pengingat bahwa mencintai alam tidak cukup hanya dengan niat, tetapi juga butuh proses, kedewasaan, dan tanggung jawab.

Oleh : Jupri Nugroho (Tulisan ini didedikasikan Dalam Rangka Milad Agripala SMKN 2 Tangerang)

Disclaimer: Artikel ini merupakan produk meja redaksi Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya merupakan sebuah opini dan tidak menunjukkan keberpihakan kepada siapapun.

TAGGED:MapalaOpiniSispala
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

Terpopuler

Foto: Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid | Tangerangupdate.com

Kembali Rusak Terkelupas, Bupati Tangerang Klaim Jalan Raya Pasar Kemis Lagi Diperbaiki

Foto: kegiatan setelah peresmian Pos Kesehatan Merah Putih di Jalan H. Usman, kawasan Pasar Ciputat | Istimewa

Pos Kesehatan Merah Putih Resmi Beroperasi di Pasar Ciputat

Foto: Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid (kiri) | Dok. Istimewa

Buka Tangerang TAXPO 2026, Maesyal Rasyid Dorong Budaya Sadar Pajak di Ruang Publik

Foto: Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Benyamin Davnie (kanan) saat memimpin Gerakan Indonesia ASRI di Kelurahan Pondok Kacang | Istimewa

Pemkot Tangsel Dorong Gerakan Indonesia ASRI Jadi Budaya Warga

Foto: kondisi terkini Jalan Raya Pasar pasca diperbaiki oleh DBMSDA Kabupaten Tangerang pada Sabtu 14 Februari 2026, kemarin | Tangerangupdate.com

Baru Ditambal DBMSDA, Aspal Jalan Raya Pasar Kemis Kembali Rusak Terkelupas

Karangan bungai komika perempuan, Mega Salsabilla, melalui unggahan media sosial | Foto: Instagram @/jubir.warkab

Empat Orang Tewas Akibat Jalan Rusak, Komika Semprot Pemkab Tangerang Lewat Karangan Bunga

Berita Terkait

Foto: H. Ahmad Imron (Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Banten/Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falahiyyah | Dok. Pribadi
Opini

Khidmah sebagai Jalan: Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj Menjaga Arah NU

Foto:Muhammad Habib Qufront.RE (Sekretaris Bidang P3A Komisariat Pamulang) | Dok. Pribadi
Opini

Guru Dilaporkan, Pemerintah Daerah Menghilang: Potret Buram Perlindungan Pendidikan

Foto: Entis Sumantri, Aktivis HMI & Sekretaris Umum DPD KNPI Kabupaten Pandeglang Periode 2025–2028 | Dok. Pribadi
Opini

Banjir Tahunan Pandeglang: Antara Alam, Ulah Manusia, dan Kegagalan Mitigasi Pemerintah

Opini

Peran Teknologi Digital dalam Meningkatkan Mutu Evaluasi Pembelajaran di Pendidikan Nonformal

Foto: Naseh Al-Aziiz | Dok. Pribadi
Opini

NDP Sebagai Arah Gerak Kader HMI di Era Perubahan

Foto: Muzhawwir Yunus | Dok. Pribadi
Opini

Internalisasi Nilai Dasar Perjuangan HMI: Spirit Gerak Kader melalui Teologis, Kosmologis, Antropologis

Foto: Doni Nuryana | Dok. Pribadi
Opini

Insan Kamil: Pijakan Teologis Menghadapi Arus Teknologi

Foto: Alwi Asparin, S.T | Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat | Dok. Pribadi
Opini

Investasi Strategis Bangsa: Pemberdayaan Guru sebagai Agen Transformasi Peradaban

Jangan Lewatkan

Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang, Midyani (kiri) saat mengawal kasus dugaan pengeroyokan oleh Bahar bin Smith kepada anggota Banser pada Sabtu 4 Oktober 2025 | Tangerangupdate.com

GP Ansor Tangerang Protes Bahar bin Smith Tak Ditahan

Kamis, 12 Februari 2026
Foto: Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid | Tangerangupdate.com

Kembali Rusak Terkelupas, Bupati Tangerang Klaim Jalan Raya Pasar Kemis Lagi Diperbaiki

Senin, 16 Februari 2026
Foto: Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie menggunakan sarung BHS | Dok. Istimewa

Anggaran Sarung BHS Pemkot Tangsel 2025 Tembus Rp1 Miliar, 2026 Tetap Dianggarkan

Jumat, 13 Februari 2026
Foto: Kecelakaan maut merenggut nyawa pelajar saat berangkat ke sekolah di Pasar Kemis pada Jumat 13 Februari 2026 | Istimewa

Sudah 4 Kali Makan Korban, Lubang Jalan di Pasar Kemis Kini Renggut Nyawa Pelajar

Jumat, 13 Februari 2026

Warga Pusing hingga Pingsan, Puing Gudang Kimia Tangsel Belum Dibersihkan

Jumat, 13 Februari 2026
Sejumlah ikan mati diduga imbas air tercemar cairan pembasmi hama pascakebakaran gudang distributor insektisida di kawasan Pergudangan Taman Tekno, Kecamatan Setu, Tangsel | Dok. Tangerangupdate.com

Pemkab Tangerang Imbau Warga Bantaran Cisadane Tak Konsumsi Ikan Pasca Tercemar 2,5 Ton Insektisida

Selasa, 10 Februari 2026
Anggota DPRD Tangsel dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ferdiansyah/ Foto : Dok. TU

DPRD Tangsel: Pemkot dan Pemprov Banten Jangan Lempar Tanggung Jawab, Jalan Rusak Harus Segera Diperbaiki

Kamis, 12 Februari 2026
Foto: Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie (kedua kiri) | Dok. Istimewa

Pemkot Tangsel Evaluasi Izin SLF dan Amdal Kawasan Taman Tekno Pasca Kebakaran dan Pencemaran Sungai Cisadane

Selasa, 10 Februari 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp