Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Senin, 5 Oktober 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Saat Diklatsar Tak Lagi Jadi Jalan Menuju Pecinta Alam

Redaksi TU
Redaksi TU
Rabu, 16 April 2025 | 16:40 WIB
Jupri Nugroho | Dok. Pribadi
Jupri Nugroho | Dok. Pribadi
SHARE

Tangerangupdate.com | Dalam dunia pecinta alam, Diklatsar singkatan dari Pendidikan dan Latihan Dasar selama puluhan tahun menjadi pintu masuk bagi siapa pun yang ingin bergabung secara resmi dalam sebuah organisasi. Di sanalah para calon anggota digembleng, tidak hanya secara fisik dan teknis, tetapi juga secara mental dan nilai-nilai dasar kepencintaalaman. Namun, di tengah cepatnya transformasi sosial dan budaya digital, muncul pertanyaan yang cukup krusial: apakah Diklatsar masih relevan?

Kritik terhadap relevansi Diklatsar bukan sekadar keluhan generasi muda yang tidak tahan proses berat. Ada sejumlah dinamika sosial yang ikut memengaruhi. Akses terhadap pengetahuan kini sangat terbuka. Materi-materi yang dulu hanya bisa diperoleh dalam pelatihan kini tersedia luas di internet. Siapa pun bisa mempelajari teknik navigasi, survival, hingga pertolongan pertama hanya dengan membuka video tutorial atau membaca artikel daring.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Perubahan cara belajar ini diikuti oleh pergeseran orientasi dalam aktivitas luar ruang. Pendakian, misalnya, tidak lagi sekadar arena kontemplatif atau ruang pembentukan karakter. Bagi sebagian kalangan, ia kini lebih dekat pada gaya hidup, ekspresi diri, atau bahkan ladang konten digital. Dalam lanskap semacam ini, Diklatsar sering dianggap terlalu berat, terlalu lama, dan kurang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Masalah inklusivitas juga menjadi sorotan. Dalam beberapa kasus, sistem Diklatsar dianggap menutup pintu bagi mereka yang memiliki keterbatasan tertentu—baik secara fisik, ekonomi, atau waktu. Apalagi dengan berkembangnya kesadaran akan pentingnya ruang yang terbuka dan ramah bagi semua kalangan, model pelatihan yang kaku dan selektif mulai dipertanyakan.

Tak sedikit organisasi yang menghadapi dilema regenerasi akibat hal ini. Ketika jumlah calon anggota menurun karena tidak tertarik mengikuti proses yang panjang dan menuntut, muncul dorongan untuk menyesuaikan atau bahkan menghapus sistem Diklatsar.

Namun, di tengah semua kritik tersebut, justru tampak bahwa Diklatsar masih memiliki peran yang sangat vital—bukan sebagai alat seleksi semata, melainkan sebagai ruang pendidikan karakter. Di tengah budaya instan yang mengedepankan hasil tanpa proses, Diklatsar mengajarkan ketekunan, tanggung jawab, dan solidaritas. Nilai-nilai inilah yang sulit diperoleh hanya lewat bacaan atau video daring.

Dalam Diklatsar, peserta tidak hanya belajar apa yang harus dilakukan saat menghadapi situasi darurat, tetapi juga mengapa tindakan itu penting, dan bagaimana melakukannya bersama orang lain dalam ikatan saling percaya. Di sana, seseorang belajar tidak hanya menjadi pendaki yang andal, tetapi juga anggota tim yang peduli dan bertanggung jawab.

BACA JUGA:  Membangun SDM Indonesia: Jalan Panjang Menuju Abad Ketiga Milenium

Dalam beberapa sumber menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis alam terbuka terbukti mampu meningkatkan kepemimpinan, empati, serta kesadaran ekologis peserta. Ini menunjukkan bahwa Diklatsar bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk tetap dipertahankan—dengan catatan bahwa bentuk dan pendekatannya bisa diperbarui sesuai konteks zaman.

Perubahan memang diperlukan. Diklatsar tidak boleh menjadi simbol kekuasaan senioritas, apalagi ruang normalisasi kekerasan. Ia perlu didekonstruksi dan dirancang ulang agar menjadi pengalaman yang transformatif, bukan traumatis. Inklusivitas harus menjadi bagian dari desain pelatihan, tanpa menghilangkan semangat pembelajaran yang serius dan bermakna.

Dengan demikian, mempertahankan Diklatsar bukanlah soal romantisme masa lalu, tetapi pilihan sadar untuk tidak kehilangan makna dalam proses menjadi bagian dari alam. Di tengah dunia yang serba instan, Diklatsar hadir sebagai pengingat bahwa mencintai alam tidak cukup hanya dengan niat, tetapi juga butuh proses, kedewasaan, dan tanggung jawab.

Oleh : Jupri Nugroho (Tulisan ini didedikasikan Dalam Rangka Milad Agripala SMKN 2 Tangerang)

Disclaimer: Artikel ini merupakan produk meja redaksi Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya merupakan sebuah opini dan tidak menunjukkan keberpihakan kepada siapapun.

TAGGED:MapalaOpiniSispala
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Foto: lokasi penemuan jasad pria di Ciputat | Dok. Istimewa

Jasad Pria Mengambang di Ciputat, Polisi Gelar Olah TKP

Foto: proses evakuasi korban tenggelam di danau bekas galian pasir Pagedangan | Dok. Istimewa

Dua Hari Dicari, Bocah 9 Tahun Ditemukan Meninggal di Danau Bekas Galian Pasir Pagedangan

Tangkapan Layar Gapura Polda Banten / Dok. TU

Kapolri Mutasi 19 Kapolda, Enam Polda di Pulau Jawa Berganti Pimpinan, Kapolda Banten Ikut Dirotasi

Urai Kemacetan Jalan Rawa Buntu Bakal Dilengkapi Median dan Dua U-Turn, Ini Lokasinya

Urai Kemacetan Jalan Rawa Buntu Bakal Dilengkapi Median dan Dua U-Turn, Ini Lokasinya

Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto (kiri) dan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers setelah acara pelantikan kapolri baru di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). | Dok. Istimewa

Komisi III DPR Desak Kapolri Suyudi Setop Represifitas Aparat ke Rakyat Kecil

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Berita Terkait

Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Foto: Denies Susanto, Akedemisi dan Praktisi Universitas Pamulang Kampus Serang | Dok. Tangerangupdate.com
Opini

Dari Nongkrong ke Nabung Saham: Wajah Baru Investasi Gen Z – belajar, bertumbuh, berkembang

Jangan Lewatkan

Foto: proses evakuasi korban tenggelam di danau bekas galian pasir Pagedangan | Dok. Istimewa

Dua Hari Dicari, Bocah 9 Tahun Ditemukan Meninggal di Danau Bekas Galian Pasir Pagedangan

Sabtu, 3 Oktober 2026
Foto: sejumlah pengendara terlihat menerobos traffic light di persimpangan Jalan Raya Cisauk | Dok. Titis Kurniati

Warga Keluhkan Pengendara Kerap Terobos Lampu Merah di Jalan Raya Cisauk

Kamis, 1 Oktober 2026
Foto: lokasi penemuan jasad pria di Ciputat | Dok. Istimewa

Jasad Pria Mengambang di Ciputat, Polisi Gelar Olah TKP

Senin, 5 Oktober 2026
Ahli Pertama Pengendali Dampak Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, Rifky Ilhami/ Foto : Juno

KLH Siap Turun Tangan jika Pemda Tak Sanggup Tangani Dugaan Pelanggaran TPST Abu & Co

Rabu, 30 September 2026

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Jumat, 2 Oktober 2026
Foto: gerbang selamat datang Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang | Dok. Tangerangupdate.com

IKA SAKTI Laporkan Dugaan Monopoli Pengadaan Mamin Kabupaten Tangerang Rp15,26 Miliar ke Kejaksaan, Minta Sekda Diperiksa

Selasa, 29 September 2026
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Tangerang Selatan, Mukroni/ Dok. Dispora

Kadispora Tangsel Mukroni Mundur Jelang Porprov Banten 2026, Benyamin Tunjuk Plt

Kamis, 1 Oktober 2026
Tangkapan Layar Gapura Polda Banten / Dok. TU

Kapolri Mutasi 19 Kapolda, Enam Polda di Pulau Jawa Berganti Pimpinan, Kapolda Banten Ikut Dirotasi

Sabtu, 3 Oktober 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp