Tangerangupdate.com – Pengamat kebijakan publik, Ahmad Priatna mengkritik kondisi banyaknya Penerangan Jalan Umum (PJU) yang mati maupun belum tersedia di sejumlah wilayah Kabupaten Tangerang.
Ia menilai target penyelesaian yang baru direncanakan rampung pada 2027 hingga 2028 menunjukkan program Tangerang Benderang belum berjalan sesuai harapan masyarakat.
Kritik itu disampaikan menyusul pernyataan Bupati Tangerang yang mengakui masih banyak titik penerangan jalan yang belum terpasang dan membutuhkan waktu hingga beberapa tahun ke depan untuk diselesaikan.
Menurut Priatna, pengakuan tersebut justru memperlihatkan adanya kesenjangan antara slogan pembangunan yang selama ini digaungkan pemerintah daerah dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat setiap hari.
“Jika hingga saat ini masih banyak lampu jalan yang mati dan sejumlah ruas jalan masih gelap, maka publik berhak mempertanyakan sejauh mana keberhasilan program Tangerang Benderang. Sebab ukuran keberhasilan program bukan pada nama atau kampanyenya, melainkan pada hasil yang dirasakan masyarakat,” katanya kepada Tangerangupdate.com, Senin 8 Juni 2026.
Ia menilai persoalan PJU bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan menyangkut aspek keselamatan, keamanan, dan pelayanan dasar masyarakat. Jalan yang gelap berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, tindak kriminalitas, hingga mengganggu aktivitas warga pada malam hari.
Menurutnya, target penyelesaian hingga 2028 juga menimbulkan pertanyaan mengenai perencanaan program yang selama ini dijalankan pemerintah daerah.
“Kalau program Tangerang Benderang sudah lama berjalan tetapi pada 2026 pemerintah masih membutuhkan waktu dua tahun lagi untuk menyelesaikan persoalan dasar seperti penerangan jalan, maka wajar jika publik mempertanyakan efektivitas program tersebut,” ujarnya.
Priatna mengatakan pemerintah seharusnya tidak hanya fokus membangun narasi keberhasilan, tetapi juga menyampaikan kondisi riil kepada masyarakat secara terbuka. Transparansi dinilai penting agar masyarakat dapat mengawasi progres pembangunan yang dilakukan pemerintah.
Ia menyoroti belum adanya penjelasan rinci mengenai jumlah PJU yang mati, titik-titik yang belum terpasang, kebutuhan anggaran, hingga target penyelesaian yang terukur setiap tahunnya.
“Publik perlu mengetahui berapa jumlah lampu yang mati, berapa yang belum tersedia, berapa anggaran yang dibutuhkan, dan kapan target penyelesaiannya. Tanpa data yang terbuka, masyarakat akan sulit menilai apakah pemerintah sedang menyelesaikan masalah atau hanya menundanya,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai pemerintah daerah harus menjadikan persoalan PJU sebagai prioritas utama karena menyangkut kebutuhan dasar warga. Menurutnya, masyarakat tidak membutuhkan slogan pembangunan yang terdengar baik, tetapi pelayanan yang dapat dirasakan secara langsung.
“Masyarakat tidak membutuhkan baliho yang mengatakan daerahnya terang. Masyarakat membutuhkan lampu jalan yang benar-benar menyala saat mereka melintas pada malam hari. Mereka membutuhkan rasa aman dan kepastian bahwa pelayanan publik berjalan sebagaimana mestinya,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan program Tangerang Benderang pada akhirnya akan dinilai dari kondisi di lapangan, bukan dari narasi yang dibangun pemerintah.
“Selama masih banyak jalan gelap dan lampu mati yang dikeluhkan warga, maka program tersebut belum bisa disebut berhasil sepenuhnya. Ukuran keberhasilannya sederhana, semakin sedikit jalan yang gelap, semakin berhasil program itu,” pungkasnya.
Sebelumnya, Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, angkat bicara terkait kondisi Penerangan Jalan Umum (PJU) yang masih belum merata di sejumlah ruas jalan di wilayah Kabupaten Tangerang.
Maesyal mengakui masih terdapat sejumlah ruas jalan yang belum memiliki penerangan memadai. Menurutnya, pembangunan PJU yang belum terealisasi akan dianggarkan secara bertahap pada 2027 hingga 2028.
“Yang belum (terpasang PJU) yang sisanya akan kita anggarkan 2027 sampai dengan 2028,” kata Maesyal saat ditemui Tangerangupdate.com di Tigaraksa, Senin 2 Juni 2026.
Reporter: Rhomi
