Tangerangupdate.com – Tempat Penampungan Sementara (TPS) milik Manajemen Ciputra Residence (CitraRaya) bersiap bertransformasi menjadi fasilitas pengelolaan sampah dengan metode controlled landfill. Metode ini dinilai lebih teratur, terkontrol, dan ramah lingkungan untuk menangani timbulan sampah yang ada.
Selama ini, pengelolaan sampah TPS CitraRaya Tangerang dilakukan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, khususnya dalam pengangkutan sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jariwaringin, Mauk.
General Manager Estate Management PT Ciputra Residence (CitraRaya), Meita Mediawati, mengatakan bahwa rencana penerapan metode controlled landfill telah disusun sejak 2025 dan kini memasuki tahap persiapan lelang.
Selain menerapkan controlled landfill untuk menangani sampah eksisting, pihak pengelola juga menyiapkan sejumlah metode pengolahan lain. Sampah organik akan dikelola menggunakan maggot (larva BSF) serta diolah menjadi kompos.
Sementara itu, sampah baru yang masuk direncanakan akan diolah dengan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang masih dalam tahap pembangunan.
Meita menjelaskan, karena pengelolaan ini menggunakan dana swasta, implementasinya akan dilakukan secara bertahap. Ke depan, TPS ini diharapkan mampu menjadi tempat pengolahan sampah terpadu berbasis masyarakat dengan konsep reduce, reuse, recycle (TPST3R).
“Penanganan sampah menjadi konsen kami. Kami berharap, pengelolaan sampah mengunakan metode controlled landfill ini, bisa menjadi solusi dalam menanggani persoalan sampah, terutama di lingkungan CitraRaya,” ujar Meita Mediawati, Selasa 21 April 2026.
Terkait penumpukan sampah yang saat ini terjadi di TPS CitraRaya, Meita menyebut kondisi tersebut merupakan akumulasi selama kurang lebih sembilan tahun.
Hal itu terjadi akibat ketidakseimbangan antara volume sampah harian dengan kapasitas pengangkutan armada DLHK Kabupaten Tangerang.
Sementara itu, konsultan yang ditunjuk CitraRaya, Budiartho Saada, menjelaskan bahwa metode controlled landfill merupakan solusi transisi dari sistem open dumping menuju pengelolaan sampah yang lebih modern dan terstandar.
Menurutnya, metode ini memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya lebih higienis dan sehat. Sampah akan ditimbun dan ditutup tanah secara berkala sehingga mampu mengurangi bau tidak sedap serta menekan perkembangbiakan hama seperti lalat, tikus, dan nyamuk.
Selain itu, controlled landfill juga dinilai lebih aman bagi lingkungan karena dilengkapi sistem pengelolaan air lindi (leachate) dan drainase yang baik.
Sistem ini mencegah pencemaran air tanah, serta dilengkapi saluran pembuangan gas hasil pembusukan untuk mengurangi risiko ledakan maupun polusi udara.
Dari sisi efisiensi, metode ini memungkinkan pemanfaatan lahan yang lebih optimal. Sampah diratakan dan dipadatkan menggunakan alat berat sehingga volume menjadi lebih kecil dan daya tampung lahan lebih panjang dibandingkan metode pembuangan konvensional.
“Metode ini relatif lebih mudah diterapkan dan ekonomis, dengan biaya operasional lebih rendah serta teknologi yang tidak terlalu kompleks. Sangat cocok untuk daerah yang memiliki keterbatasan anggaran maupun sumber daya manusia,” jelas Budiartho.
Ia menambahkan, dokumen lelang proyek saat ini telah disusun dan direncanakan akan masuk tahap lelang pada Mei 2026. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur pendukung seperti sistem drainase, instalasi pipa air lindi, dan saluran gas dapat segera dimulai.
“Target kami, Agustus 2026 ini sudah berjalan. Mudah-mudahan cuaca mendukung sehingga proyek dalam menyelesaikan tahapan-tahapan seperti sistem drainase, termasuk instalasi pemasangan pipa pengumpul air lindi dan saluran gas, tidak menemui banyak kendala. Karena, kendala paling utama ini memang kalau cuaca hujan,” tandasnya.

