Tangerangupdate.com – Jika menelusuri akar pemikiran di balik Revolusi Islam Iran, sulit untuk menafikan bahwa peristiwa besar itu tidak lahir dari satu tokoh tunggal. Revolusi tersebut justru merupakan hasil pertemuan tiga arus pemikiran yang berbeda namun saling melengkapi: gagasan revolusioner dari Ali Shariati, fondasi teologis yang kokoh dari Murtadha Muthahhari, serta kepemimpinan politik dan karisma massa dari Ruhollah Khomeini. Ketiganya tidak hanya berperan sebagai individu, tetapi sebagai representasi dari tiga kekuatan sosial: intelektual, ulama, dan gerakan massa.
Tiga Arus Pemikiran yang Melahirkan Revolusi Iran
Dalam pandangan saya, Syariati adalah sosok yang terlebih dahulu menyalakan api kesadaran revolusioner di tengah generasi muda Iran. Ia berhasil mengartikulasikan agama bukan sekadar sebagai ritual spiritual, melainkan sebagai energi sosial yang mampu membebaskan manusia dari penindasan. Melalui ceramah dan tulisannya, Syariati menafsirkan kembali sejarah Islam, khususnya tradisi Syiah, sebagai narasi perjuangan melawan ketidakadilan. Tokoh-tokoh seperti Imam Husain ia tampilkan sebagai simbol perlawanan terhadap tirani, sehingga agama tidak lagi dipahami secara pasif, melainkan sebagai panggilan untuk melawan struktur kekuasaan yang menindas. Gagasan ini sangat kuat resonansinya di kalangan mahasiswa dan kaum terdidik Iran pada masa itu, yang mulai melihat rezim sebagai bentuk ketidakadilan struktural.
Sementara itu, Muthahhari memainkan peran yang berbeda tetapi sangat penting. Jika Syariati menyalakan kesadaran revolusioner, maka Muthahhari memberikan fondasi intelektual dan teologis agar gerakan tersebut tidak kehilangan arah. Sebagai seorang ulama sekaligus filsuf, ia berusaha menjembatani antara pemikiran Islam klasik dengan tantangan modernitas. Muthahhari menegaskan bahwa revolusi yang lahir dari nilai-nilai Islam harus memiliki kerangka pemikiran yang matang, bukan sekadar emosi sosial atau kemarahan terhadap rezim. Ia berupaya memastikan bahwa gerakan perlawanan tetap memiliki legitimasi keagamaan yang kuat dalam tradisi Syiah, sehingga tidak mudah dipatahkan oleh kritik bahwa revolusi hanya merupakan gerakan politik semata.
Di atas dua arus pemikiran itu, muncul Khomeini sebagai figur yang mampu mengkonsolidasikan seluruh energi sosial tersebut menjadi gerakan politik yang nyata. Dengan karisma dan kepemimpinan religiusnya, Khomeini berhasil menyatukan berbagai kelompok yang sebelumnya bergerak dalam ruang masing-masing: ulama, mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat kelas bawah. Ia mampu menerjemahkan gagasan revolusioner yang berkembang di ruang intelektual menjadi gerakan massa yang terorganisir. Dalam momentum sejarah yang tepat, kepemimpinan Khomeini berhasil menggulingkan monarki yang dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlavi, sebuah rezim yang selama puluhan tahun memerintah Iran dengan dukungan kuat dari kekuatan Barat.
Warisan Revolusi dan Konflik yang Berlanjut
Hari ini ketegangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat terus berlangsung dan kerap dipahami sebagai konflik geopolitik biasa di kawasan Timur Tengah. Namun dalam pandangan saya, melihatnya semata sebagai persoalan strategi militer, keamanan regional, atau rivalitas negara akan membuat kita kehilangan konteks yang lebih dalam. Konflik tersebut sesungguhnya juga merupakan kelanjutan dari warisan ideologis yang lahir dari Revolusi Islam Iran.
Sejak revolusi itu berhasil menggulingkan rezim monarki Mohammad Reza Pahlavi, Iran tidak hanya mengubah sistem pemerintahannya, tetapi juga membangun identitas politik baru yang sangat dipengaruhi oleh semangat perlawanan terhadap dominasi kekuatan besar. Dalam narasi revolusi, Amerika sering dipandang sebagai simbol hegemoni global, sementara Israel ditempatkan sebagai representasi ketidakadilan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Karena itu, sikap konfrontatif Iran terhadap keduanya bukan sekadar kebijakan luar negeri yang pragmatis, tetapi juga bagian dari identitas ideologis yang dibentuk sejak awal revolusi.
Namun realitas politik dunia hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan situasi revolusioner pada akhir 1970-an. Idealisme revolusioner yang dulu membakar semangat perlawanan kini harus berhadapan dengan realitas global yang penuh kompromi dan tekanan. Iran menghadapi sanksi ekonomi internasional, dinamika kekuatan regional, serta pertarungan pengaruh yang melibatkan banyak aktor di Timur Tengah. Dalam situasi seperti ini, negara tidak bisa hanya bergerak berdasarkan idealisme ideologis, tetapi juga harus mempertimbangkan kalkulasi kekuasaan dan kepentingan nasional.
Pengaruh Tiga pemikir Utama
Di titik inilah kita melihat bagaimana Iran hari ini merupakan hasil dialektika antara dua kekuatan besar: idealisme revolusi yang diwariskan oleh pemikir seperti Ali Shariati dan Murtadha Muthahhari, serta realitas politik negara yang dibangun oleh kepemimpinan Ruhollah Khomeini dan para penerusnya. Idealisme revolusi memberi arah dan identitas, sementara realpolitik memaksa negara untuk menavigasi kepentingan yang jauh lebih rumit dalam sistem internasional.
Jika ditarik lebih jauh, konflik Iran dengan Israel dan Amerika saat ini bukan hanya persoalan militer atau keamanan kawasan. Ia juga merupakan pertarungan narasi: antara revolusi yang berusaha mempertahankan identitas ideologisnya dan sistem internasional yang didominasi kekuatan besar. Dalam konteks inilah kita melihat bahwa gagasan para pemikir revolusi Iran hampir setengah abad lalu tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Ia terus hidup dalam cara Iran memandang dunia, menentukan sikap politiknya, dan memposisikan diri dalam percaturan global hingga hari ini.
Penulis: Ahmad Priatna S.T., S.H
Disclaimer: artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
