Tangerang Update
Masuk
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
  • Kab Tangerang
  • Kota Tangsel
  • kabupaten tangerang
  • tangerang selatan
  • tangsel
  • Nasional
Jumat, 23 Oktober 2026
Tangerang UpdateTangerang Update
Search
  • Home
  • Tangerang Raya
    • Kota Tangsel
    • Kota Tangerang
    • Kab Tangerang
  • Banten
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
  • Metropolitan
  • Olahraga
  • Ragam
  • Daerah
  • Opini
Punya Akun? Masuk
Follow US
© 2025 Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Opini

Melampaui Kebaya dan Seremonial, Menghidupkan Gagasan dalam ‘Panggil Aku Kartini Saja’

Redaksi TU
Redaksi TU
Senin, 21 April 2025 | 09:24 WIB
Ahmad Priatna, Mahasiswa Universitas Pamulang (Foto: Dok. Pribadi)
Ahmad Priatna, Mahasiswa Universitas Pamulang (Foto: Dok. Pribadi)
SHARE

- Advertisement -
Ad imageAd image

Tangerangupdate.com – Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia mengenang sosok Raden Ajeng Kartini, perempuan dari Jepara yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan. Namun, pertanyaan pentingnya apakah peringatan Hari Kartini selama ini sudah benar-benar menangkap esensi perjuangannya? Atau justru terjebak dalam rutinitas simbolik yang kian menjauh dari semangat kritis yang pernah ia kobarkan?

Di tengah hingar-bingar peringatan Hari Kartini yang identik dengan lomba berkebaya, pawai anak-anak, dan bunga-bunga retorika tentang “perempuan hebat”, kita perlu berhenti sejenak dan menengok kembali Kartini dari perspektif yang lebih jujur dan mendalam. Dalam hal ini, novel Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer menjadi jendela penting yang membuka sisi lain Kartini: sebagai pemikir, pemberontak kultural, dan pelopor kesadaran kebangsaan !!

Novel ini bukan sekadar biografi, tapi semacam kritik sosial yang dibungkus dalam narasi sejarah. Pramoedya menghadirkan Kartini bukan sebagai ikon yang ditinggikan tanpa cela, melainkan manusia seutuhnya—dengan kegelisahan, kemarahan, dan hasrat besar untuk mengubah dunia. Ia dipotret sebagai perempuan muda yang gelisah melihat bangsanya dijajah, perempuannya dipasung adat, dan rakyatnya dicekik kebodohan.

BACA JUGA:  Tantangan Partai Politik Atas Putusan MK NO. 135/PUU-XXII/2024

Kartini dalam buku ini tidak hanya memperjuangkan nasib perempuan, tetapi juga melawan feodalisme bangsanya sendiri dan kolonialisme Belanda. Ia mengkritik ketidakadilan dari berbagai arah tentang sistem pendidikan yang diskriminatif, budaya patriarki yang menindas, hingga pemerintah kolonial yang memelihara kebodohan sebagai alat kontrol. Di tengah keterbatasan akses dan tekanan adat, Kartini memilih jalan menulis—mengirim surat-surat panjang yang kemudian menjadi senjata gagasan.

Dan di sinilah refleksi penting Hari Kartini menemukan relevansinya. Bahwa emansipasi bukan sekadar soal akses perempuan ke ruang publik, melainkan keberanian untuk berpikir bebas, menggugat ketimpangan, dan memperjuangkan perubahan. Bahwa Kartini tidak hanya layak dikenang karena kebayanya, tapi karena pikirannya yang melampaui zamannya.

Dalam konteks hari ini, semangat Kartini perlu dibaca ulang dalam cahaya tantangan kontemporer. Ketika kekerasan terhadap perempuan masih marak, ketika akses pendidikan dan ekonomi masih timpang, dan ketika suara perempuan masih sering dibungkam, maka tugas kita bukan sekadar memperingati Kartini, tetapi melanjutkan perjuangannya. Bukan dengan mengenangnya sebagai simbol, tapi dengan menghidupkan pikirannya dalam kebijakan, gerakan sosial, dan kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:  Ciputat: Pusat Kota yang Terlupakan dalam Bayang-Bayang Kemewahan Swasta

Sebagaimana judul novel Pramoedya yang tegas menyatakan “Panggil Aku Kartini Saja”, kita diajak untuk tidak menempatkan Kartini di menara gading, tapi menjadikannya bagian dari pergulatan hidup yang nyata. Kartini tidak ingin disembah. Ia ingin didengar. Dan lebih dari itu—dipahami dan dilanjutkan perjuangannya.

Penulis: Ahmad Priatna, Mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam)

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pembaca Tangerangupdate.com. Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

TAGGED:Hari KartiniOpini
Bagikan:
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

– Advertisement –

IMG-20260816-WA0001
IMG-20260816-WA0000
IMG-20260817-WA0000
IMG-20260816-WA0002
IMG-20260816-WA0003
IMG-20260810-WA0002

Terpopuler

Kerap Terjebak Macet di Pamulang? Ternyata Ini Penyebab Arus Siliwangi – Puspitek Tersendat

Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka menyoroti dugaan lambatnya pengundangan sejumlah undang-undang yang telah disahkan DPR. | Dok. Tangerangupdate.com

Rieke Desak Prabowo Evaluasi Birokrasi, Soroti Lambatnya Pengundangan UU

Persidangan Sengketa Masa Jabatan Sekda Tangsel di PTUN Serang / Dok. TU

Feri Amsari Jadi Saksi Ahli dalam Gugatan Perpanjangan Jabatan Sekda Tangsel

Warga Serpong Lagoon membeli air minum galon imbas kasus E.coli. | Dok.TU

Imbas Kasus E. coli, Warga Serpong Lagoon Habiskan Rp200 Ribu Sehari untuk Air Galon

Lokasi : Serpong Lagoon

Kasus Air Tercemar EColi di Serpong Lagoon, Korban Bertambah Jadi 176 Orang

Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan | Dok. Tangerangupdate

Gudang yang Meledak di Pasar Cimanggis, Pemkot Sebut Tak Berizin

Berita Terkait

Opini

Angka di Kertas, Anggota di Parlemen: Ilusi Kesetaraan Gender dalam Hukum Pemilu

Opini

Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Kuantitas Tanpa Kualitas?

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Nikel, Karbon, dan Kuasa: HMI Menggugat Ketimpangan Transisi Energi Global

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

Krisis Ekologi adalah Krisis Kepemimpinan: Perspektif Ekoteosentris HMI

Foto: Elsa Mayori | Dok. Pribadi
Opini

NDP HMI Dan Paradoks Industrialisasi: Meneguhkan Tauhid Sosial Untuk Kedaulatan Ekologi Indonesia

Catatan Kritis Kader HMI untuk Arah Baru Industrialisasi Indonesia | Dok. Pribadi
Opini

Transformasi Hijau-Digital Belum Cukup: Perempuan Harus Masuk Ruang Pengambilan Keputusan

Foto: Ilustrasi/istimewa
Opini

Ketika Kemarahan Mengalahkan Kemanusiaan

Foto: Purwanti,Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang | Dok. TU
Opini

Dosen Juga Perlu Bernapas: Menjaga Jiwa Tetap Sehat Bersama ORKI Tangerang Selatan

Jangan Lewatkan

Foto : Istimewa

Bedolan Pamarayan Kembali Digelar, Bupati Serang Ingatkan Warga Utamakan Keselamatan

Sabtu, 17 Oktober 2026
Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka menyoroti dugaan lambatnya pengundangan sejumlah undang-undang yang telah disahkan DPR. | Dok. Tangerangupdate.com

Rieke Desak Prabowo Evaluasi Birokrasi, Soroti Lambatnya Pengundangan UU

Jumat, 23 Oktober 2026
Lokasi : Serpong Lagoon

Kasus Air Tercemar EColi di Serpong Lagoon, Korban Bertambah Jadi 176 Orang

Jumat, 23 Oktober 2026
Sabak Bernam Parlemen Malaysia yang kritik Prabowo pakai Bahasa Jawa / Dok. Ist

Anggota Parlemen Malaysia Sampaikan Pesan kepada Prabowo Pakai Bahasa Jawa

Kamis, 22 Oktober 2026
Foto: Olah TKP gerai handphone yang dibobol maling di Tigaraksa | Dok. Istimewa

Gerai Handphone di Tigaraksa Dibobol Maling, 41 Handphone dan 3 TV Raib

Sabtu, 17 Oktober 2026
Prose pengupasan atau scraping Jalan Rawa Buntu oleh Bina Marga Tangsel/ Dok. TU

Perbaikan Jalan Rawa Buntu Ditargetkan Rampung Dua Pekan

Selasa, 20 Oktober 2026
Foto: Kepala Kanwil Kemenkum Banten, Hadiyanto | Dok. Tangerangupdate.com

Kemenkum Banten Dorong Mahasiswa Berwirausaha, Perseroan Perorangan Jadi Solusi

Kamis, 22 Oktober 2026
Tangkapan layar sampah di Bantaran Kali Jaletereng di Keluhkan Warga / Dok. TU

Warga Keluhkan Tumpukan Sampah di Bantaran Kali Jaletreng Tangsel

Kamis, 22 Oktober 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Tangerang Update
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
© Tangerang Update. Designed with ❤️ by dezainin.com.
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp