Tangerangupdate.com – Kemacetan panjang, galian jalan yang tak kunjung usai, hingga gangguan teknis kendaraan di kawasan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), mendadak menjadi bahan satire di media sosial.
Fenomena ini mencuat setelah sebuah akun Threads menawarkan jasa pemotretan unik berbayar yang memotret berbagai potret keoleng lalulintas dan infrastruktur di kawasan tersebut.
Akun media sosial @elvierajoesha membuka penawaran jasa foto berbagai kondisi jalan dengan tarif Rp100 ribu per foto. Sejumlah objek yang ditawarkan meliputi kemacetan di atas flyover Ciputat, truk mogok di depan Selapa, antrean kendaraan di depan putaran kompleks Universitas Indonesia (UI), hingga sepeda motor yang mengalami ban kempes akibat ranjau paku.
Tak berhenti di situ, unggahan bernada humor tersebut juga mencakup kondisi galian jalan rutin di depan Selapa, antrean kendaraan di SPBU dekat pasar, hingga promo khusus foto pengendara yang melawan arah di bawah flyover Ciputat bagi 100 pemesan pertama.
Respons warganet terhadap fenomena ini cukup masif. Unggahan tersebut berhasil menyedot perhatian dengan mengantongi ribuan tanda suka (likes), ratusan komentar, serta telah dibagikan ulang lebih dari seribu kali oleh pengguna media sosial.
Ekspresi Frustrasi Warga atas Persoalan Urban
Di balik humor dan lelucon viral tersebut, fenomena ini menggambarkan dinamika persoalan sosial dan mobilitas perkotaan yang berdampak langsung pada kehidupan harian warga. Kemacetan dan buruknya infrastruktur bukan sekadar persoalan teknis lalu lintas, melainkan juga menyita waktu produktif, membengkakkan biaya perjalanan, hingga mengancam keselamatan penglaju.
Menanggapi fenomena viral ini, Peneliti dari Malika for Urban Studies, M. Iqbal, menilai bahwa fenomena humor dan satire di media sosial merupakan bentuk ekspresi sekaligus katarsis sosial masyarakat perkotaan.
“Satire warga di media sosial ini adalah bentuk kompensasi atas frustrasi sosial akibat persoalan mobilitas yang dihadapi berulang kali setiap hari. Ketika ruang publik dan akses transportasi tidak lagi efisien, humor menjadi saluran emosional warga,” ujar M. Iqbal.
Ia menambahkan bahwa respons emosional masyarakat ini harus ditangkap oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan sebagai sinyal untuk mengevaluasi kebijakan dan manajemen infrastruktur.
“Pemerintah dan pemangku kebijakan tidak boleh melihat ini sekadar konten lucu-lucuan semata. Humor ini mencerminkan krisis kenyamanan mobilitas warga. Perlu ada langkah konkret, mulai dari perbaikan pemeliharaan jalan, penataan manajemen lalu lintas, koordinasi proyek infrastruktur agar tidak merugikan pengguna jalan, hingga penegakan hukum lalu lintas secara konsisten,” tegasnya.
Dampak Tak Merata bagi Komuter
Persoalan mobilitas di Ciputat memberikan dampak ketimpangan bagi kelompok masyarakat tertentu. Pekerja harian (commuter), pelajar, pengemudi transportasi publik maupun online, serta masyarakat dengan akses rute terbatas menjadi pihak yang paling dirugikan dari sisi waktu dan biaya.
Meski potret masalah lalu lintas ini sangat familiar di kalangan penglaju Ciputat–Jakarta, kondisi lapangan dari setiap objek foto yang ditawarkan tetap membutuhkan verifikasi mendalam.
Penanganan komprehensif dari instansi terkait, seperti Dinas Perhubungan dan Dinas PUPR Tangsel maupun Kementrian terkait sangat dinantikan untuk memastikan persoalan infrastruktur dan mobilitas warga dapat terselesaikan secara bertahap.
Reporter: Juno






