Tangerangupdate.com – Sebuah video amatir yang memperlihatkan ikan mati dalam jumlah cukup banyak terdampar di pesisir Pantai Tanjung Kait, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, ramai beredar di media sosial. Video tersebut disebut direkam pada Rabu, 11 Februari 2026.
Dalam rekaman itu, bangkai ikan terlihat berserakan di bibir pantai dan menjadi perhatian warga sekitar. Ikan-ikan berukuran kecil seperti cendro, tembang, dan belanak tampak mengapung dan terdampar di sepanjang garis pantai. Sementara ikan berukuran besar tidak terlihat terdampak.
Video tersebut salah satunya diunggah oleh akun Facebook bernama Ucek Kades Boncos. Dalam narasinya, perekam video menyebut peristiwa itu terjadi di perairan Tanjung Pasir dan menduga kematian ikan berkaitan dengan limbah yang masuk ke aliran sungai.
“Ini di laut Tanjung Pasir, ikannya pada mati. Mungkin karena pengaruh Kali Cisadane ya. Kemarin kemasukan limbah,” ucap pemilik akun dalam video tersebut.
Ia juga mengimbau warga, khususnya pemilik tambak atau empang, untuk meningkatkan kewaspadaan. “Harap hati-hati juga kawan-kawan yang punya empang. Takutnya air limbahnya masuk,” katanya.
Beredarnya video tersebut memicu kekhawatiran masyarakat terkait kemungkinan pencemaran perairan di wilayah pesisir utara Kabupaten Tangerang.
Sejumlah warganet mengaitkan peristiwa itu dengan dugaan dampak pencemaran aliran sungai yang bermuara ke laut.
Kematian ikan ini diduga berkaitan dengan kebakaran gudang insektisida di kawasan Pergudangan Taman Tekno, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Kebakaran tersebut menyebabkan ribuan kilogram cairan pembasmi hama terbawa aliran sungai hingga ke muara dalam jumlah besar.
Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi terkait mengenai penyebab pasti kematian ikan di kawasan tersebut. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat belum merespon upaya konfirmasi yang kami lakukan.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi meminta agar warga untuk tidak memanfaatkan ikan tersebut untuk bahan konsumsi.
“Untuk wilayah pesisir jika memang ada dan diduga ada yang tercemar zat kimia, maka sebaiknya masyarakat jangan konsumsi ikan tersebut,” katanya saat dihubungi, Kamis 12 Februari 2026.
Meski demikian, ia menambahkan bahwa dugaan pencemaran masih perlu dibuktikan melalui uji laboratorium.
Menurutnya, jika memang terdapat kandungan pestisida yang terbawa ke laut, secara teori zat tersebut dapat mengalami perubahan ketika bercampur dengan air laut.
“Seharusnya ketemu air garam malah pestisidanya akan menggumpal,” tandasnya.

